Jangan Membuat Guru Nyaman, Satu dari Empat Pesan Kepala Spemdalas pada Hamas School

125
Pasang Iklan Murah
Hari Widianto saat memberikan buku antologi puisi siswa dan buku salah satu guru pada Nukhan sebagai kenang-kenangan untuk Hamas School. (Dewi/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kunjungan SMP Muhammadiyah 13 Campurejo (Hamas School) ke SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas), sukses dilaksanakan. Ada 10 guru Hamas School dan 7 guru Spemdalas yang menghadiri pertemuan di Ruang Excellent Room, Selasa (2/7/19).

“Hamas School merupakan salah satu sekolah mitra Spemdalas. Kami berharap melalui program ini, selain sebagai ajang silatrrahmi juga menjadi ikhtiar untuk menyusun perangkat akreditasi, dan charger semangat dari luar untuk menyiapkan pembelajaran lebih baik di tahun ajaran baru,” ungkap Nurul Wakhidatul Ummah SKom, Kepala Hamas School.

iklan

Kepala Spemdalas Hari Widianto MPd bercerita Spemdalas lahir di tahun 2001, sedangkan Hamas lahir tahun 2017. “Kami sudah remaja, Jenengan masih bayi. Tapi bayi ajaib,” ujarnya diikuti tawa seluruh peserta.

Dia menjelaskan, meskipun bayi tapi mobilitasnya tinggi, inovasinya juga luar biasa, jadi tidak bisa diremehkan. “Bayi yang nantinya akan menjadi sekolah yang luar biasa,” ujarnya memberi semangat.

Sama halnya dengan Hamas School, tuturnya, kami juga sama. Guru Spemdalas juga mayoritas berusia muda. Yang usia sekitar 40-50 tahun hanya beberapa saja. “Sekolah yang dikelola oleh guru-guru muda itu biasanya mobilitasnya tinggi, inovasinya juga luar biasa, keinginan untuk maju juga luar biasa,” ujarnya.

Selain motivasi, beberapa pesan juga yang disampaikan oleh Kepala Spemdalas yang sudah menjabat empat tahun ini. Pertama, guru harus responsif terhadap segala perubahan. “Majelis menyampaikan bahwa kita harus responsif, responsif terhadap segala perubahan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kami tidak hanya dikunjungi, tapi juga mengunjungi beberapa sekolah. “Kami terus belajar, karena tidak ada kata sempurna pada sebuah urusan pendidikan atau penugasan,” terangnya.

Kedua, jangan pernah mencampurkan urusan pribadi dengan urusan sekolah. “Apalagi upload dagangan dan update status pribadi ketika Jenengan masih ada jam di sekolah,” tegasnya.

Dia melanjutkan, kita boleh mengurusi bisnis, tapi di luar jam sekolah. Malam hari misalnya. Waktu senggang ketika jeda mengajar pun tidak boleh digunakan untuk membicarakan urusan pribadi.

Ketiga, jangan pernah khawatir guru tidak mendapat pekerjaan. “Guru itu sampai di rumah, kalau masih mau, banyak itu yang bisa dikerjakan. Jadi gak ada istilah, nek tak leboni isuk engko lapo (Kalau masuk pagi mau apa). Nah berarti atasan tidak memebrikan sebuah penugasan. Kalau atasannya diem ya bawahannya diem,” selorohnya.

Ketika tidak ada jam mengajar, sambungnya, pergunakan waktu tersebut untuk menyusun perangkat pembelajaran, juga menyiapkan media pembelajaran. “Jadi, tidak ada istilah jamkos (jam kososn). Tidak ada waktu untuk tidak bekerja,” tambahnya.

Keempat, jangan pernah membuat guru nyaman. “Jangan pernah membuat guru kita nyaman di sekolah. Hukumnya haram!” ujarnnya diikuti tawa peserta.

Dia menjelaskan, guru harus dikasih tugas yang banyak biar berat. Kita harus merasa tidak nyaman karena sebuah tuntutan. “Ini pembelajaran dari majelis, dan kami tularkan ke Jenengan. Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi kita semua. Hal ini juga, ujarnya, mengingatkan kami sebenarnya tidak pernah merasa nyaman dengan keadaaan.

“Bahwa kita harus tetap berjuang lebih keras lagi, karena persaingan makin tahun makin berat, dan masyarakat menuntut semakin banyak,” tutupnya saat closing ceremony. (Fillah)