Pelajaran Menghewankan Hewan dalam Baksos Kurban Smamio

44
Pasang Iklan Murah
Suasana Baksos Kurban di Smamio.(Riris/ PWMU.CO)

PWMU.CO – Baksos Kurban SMA Muhammadiyah 10 GKB—atau yang biasa disebut Smamio—berjalan lancar, Senin, (12/8/19). Ketua Panitia Amin Nashir mengucapkan rasa syukur karena daging bisa terdistribusi secara merata pada masyarakat sekitar sekolah.

“Semua warga sekitar sekolah sudah mendapatkan daging bahkan berlebih,” ucapnya. Dia menjelaskan, daging yang berlebih didistribusikan pada masyarakat yang belum mendapat bagian sama sekali.

Dia juga menjelaskan, tujuan kegiatan ini untuk melatih kepedulian siswa terhadap sesama pun terealisasi dengan baik. “Mulai dari pemotongan, pembagian sampai distribusi anak-anak sangat antusias membantu. Para siswa perempuan tetap semangat meskipun harus berkotor tangan membagi daging kurban,” terangnya.

iklan

Menurut Amin, membiasakan siswa untuk turut andil dalam kegiatan berkurban pun telah tertuang pada surat Alkautsar, ‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurban)’.

Dia berharap para siswa yang belum bisa berkurban tahun ini bisa melaksanakan di tahun depan. “Semoga Idul Adha tahun depan bisa memberi lebih banyak berkah kepada kita semua,” harapnya.

Guru Ismuba (Al Islam, Kemuhammadiyahan, dan bahasa Arab) Smamio Fiqih Risalah MA mengatakan, momen Idul Adha ini bisa dijadikan renungan pentingnya menghewankan hewan. “Hewan adalah makhluk Allah yang perlu dipahami sesuai dengan sifat alaminya sebagaimana manusia,” ungkap Fiqih.

Maksudnya, lanjut Fiqih, masih ada sebagian orang yang memperlakukan hewan dengan tidak manusiawi dengan cara memanfaatkan untuk kepentingan manusia secara berlebih. Misalnya sapi yang dibuat menarik pegon dengan muatan berlebih.

“Begitu pun ketika kita mau menyembelih hewan kurban, harus menurut syariat yang diawali dengan membaca basmalah. Seperti yang tertuang dalam surat Al-An’am ayat 121, “Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.”

Kontributor Disa Yulistian. Editor Mohammad Nurfatoni.