Di Depan Wali Murid Smamsatu, Asisten Staf Khusus Presiden Ini Sampaikan Empat Cara Membangun Hubungan Baik dengan Anak

279
Pasang Iklan Murah
Herman Dody Isdarmadi dalam acara Parenting Education Smamsatu. (M. Ali Safa’at/PWMU.CO)

PWMU.CO – Asisten Staf Khusus Presiden Herman Dody Isdarmadi MNLP CHt memberikan materi Parenting Education pada para wali murid baru SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, di Aula Masjid Agung Gresik Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Gresik, Sabtu (20/7/19).

Selain dihadiri oleh wali murid kelas X, kegiatan ini diikuti para guru dan karyawan Smamsatu. Tampak pula hadir para undangan seperti Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Dr Taufiqullah, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik Dra Uswatun Hasanah, Ketua Majelis Dikdasmen PDM Gresik Ir Dodik Priambada, dan Kepala Humas Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik dr Farida Nuraini.

Dimoderatori Wiwit Rahmya Rosintan MPsi, Psi—guru Bimbingan dan Konseling Smamsatu—Dody mengawali materi dengan pertanyaan, “Apa yang kita lakukan untuk mempengaruhi anak kita?”

Hadirin menjawab, ”Komunikasi.”

“Lalu apa sih komunikasi itu?”

Salah seorang menjawab, ”Bertukar pikiran dua arah.”

Begitulah cara Founder, CEO, dan NLR Hypno Therapist di Quantum Inspirasi itu menghidupkan forum. “Eman kalau ceramah terus. Anda ngantuk, pulang gak dapat apa-apa. Kalau memberi motivasi di perusahaan tiga jam biasanya dapat Rp 30 juta. Kalau untuk sekolah terbaik di Gresik ini gratis. Nanti saya saya sumbangkan untuk pembangunan gedung barunya Smamsatu,” ujarnya. Hadirin pun bertepuk tangan.

Anggota Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menjelaskan, anak zaman now berbeda dengan kita dulu, sehingga masalah yang pertama muncul adalah komunikasi.

“Komunikasi adalah menyampaikan pesan untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kalau kita ingin anak kita sukses maka kita harus mempengaruhi pikiran mereka dengan komunikasi,” terangnya.

Salah seorang peserta sedang bertanya. (M Ali Syafaat/PWMU.CO)

Dia mengatakan, pikiran manusia itu seperti gunung es, yang tampak di permukaan hanya sedikit. Sedangkan yang di bawah permukaan air jauh lebih besar. “Jadi 88 persen sampai 92 persen pikiran manusia dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar atau irrasional,” ungkapnya.

Cinta (believe) itu pikiran bawah sadar. Makanya dalam syair lagu Gombloh, kalau sudah cinta, tahi kucing rasa coklat. Artinya kalau manusia sudah mempunyai perasaan cinta, apapun pasti dilakukan.

“Begitu pula dengan anak kita. Buatlah rasa nyaman, cinta, dan bahagia. Bapak-Ibu guru maupun orangtua yang bisa menciptakan rasa cinta maka kita bisa memengaruhi dan tujuan kita bisa berhasil. Jadi kunci sukses pertama adalah komunikasi,” paparnya.

Yang kedua, sambungnya, adalah kemampuan membangun hubungan bawah sadar. Kita harus akrab dulu dengan anak, baru kita bisa mempengaruhi (rapport believe). Manusia itu menjadi nyaman kalau ada persamaan, tidak suka kalau ada perbedaan.

“Ketika masih kampanye yang sini dipanggil cebong, yang sana manggilnya kampret. Sekarang sudah selesai. Tidak ada cebong tidak ada kampret karena pikirannya sudah sama,” ujarnya.

Yang ketiga, rapport building, yakni berkomunikasi dengan cara orang yang diajak berkomunikasi. “Saya kalau ke Gresik yang saya sukai adalan (ikan) sembilang. Kalau mau mancing ikan, umpannya pelet. Kalau mancing pakai cuilan sembilang, dapat ikan atau tidak?” tanyanya.

Serempak hadirin menjawab, “Tidak”. Maka, menurutnya, untuk menyenangkan orang lain, kita berkomunikasi dengan cara orang itu untuk menghasilkan apa yang kita inginkan.

“Kesukaan dan keinginan itu ada di bawah sadar. Istilah anak sekarang, kalau mama dan papa tahu banget tentang aku, pasti aku suka dengan apa yang mama dan papa inginkan. You tahu saya-saya tahu kamu,” ujarnya.

Edha Harmadji (kiri). (Nina Yovanti WNS/PWMU.CO)

Yang keempat, untuk memastikan anak-anak mencapai tujuan, perlu perencanaan. “Kalau arah goal-nya jelas, anak tahu ke mana arahnya. Saya pingin anak saya ke UA (Universitas Airlangga) jurusan ini, maka saya memutuskan untuk memilih jurusan IPA atau IPS,” terang pria asal Yogyakarta ini.

Bagaimana caranya agar cita-cita itu menjadi believe (di bawah pikiran sadar). Maka cita-cita itu harus tergambarkan dengan jelas dan believe.

Dia aku mencontohkan dirinya. “Saya masuk UGM karena sudah tahu kampusnya sejak SD. Oh itu gedungnya, itu halamannya, itu ruangannya. Maka jadi believe. Jadi saya nanti mau kuliah di sana. Itu yang saya saya capai. Bagaimana caranya?” ungkapnya.

Jika bisa menggambarkan goal-nya, cara mendapatkannya, anak bisa berprestasi karena merasa nyaman. “Dan di sekolah merasa happy,” ucapnya.

Kepala SMamssatu Gresik Ainul Mutaqqin So MPd menjelaskan, tujuan Parenting Education adalah meletakkan dasar pemahaman betapa pentingnya keteladanan orangtua. “Ini penting bagi pembentukan karakter anak yang merupakan calon pemimpin bangsa,” ujarnya.

Edha Harmadji, wali murid Achmad Nur Sidiq Indra Waspada siswa kelas X IPA1/ICP sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini. “Acaranya luar biasa sebagai pencerahan bagi kami. Banyak manfaat yang bisa diambil termasuk saran-saran untuk kemajuan anak-anak kita,” ujar dia sambil berharap sadar semacam ini bisa diadakan setahun dua kali. (Estu Rahayu/Nina Yovanti WNS)