Ketua PWM Jatim: Pentingnya Membangun Bangsa dengan Roh Ibrahim

131
Pasang Iklan Murah
Ketua PWM Jatim Saad Ibrahim ketika khutbah Idul Adha di halaman Masjid Al Badar. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim menekankan pentingnya membangun bangsa Indonsia dengan roh Ibrahim dan keluarganya. Hal itu ia sampaikan dalam khutbah Idul Adha 1440 Hijriah di halaman Masjid Al Badar Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Ahad (11/8/19).

Saad mengatakan, dengan kebesaran dan keagungan-Nya, Allah telah menjadikan hari ini, sepuluh Dzu al-Hijjah sebagai hari raya ‘Id al-Adlha atau hari raya Kurban. Yang mana, hari raya ini dilatarbelakangi oleh peristiwa besar, yakni perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk mengurbankan (menyembelih) Ismail, putranya.

iklan

“Ini adalah peristiwa sejarah yang luar biasa yang pernah terjadi dan diperbuat oleh manusia dengan landasan iman yang kokoh, takwa yang membaja dan ikhlash yang tiada tara,” ujarnya.

Maka, ia menyatakan, memperingati peristiwa besar dalam suasana ibadah berarti seseorang memiliki jiwa pengabdian yang besar. Sebaliknya, seseorang dengan jiwa yang kerdil tidak akan pernah memperingati dan menghargai peristiwa besar yang telah ditulis dengan tinta emas dalam lembaran sejarah.

Bahkan, lanjutnya, sebagian dari umat Muslim, dengan kebesaran jiwa dan hikmah sedang memperingati dan menghargai peristiwa yang melatarbelakangi Idul Kurban ini dalam bentuk ibadah haji ke Tanah Suci Makkah-Madinah sebagai rukum Islam kelima.

Menurut dia, mereka itulah yang dengan semangat juang dan semangat kurban. Sebab mereka telah merelakan menggunakan sebagian harta untuk menunaikan ibadah haji, rela menanggung kerinduan sejenak terhadap keluarga, terhadap kampung halaman. “Semua itu demi melaksanakan perintah Allah semata. Betapa besar dan mulia jiwa mereka,” paparnya.

Saad melanjutkan, jika mereka yang dianugerahi kelapangan rezeki telah dapat melaksanakan ibadah haji dan sekaligus memperingati dan menghargai peristiwa sejarah Nabiyullah Ibrahim, Nabiyullah Isma’il dan keluarga besarnya, maka buat yang belum dapat menunaikan ibadah haji, sungguh merupakan suatu ibadah yang besar manakala turut beribadah shalat Idul Adha seperti ini.

“Mari sambil memohon kehadlirat Allah agar kita di tahun-tahun mendatang dapat pula mengikuti jejak saudara kita beribadah haji ke Baitullah untuk menaati perintah Allah secara sempurna. Mari, kita mohon kepada Allah,” tuturnya.

Ujian sesuai kadar jiwa

Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim itu kemudian mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dan manfaat yang sebesar-besarnya dari peristiwa sejarah yang masyhur ini. Salah satunya pelajaran tentang ujian keimanan dan perjuangan batin.

Saad menyebutkan, hidup itu sesungguhnya adalah suatu ujian untuk menentukan pilihan. Yang mana itu akan menentukan kualitas serta menentukan nilai. Sebab, di hadapan sesorang ada kebaikan dan ada keburukan. Ada pula kebenaran dan kebathilan. Juga ada kejujuran dan ada kedustaan.

“Itulah pada pokoknya naskah ujian yang dihadapkan kepada kita. Nah, dalam upaya menentukan pilihan tersebut, tidak henti-hentinya terjadi perjuangan batin antara memilih kebaikan atau keburukan, antara kebenaran atau kebathilan, antara kejujuran atau kedustaan,” urainya.

Saad menegaskan, dalam perjuangan batin seperti itu, seseorang dituntut untuk berkorban. Tidak hanya dalam rangka memilih kebaikan, bahkan memilih keburukan pun juga ada pengorbanan.

“Tentunya pengorbanan yang punya nilai adalah pengorbanan yang dapat menyampaikan kita pada kebaikan. Sebaliknya, pengorbanan untuk mencapai kejahatan sesungguhnya adalah jahat pula,” terangnya.

Ia menekankan, semakin tinggi dan besar kadar korban itu, semakin tinggi pula kadar perjuangan yang ditempuh. Begitu juga semakin tinggi jiwa seorang pejuang, maka semakin banyak pengorbanan yang dituntut, dan itu menandakan semakin berat pula ujian yang ditempuh.

“Ujian yang berat tidak akan diberikan kepada orang yang berjiwa kecil. Oleh karena itu jika kita berharap untuk memiliki jiwa yang besar, hanya satu yang harus kita persiapkan. Apa gerangan? Tak lain adalah menghadapi ujian yang berat. Sebagaimana yang telah menimpa Ibrahim, Ismail, dan keluarganya,” terangnya.

Saad menyebutkani, ujian yang amat berat itu telah mengantarkan Ibrahim dan keluarganya menjadi pribadi-pribadi besar dalam sejarah umat manusia. Bagaimana tidak, seorang Ibrahim diperintah Allah untuk mengorbankan anak kandungnya, darah dagingnya sendiri, Ismail.

“Sekali lagi jika seseorang menghendaki memiliki jiwa yang besar, maka bersiaplah menghadapi ujian yang berat, bahkan amat berat,” ungkapnya.

Hal itu sebagaimana firman Allah yang artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesunguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

“Demikianlah, Allah memberikan kepastian bahwa ujian itu pasti terjadi. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri sematang-matangnya dengan cara meneladani pribadi-pribadi yang telah sukses menghadapi ujian dan cobaan,” jelasnya.

