Kisah Inspiratif! Si Miskin pun Berkurban

307
Pasang Iklan Murah

PWMU.CO – Sebelum menceritakan kisah inspiratif tentang si miskin yang berkurban, kita kaji dulu hadits yang menjelaskan tentang sadaqah yang paling utama.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

iklan

Dari Abu Huairah ra, ia bertanya: Ya Rasulallah, sadaqah apa yang paling utama? Nabi SAW bersabda: “(Sadaqah yang paling utama) adalah sadaqah maksimal yang dilakukan oleh orang yang tidak punya dan mulailah (sadaqah) dari orang yang kamu tanggung.” (HR Abu Dawud No. 1679).

Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud No. 1679 tersebut dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani (Sahih al-Targhib Wa al-Tarhib, I/214). Selain diriwayatkan Abu Dawud, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh al-Nasa-i dalam Sunan al-Nasa-i No. 2526; Ahmad dalam Musnad Ahmad No. 8702; al-Hakim dalam al-Mustadrak No. 1509; Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban No. 2444; dan al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra No. 7561.

Hadits tersebut menerangkan tentang dua hal. Pertama tentang sadaqah yang paling utama. Kedua tentang orang yang perlu diutamakan atau didahulukan dalam menerima sadaqah.

Sadaqah yang paling utama dan mulia Adalah sadaqah yang dilakukan oleh orang miskin, yang sedikit hartanya. Ia bersadaqah karena benar-benar ingin sadaqah. Ia sadaqah bukan karena berkelebihan harta. Ia bisa bersadaqah setelah bersusah payah dan sekian lama menyisihkan hartanya sedikit demi sedikit hingga terkumpul dalam jumlah tertentu baru kemudian disadaqahkan.

Menurut Badruddin al-Aini, yang dimaksud dengan kalimat afdhalus-shadaqah jahd almuqill adalah bahwa usaha maksimal yang dilakukan orang miskin dan ditempuh dengan susah payah agar dapat menghimpun harta untuk kemudian disadaqahkan, maka itulah sadaqah yang paling utama (al-‘Aini, Syarh Sunan Abi Dawud, VI/431).

Sikap seperti ini menunjukkan kesungguhan dan rasa tawakal yang sangat tinggi. Ia tidak mementingkan diri sendiri, ia justru mementingkan orang lain. Sikap seperti ini pernah ditunjukkan oleh Sahabat Nabi, Abu Bakar dan Umar. Ibn Hajar al-Asqalani mengutip hadis riwayat Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Al-Hakim dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya bahwasanya tatkala Nabi SAW menganjurkan agar kaum Muslimin bersadaqah, maka Umar ingin lebih dulu dan ingin mengungguli Abu Bakar dalam bersadaqah.

Pada paginya, Umar bersadaqah setengah dari hartanya. Nabi bertanya: “Berapa bagian yang kau berikan untuk keluargamu, wahai Umar?” “Sama, setengahnya ya Rasul,” jawab Umar. Nabi mendoakan semoga mendapatkan barakah.

Kemudian Abu Bakar mensadaqahkan seluruh hartanya. Nabi bertanya, “Bagaimana dengan keluargamu, wahai Abu Bakar?” “Mereka sudah saya serahkan kepada Allah dan Rasulnya,” jawab Abu Bakar. Umar berkata: “Demi Allah saya tidak sanggup lagi mengungguli Abu Bakar.” (al-Asqalani, Fath al-Bari, V/25; Ibn Rajab, latha-if al-Ma’arif, I/241).

Orang yang kuat dalam bersadaqah dan lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri mendapat pujian dari Allah dan dijanjikan akan mendapatkan keberuntungan. Allah berfirman: “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (Al-Hasyr, 9).

