Empat Alasan Kenapa Islamofobia Selalu Dihembuskan ke Masyarakat

390
Pasang Iklan Murah
Ahmad Jainuri mengisi pengajian di PCM Kebomas. (Mahfudz Efendi/PWMU.CO)

PWMU.CO-Islamofobia sengaja didengungkan begitu keras dan masif untuk mencegah kebangkitan Islam. Sebab jika umat Islam bangkit dan maju bisa menghancurkan peradaban Barat.

Hal itu disampaikan Prof Dr H Achmad Jainuri MA dalam pengajian Ahad Pagi PCM Kebomas bertempat di Masjid At Taqwa Giri Jl. Sunan Prapen Gg 1 No 15 Kebomas, Gresik, Ahad (18/8/2019).

Menurut dia,  jika umat Islam tumbuh sebagai kekuatan besar yang akan melindas peradaban barat. ”Maka tak heran jika gerakan membendung tumbuhnya Islam begitu terlihat nyata sebagaimana disinyalir dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 120 bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka,” kata wakil ketua PWM Jawa Timur ini.

Menurut pria pernah tinggal di Kanada selama tujuh  tahun ini, ada empat alasan mengapa Islam begitu ditakuti bangsa Barat. ”Pertama, negara-negara muslim memiliki sumber daya alam yang sangat dibutuhkan negara barat,” ungkapnya.

Jika negara-negara muslim mengembargo kebutuhan-kebutuhan negara Barat, katanya, tentu membuat terganggunya berbagai sektor kehidupan negara Barat.

Kedua, tingkat intelektual sumber daya manusia negara-negara muslim yang sebagian besar berada di benua Asia cukup tinggi dibanding bangsa Barat. ”Berdasar penelitian mereka SDM suku Mongoloid lebih tinggi dibanding suku kulit putih  maupun hitam,” ujarnya.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi negara-negara muslim cukup stabil. ”Diterpa krisis (ekonomi ) tak berpengaruh besar ,” kata dosen Umsida ini.

Terakhir keempat, pengalaman masa lalu bangsa Eropa terhadap bangsa- bangsa muslim. Di mana saat itu , kekalahan demi kekalahan kerap diderita tatkala menjajah dan menguasai negara muslim.

”Maka tak heran saat ini bangsa Barat berupaya masuk dan menguasai kebijakan -kebijakan negara muslim untuk menghadang bangkitnya Islam,” tandasnya. (*)

Penulis Mahfudz Efendi  Editor Sugeng Purwanto