Budaya Patriarki di Indonesia Ternyata Warisan Kolonial Belanda

75
Pasang Iklan Murah
Dinda Lisna Amilia (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Mantan jurnalis Jawa Pos Dinda Lisna Amilia menyatakan isu feminisme kurang bisa diterima di Indonesia dimungkinkan karena budaya patriarki telah tertanam di benak masyarakat selama 350 tahun atau sejak era penjajahan.

Hal itu dia sampaikan dalam acara bedah buku karya Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LPP) Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA) Alimatul Qibtiyah PHD berjudul Feminisme Muslim di Indonesia.

iklan

Acara bedah buku yang diikuti oleh ratusan peserta itu diselenggarakan oleh LPP Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jatim di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Kamis (27/6/19).

Dinda menerangkan, sejatinya citra perempuan Nusantara pada masa kerajaan sangatlah perkasa. Ia mencontohkan Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani dan Kusumawarddhani sebagai raja perempuan Kerajaan Majapahit.

“Keduanya ada sosok perempuan perkasa yang menjadi raja perempuan di Majapahit,” ujarnya. Tapi, terangnya, begitu kolonial Belanda datang menjajah Indonesia mulai muncul patriarki yang menjadi budaya sehingga mereduksi keperkasaan para perempuan Indonesia.

Parahnya lagi, budaya patriarki itu ditanam oleh kompeni di benak masyarakat Indonesia selama 350 tahun, alias sejak Belanda menjajah Indonesia.

“Jadi wajar apabila isu feminisme ini kurang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Ya, karena budaya patriarki ini ditanam terlalu kuat di masyarakat,” ungkapnya.

Bahkan, Dinda menyebutkan, dibanding dengan negara Asean seperti Thailand atau Filipina, isu feminisme yang terjadi di Indonesia masih sangat kompleks.

“Isu feminisme di Indonesia baru sebatas kekerasan seksual. Tapi di negara lain isunya sudah kesetaraan gaji antara laki-laki dan perempuan, atau lainnya,” jelasnya.

Dinda lalu menceritakan pengalamannya mengasuh kolom khusus perempuan For Her dan Pendidikan di koran Jawa Pos. Ia menyebut, problem perempuan Indonesia sejatinya adalah belum munculnya pemahamam secara mendalam tentan peran ganda perempuan di masyarakat.

“Maka dari itu perlu edukasi. Salah satu bentuk edukasi yang kita lakukan adalah menampilkan sosok perempuan inspiratif. Kita ingin memberikan informasi tentang wanita sukses dalam karir dan rumah tangga,” paparnya.

Di akhir paparannya menilai buku karya Alimatul itu penuh dialektika tentang isu feminisme di Indonesia. “Banyak nilai gander dalam buku ini,” tandasnya. (Aan)