Orang yang seharusnya diutamakan mendapatkan sadaqah
Dalam hadits tersebut Nabi memerintahkan agar lebih mendahulukan orang yang selama ini menjadi tanggungannya, misalnya keluarganya sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW dari Salman bin Amir:

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sesungguhnya sadaqah yang diberikan kepada orang miskin itu pahalanya satu sadaqah. Sedangkan sadaqah kepada kerabat pahalanya dapat dua, yaitu pahala sadaqah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.”(HR. al-Nasa-i No. 2582). Al-Albani mengatakan hadis ini sahih (al-Albani, Sahih Wa Dha’if Sunan al-Nasa-i, I/17).

Si miskin pun berkurban
Berkaitan dengan hadits di atas, berikut ini kisah nyata yang sangat mengharukan terjadi tahun 2012 M. Kisah ini dituturkan langsung oleh pedagang hewan kurban kepada saya.

Kisahnya menceritakan seorang miskin yang ingin bersedekah kepada ibunya sendiri dengan membantu menggapai cita-cita sang ibu untuk bisa menunaikan ibadah kurban yang telah lama diimpikannya. Berikut ceritanya:

Suatu hari, seorang wanita datang memperhatikan dagangan (hewan kurban) milik saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba menghampiri dan menawarkan kepadanya.

“Silakan Bu ..! “

Lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya, “Kalau yang itu berapa Pak?”.

“Yang itu Rp.700.000 Bu,” jawab saya.

“Harga pasnya berapa..?” tanya kembali si ibu.

“Rp 600.000 deh. Harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah,” jawab saya.

“Tapi, uang saya hanya Rp 500.000. Boleh Pak?” pintanya.

Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya. Akhirnya saya berembuk dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Saya pun mengantar hewan kurban tersebut sampai ke rumahnya. Begitu tiba di rumahnya, astaghfirullah. Allahu Akbar. Terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga dengan ibunya yang sudah sepuh dan putranya di rumah gubuk berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh. Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus.

“Mak, bangun Mak, nih lihat saya bawa apa?” kata ibu itu pada nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun.

“Mak, saya sudah belikan emak kambing buat kurban, nanti kita antar ke masjid ya Mak,” kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkejut. Tapi tampak jelas raut bahagia di wajahnya. Ia segera berjalan keluar dengan langkah yang gontai karena usianya yang senja.

Sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap: “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berkurban.”

“Nih Pak, uangnya. Maaf ya, kalau tadi nawarnya terlalu murah, karena saya hanya seorang tukang cuci di kampung sini. Saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing, hewan kurban atas nama emak saya,” kata ibu muda itu.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa: “Ya Allah, ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa.”

“Pak, ini ongkos kendaraannya,” panggil ibu itu.

“Sudah Bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar,” kata saya sambil menyembunyikan mata saya yang sudah berkaca-kaca.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hamba-Nya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orangtuanya (sang ibu) meski dengan segala keterbatasan ekonominya. Subhanallah!

***

Untuk menggapai kemuliaan ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan yang macammacam. Kita bisa belajar keikhlasan dari ibu ini yang dengan susah payah menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari hasil upah cucian setiap harinya. Ibu ini menabung uangnya untuk menggapai kemuliaan hidup, bukan untuk dirinya sendiri, tapi demi sang ibunda tercinta.

Berapa banyak di antara kita yang diberi kecukupan harta dan penghasilan, namun masih saja ada keengganan untuk berkurban. Padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yang menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan kurban.

Nah, bagaimana dalam menghadapi Idul Adha tahun ini? Sudahkah kita menyiapkan seekor hewan untuk berkurban? Ingat kata Ibn al-Qayyim: “Ibadah kurban itu lebih utama daripada sadaqah biasa dengan nilai yang sama” (Ibn al-Qayyim, Tuhfat al-Mawlud, I/65).

Semoga kisah si miskin yang ikut kurban tadi bisa menginspirasi! (*)

Oleh Dr H Achmad Zuhdi SH MFil I, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian hadits ini kali pertama dimuat di Majalah MATAN Edisi 157 Agustus 2019.

Achmad Zuhdi. (Aan Hariyanto/PWMU.CO)