Tafsir tentang Bagaimana Menjalankan Puasa di Negara yang Siangnya 20 Jam

149
Pasang Iklan Murah
Dr H Tafsir MAg sedang memberikan ceramah (M. Yazid N/ PWMU.CO)

PWMU.CO – Beragama itu tidak pernah lepas dari tiga acuan, syariah, fiqih, dan budaya agama.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Dr H Tafsir MAg pada acara Pengajian Triwulan dan Halal bi Halal Keluarga Besar Muhammadiyah se-Kecamatan Manyar di Masjid At Taqwa Pimpinan Ranting Muhammadiyah Perumahan Ponganan Indah Manyar Gresik, Selasa (25 Juni 2019) malam.

Menurut Tafsir ketiga acuan itu punya makan berbeda. “Kalau syariah berupa larangan, perintah, dan petunjuk. Kalau fiqih adalah pemahaman ulama terhadap syariah. Sedangkan budaya agama adalah kegiatan yang berkaitan dengan agama yang tidak bisa dihindari,” jelasnya.

Dia mencontohkan syariah zakat fitrah pada zaman Nabi SAW adalah kurma, gandum, dan anggur. Sedangkan zakat fitrah di Indonesia berupa beras sebagai makanan pokok. “Zakat fitrah berupa beras ini yang disebut fiqih atau tafsiran yaitu Islam dipandang dan dipahami sesuai ruang dan dan waktu,” ujarnya.

iklan

Demikian juga puasa di Indonesia kurang lebih 13 jam dimulai terbit fajar hingga terbenam matahari. “Lalu bagaimana cara berpuasa di dekat kutub utara misalnya di negara Islandia yang siangnya 20 jam dan malamnya hanya 4 jam,” tanyanya retoris.

Maka, jelasnya, menurut fiqih ada dua yaitu berpuasa mengikuti negara terdekat yang banyak Muslimnya. Dan yang kedua berpuasa ikut di negara di mana Islam d turunkan yaitu Arab Saudi.

Menyinggung soal halal BI halal, Tafsir mengatakan, “Selesai puasa selama sebulan kita akan kembali suci, karena kita berkeyakinan Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita tanpa perlu konfirmasi,” kata dia.
Tetapi, sambungnya, suci kepada sesama manusia, maka kedua belah pihak harus berbaikan, karena itu kemudian ada tradisi halal bi halal, yakni saling menghalalkan.

“Seharusnya begitu ada konflik antarsesama langsung halal bi halal tanpa menunggu bulan Syawal. Ttetapi biasanya berat dan sulit dilakukam. Tradisi halal bi halal inilah yang disebut budaya agama, karena dengan budaya maka agama menjadi lebih semarak,” urainya.

Sepanjang ceramah, Tafsir banyak memberikan joke-joke segar yang bikin jamaah gerr-gerran. (M. Yazit N)