Wagub Jatim pada PAUD Al Birru Nasyiah: Bikin Model Pembelajaran Berbasis Internet yang Aman dan Ramah Anak

84
Pasang Iklan Murah
Emil Elestianto Dardak menerima cinderamata dari Ketua Umum Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur Aini Sukriyah. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong Nasyiatul Aisyiyah mengembangkan model Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang adaptif terhadap era industri 4.0.

“Nasyiah perlu merevolusi pendidikannya mengikuti era 4.0. Maka, jangan ngomong pendidikan 4.0 kalau ternyata pedoman menghadapi era digital saja kita tidak punya,” paparnya ketika Seminar Nasional PAUD.

iklan

Agenda tersebut diadakan oleh Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) di Aula Gedung Graha Wiyata Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jalan Ketintang Wiyata No15 Surabaya, Jumat (5/7/19).

Emil menyebutkan, salah satu alasan anak perlu dikenalkan dan disiapkan sejak dini untuk mengenal dunia maya atau internet adalah agar anak-anak tidak gagap ketika terjun menghadapinya. “Tak kalah penting negara kita tidak semakin jauh tertinggal dengan negara lainnya di bidang IT,” ujarnya.

Mantan Bupati Trenggalek itu berharap, supaya kemajuan teknologi dan informasi tidak membuat peran dan produktivitas manusia tergantikan oleh mesin. Sebaliknya, kemajuan ini harus mampu meningkatan peran dan produktivitas manusia. Tak terkecuali guru-guru PAUD.

“Harus diakui masih ada ketakutan dari orangtua ketika anak-anaknya aktif bersentuhan dengan gadget dan internet. Para orangtua masih menganggap internet sebagai sesuatu yang negatif,” terangnya.

Maka, kata Emil, PAUD Al Birru Nasyiah diharapkan bisa membuat model pembelajaran anak berbasis internet yang aman dan ramah terhadap anak. “Silahkan anak kita dikenalkan dengan gadget maupun internet. Tapi fungsinya harus terbatas. Kalau dibuat unlimited akan itu sangat beresiko,” tegasnya.

Ia menyebutkan, selain adaptif dengan internet dan hand pohon, PAUD Kembalikan karakter. Salah satunya menjadikan anak-anak lebih kreatif dan bisa bersosiali dangan baik. Sebaliknya, jangan mengajarkan anak-anak denga kompetensi yang sifatnya teknis.

“Kita harus menjadikan kreativitas menjadi core atau ini. Karena inti dari era industri 4.0 adalah kreatifitas. Itu pula yang membedakan kita dengan mesin,” jelasnya.

Mu’ti menegaskan, anak butuh dilatih jatuh dan bangun lagi sebagai bagian dari model pembelajaran penguatan pendidikan karakter (PPK).

“Kita dividual creativity perlu. Tapi kreativitad berjamash juga diperlukan. Ayo jadikan PAUD ramah terhadap anak. Juga bagaimana gadget bisa digunakan untuk pembelajaran anak,” tandasnya. (Aan)