Saad mengungkapkan, di antara pribadi-pribadi yang telah sukses itu adalah Nabiyullah Ibrahim, Ismail dan keluarganya. Hal itu sebagaiman firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Terpuji”.

Pemimpin partisipatif

Saad melanjutkan, pelajaran kedua yang bisa dipetik dari peristiwa besar dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah tentang roh pembangunan yang sedang bangsa ini lakukan.

Ia menerangakan, kebesaran jiwa Ibrahim sebagai seorang bapak kelihatan sangat menonjol ketika beliau menyampaikan perintah Tuhan kepada putranya Ismail yang melambangkan modus interaksi dan interrelasi dalam bahasa yang mesra, heart to heart.

Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!”.

“Nah, perkataan Ibrahim ini menunjukkan kebesaran jiwa dan ketinggian pribadinya. Betapa tidak, Ibrahim sendiri sudah paham, sudah memaklumi, sudah mengerti bahwa yang ia sampaikan adalah benar-benar perintah Allah,” terangnya.

Meski, terangnya, Ibrahim mengerti bahwa dirinya diperintahkan untuk mengorbankan (menyembelih) putra kandungnya, belaian jiwanya. Tapi Ibrahim tidak bertindak otoriter. “Apabila Ibrahim bertindak tanpa mendengar pendapat dan kesediaan putranya, maka sesungguhnya pengorbanan yang hendak dilakukan hanya akan punya arti buat dirinya sendiri,” sebutnya.

Maka, paparnya, Ibrahim menghendaki agar antara dirinya dan sang putra sama-sama bertindak sebagai subyek, sama-sama bertindak melaksanakan perintah Ilahi. Bukan dirinya sebagai subyek dan anaknya sebagai objek, sebab jika anaknya hanya dijadikan sebagai objek penyembelihan, apa lalu bedanya dengan ketika akan menyembelih binatang ternak.

“Seorang manusia ketika akan menyembelih binatang tidak perlu memperhatikan sedia tidaknya binatang tersebut, dan itu adalah benar. Akan tetapi Ibrahim memahami bahwa sungguh keliru jika ia tidak lebih dahulu mendengar kesediaan sang putra. Demikian itu disebabkan Isma’il adalah manusia yang sedia tidaknya akan mempunyai akibat di akhirat pada kehidupan eksternal kelak,” jelasnya.

Tindakan Ibrahim ini dari segi psikologis sangat tepat, terbukti mempunyai pengaruh terhadap Ismail. Ketika itu pula secara spontan Ismail menyambut dengan segala ketundukan jiwa dan ketulusan hati seraya berkata: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah bapak akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

“Inilah pengaruh psikis itu! Ya ketulusan hati Ibrahim ketika menerima perintah Tuhan untuk menyembelih putranya dan kebesaran jiwanya ketika meminta pandangan dan kesediaan putranya ternyata mampu menimbulkan keikhlasan Ismail,” tegasnya

Andaikata Ibrahim bertindak otoriter, tanpa mengikutsertakan putranya dalam bermusyawarah, langsung saja membawa Isma’il kemudian menyembelihnya, maka besar kemungkinan ia enggan untuk taat dan berserah diri karena tidak memahami tindakan sang bapak.

Tapi karena Ismail telah diajak bicara dari hati ke hati, pahamlah ia bahwa apa yang akan dilakukan oleh bapaknya adalah perintah Allah. Oleh karena itu tidak ada sikap lain yang harus diperbuat Ismail kecuali tunduk sepenuhnya. Itu semua karena Ismail adalah pribadi besar, pribadi mulia, Nabiyullah!

Apakah yang dapat kita ambil dari untaian mutiara hikmah apresiasi keagamaan pribadi-pribadi besar tersebut dalam bentuk interaksi dan interelasi bapak dan anak itu? Tentu saja banyak. Salah satunya dalam upaya membangun hubungan antara the state dan the civil society, antara negara, pemerintah, dan rakyat.

“Di sinilah sebenarnya kunci keberhasilan semua upaya pembangunan. Tidak cukup hanya menunjuk esensi pembangunan sebagai suatu kebenaran, sebagai suatu yang diperlukan bagi hidup manusia, bahkan sebagai suatu yang memiliki dimensi keagamaan,” terangnya.

Tapi, sambungnya, semua itu harus disosialisasikan, disampaikan kepada umat, kepada rakyat dengan pendekatan persuasif. Mengapa? Jawabnya ialah agar mereka mengerti, agar mereka paham, agar partisipasi mereka tidak bersifat semu, agar partisipasi mereka adalah partisipasi aktif dan total, bahkan partisipasi yang berdimensi keagamaan.

Hal itu juga agar mereka memahami bahwa pembangunan merupakan tanggung jawab bersama, dipikul bersama-sama, tidak ada subjek di satu pihak dan objek di lain pihak.

“itulah roh Ibrahim, roh Ismail, roh pribadi-pribadi besar yang telah menghias, memberikan keindahan lembaran sejarah umat manusia. “Roh inilah yang memberikan dinamika keberhasilan pembangunan, dan roh inilah yang akan melanggengkan capaian keberhasilan itu, selama tetap dipelihara, selama tetap dijaga,” tandasnya.

Di mana, tegasnya, roh itu sesuai dengan roh pembangunan bangsa yang memiliki dua dimensi seperti yang jauh-jauh sudah dipancangkan, yakni bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.

“Suatu upaya menjadikan hari esok lebih baik dari pada hari ini, dengan memulai membangun mental spiritual untuk kemudian melangkah pada fisik material, persis seperti yang kita dengungkan pada lagu kebangsaan kita,” ujanya. (*)

Reporter Aan Hariyanto. Editor Mohammad Nurfatoni.