Siswa Spemdalas Ini Dapat Pengalaman Berharga dari Baksos Idul Adha

56
Pasang Iklan Murah
Berfoto bersama di lokasi baksos. (Chanif Ihsan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Bagi Ghaiyyas Sanie Rayhan, siswa kelas IX SMPM 12 GKB (Spemdalas), bakti sosial (baksos) Idul Adha tahun ini adalah kali ketiga. Pengalaman tiap tahunnya pun ada perbedaan dan tentu memberikan nilai pembelajaran.

“Kalau tahun pertama saya kan masih kelas VII sehingga masih proses belajar. Lebih banyak menyaksikan proses penyembelihan. Kalau pun ikut memberikan daging kurban ke masyarakat sekitar ya hanya ikut dengan kakak-kakak IPM,” ujarnya saat diwawancarai PWMU.CO, Selasa (13/8/19) usai melaksanakan shalat Dhuha di sekolah.

iklan

Baksos tahun ini yang mengambil lokasi di Desa Campurejo, Panceng, Gresik, Keni—sapaan akrabnya—dan rombongan 35 siswa dan tiga guru pendamping menyerahkan tiga sapi untuk dipotong di lokasi.

Pemotongan hewan kurban dilakukan Senin (11/8/19). Selain panitia dari IPM dan guru, Spemdalas juga mengikutsertakan siswa yang ikut syarikat (patungan) kurban di sekolah.

Di tahun terakhir ini, Keni lebih aktif. Bukan hanya sekadar ikut pemotongan daging, penimbangan, pembungkusan, dan penyerahan daging ke warga. Dia juga berkoordinasi dengan Karang Taruna Desa Campurejo supaya kegiatan bisa berjalan lancar.

“Yang paling menyita adalah proses koordinasi demi suksesnya acara. Kalau teknis dan proses pemotongan sampai pembagian daging bisa saling bantu. Ada kolaborasi dari siswa Spemdalas dan warga di sini,” papar cowok yang suka pelajaran matematika ini.

Meskipun harus bekerja ekstra, menurutnya, baksos tahun ini memberikan pembelajaran sangat penting. Apalagi sebelum kegiatan baksos harus ada rapat koordinasi internal dengan sekolah dan desa lokasi baksosnya.

Bagi Keni baksos ini bukan sekadar menyerahkan daging kurban pada masyarakat, tetapi ada proses yang bisa dipelajari dari awal sampai akhir.

“Di sinilah letak pengalaman yang berharga yang tidak bisa dilupakan. Rapat koordinasi, membagi tugas, berkomunikasi dengan warga, tanggung jawab atas tugas, sampai dengan bertemu dengan warga saat menyerahkan daging kurban adalah nilai yang bisa dijadikan proses pembelajaran,” katanya. “Rasa capek terasa sudah terbayar lunas saat kegiatan ini selesai. Tinggal buat laporan kegiatannya,” ujarnya. (*)

Kontributor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.

Ghaiyyas Sanie Rayhan (dua dari kiri) saat menyerahkan daging kurban ke warga. (Chanif Ihsan/PWMU.CO)