Zainuddin Maliki: Bangsa Maju Modal Utamanya Social Capital Bukan Duit

66
Pasang Iklan Murah
Prof Dr Zainudin Maliki MSi mengisi ceramah di Musycab PCPM GKB. (Anam/pwmu.co)

PWMU.CO – Bangsa yang maju tidaklah dikarenakan memiliki financial capital (uang) akan tetapi yang memiliki social capital.

Itu disampaikan oleh Prof Dr Zainudin Maliki MSi dalam Musyawarah Cabang V Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB) di Cordoba Convention Hall SMA Muhammadiyah 10 GKB, Rabu (10/7/19).

iklan

Menurut Prof Zainudin, negara maju dibangun atas dasar trust rakyat dengan pemerintah. Trust adalah dipercaya karena memiliki integritas dan kapasitas. Melakukan tindakan jujur saja tidak bisa dipercaya kalau tidak didasari dengan integritas dan kapasitas.

”Sekarang ini di Indonesia seakan tidak perlu integritas dan kapasitas akan tetapi berdasarkan isi tas,” ujarnya disambut tawa peserta.

Menurut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya ini, bagian dari integritas adalah legitimasi, semangat, dan kerja keras.

”Kesungguhan memperjuangkan cita-cita adalah bagian dari integritas. Cara atau metode dalam mencapai cita-cita Pemuda GKB adalah termasuk salah satu integritas,” ujarnya.

Selain integritas yang perlu dikembangkan adalah kapasitas. ”Kemampuan seseorang akan memengaruhi rasa trust kepada orang tersebut,” terangnya.

Indonesia adalah salah satu negara yang masuk G20. Negara G20 adalah negara yang bisa memengaruhi perekonomian dunia. ”Negara kita masuk G20 bukan karena manusianya akan tetapi sumber daya alamnya yang melimpah,” terangnya.

Soal kualitas manusia ini diperparah dengan reading habit orang Indonesia rendah. Indonesia, sambung dia, menempati rangking 62 dari 64 negara. ”Kalah dengan Vietnam yang menempati posisi 8. Padahal tahun 1970-an keadaan Vietnam masih kacau,”terangnya.

Universitas terbaik di Indonesia adalah Universitas Indonesia yang menempati rangking 296 universitas terbaik di dunia. ”Bandingkan dengan Malaysia yang memiliki lima universitas yang menempati posisi seratusan,” pungkasnya. (Khoirul Anam)