Mengapa KH Ahmad Dahlan Dirikan Sekolah sebelum Muhammadiyah, Ini Enam Tugas Guru Menurut Alquran

375
Pasang Iklan Murah
Dra Hj Rukmini sedang memberikan kajian tentang tugas risalah untuk setiap pendidik yang berada di amal usaha Aisyiyah (Estu Rahayu/PWMU.CO))

PWMU.CO – Untuk mengubah pola pikir seseorang itu harus melalui pendidikan. Hal itu dikatakan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur Dra H Rukmini Amar dalam acara Syawalan/Silaturrahim 1440 H dan Gebyar Milad 1 Abad Aisyiyah dan TK Aisyiyah, Sabtu (29/6/19).

Bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Jalan Permata 7 Graha Bunder Asri, kegiatan itu dihadiri Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA), Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA), Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA), Ikatan Guru Taman Pendidikan Alquran (IGTPA), dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Gresik. Hadir pula perwakilan Lazismu, TB Care, dan Ketua Majelis Dikdasmen PWA Jawa Timur Siti Asma.

iklan

Dalam pengajiannya, Rukmini menjelaskan, KH Ahmad Dahlan sepulang dari Makkah mendirikan sekolah dulu, baru organisasi Muhammadiyah. “Karena hanya dengan melalui pendidikan, perilaku keislaman dan keagamaan bisa diubah. Dan pendidikan yang paling mendasar adalah pra-sekolah atau TK,” jelasnya.

Ia kemudian memaparkan tugas risalah yang diberikan kepada rasul dan umat pengikutnya yang terdapat dalam Alquran Surat Al Ahzab ayat 45-48.

Pertama, syahidan yaitu menjadi saksi. “Ini ada pada lambang Muhammadiyah, yaitu dua kalimat syahadat. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul atau utusan Allah,” jelasnya.

Kedua, wabasyiran yaitu pemberi kabar gembira. “Berilah kabar gembira dengan Islam. Jangan ditakut-takuti. Itu yang dilakukan Rasulullah pada periode Makkah,” kata dia. Menurutnya, anak perlu diberi kegembiraan, terutama di TK. “Misalkan dengan memberi mainan sehingga anak senang,” ujar ibu dua putri tersebut.

Ketiga, wanadliran yaitu memberikan peringatan. “Ciptakan suasana saling mengingatkan dan memahami di antara anak-anak,” tuturnya.

Keempat, wadaaiyan ila Allah artinya penyeru kepada Allah. “Ini berarti mengajak anak mengenal Allah,” ujarnya. Hal itu bisa dilakukan melalui pembiasaan, seperti masuk kamar mandi menggunakan kaki kiri, tidak boleh berbicara atau berteriak. “Termasuk anak laki-laki. Makanya guru TK juga perlu yang laki-laki. Karena anak yang yatim perlu sosok seorang ayah,” pesannya.

Kelima, wasirojan munira artinya cahaya yang menerangi. “Makanya di Muhammadiyah tokohnya disebut sang pencerah, karena ayat ini, memberikan cahaya yang bisa menerangi,” ujarnya. Menurutnya, tugas pendidik itu mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya. “Mina addulumati ila nuri,” tegasnya.

Keenam, wabasyiril mukminin yang berarti gembirakanlah orang beriman. “Sehingga orang tercerahkan sejak dari TK, SD Aisyiyah. Yang dimaksud orang yang beriman adalah orang yang melaksanakan semua tugas risalah di atas,” paparnya. (Estu Rahayu)

Peserta Silaturrahmi/Syawalan 1440 H di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik. (Estu Rahayu/PWMU.CO)