Kisah Lucu Ber-Muhammadiyah Terungkap dalam Kultum di Atas Bus

190
Pasang Iklan Murah
Slundu alias Mufti Assidiqi saat kultum di atas bus Rihlah. (Arifah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Lazimnya dalam perjalanan wisata dari satu tempat ke tempat lain peserta memanfaatkan waktu untuk tidur, karaoke dan ngobrol. Tapi beda dengan Rihlah Dakwah PWM Jatim ke Singapura dan Malaysia ini. Ada kultum di atas bus.

Isi kuliah tujuh menit ini ringan saja. Siapa pun bisa menyampaikan. Tidak selalu mubaligh. ”Jangan dianggap berat kultum ini. Ceritakan saja perjalanan ber-Muhammadiyah dan kesan pada Rihlah ini,” tutur Nadjib Hamid, kepala rombongan.

iklan

Nadjib memanggil secara bergiliran satu- persatu peserta untuk menyampaikan kultum. ”Tenang saja, semua akan kebagian menyampaikan kultum. Perjalanan masih panjang,” tandasnya.

Di hari ketiga program Rihlah dakwah ini 17 peserta telah maju berceramah. Dalam perjalanan bisa dua atau tiga orang tampil.  Saat itu giliran Mufti Assidiqi, staf kantor PWM Jatim yang tugasnya pencetakan KTA Muhammadiyah.

Dia mengaku mendapat berkah ber-Muhammadiyah. ”Biarpun saya harus menyelesaikan kuliah dalam 14 semester, tapi denga ber-IMM saya menjadi ahli proposal,” ujarnya. ”Maksudnya mengedarkan proposal kemana-mana,” sambungnya yang memancing gelak tawa rombongan.

Slundu, begitu nama populernya, mengaku mendapatkan istri karena Muhammadiyah. ”Dulu saya menjalankan usaha Warung Kopi yang dikelola oleh Pemuda Muhammadiyah,” kata ayah dua putri dari Athis Ilma Ramadhani dan Adzkia Sumayya ar Rahma.

”Karena buka sampai tengah malam, saya selalu mengingatkan wanita pujaan untuk bangun shalat Tahajud. Dan itu menjadi salah satu alasan Fitrotul Ummama, calon istri menerima lamaran saya,” ujarnya mengakhiri kultum diiringi geerrr.. peserta Rihlah.

Lalu giliran Edy Subagiardjo yang biasa dipanggil Edo. Dia bercerita, mengenal Muhammadiyah karena bekerja di Matan. Majalah yang terbit setiap bulan milik PWM Jawa Timur.

”Orang tua saya bukan NU juga bukan Muhammadiyah. Tapi sejak gabung dengan Matan pada tahun 2006 saya menjadi keluarga besar Muhammadiyah,” terangnya.

Edo mengungkapkan. menjadi penata lay out majalah ini sejak edisi pertama. ”Tiga bulan sebelum edisi pertama terbit, saya ikut menyiapkan rencana penerbitan majalah Matan.”  Kedua anaknya Nabilah Sarah Hafizah dan Tsabita Rasya Tinara Putri bersekolah di Muhammadiyah.

Soal kultum ini Nadjib Hamid mengatakan, banyak cara untuk ber Muhammadiyah.  ”Ada yang ber- Muhammadiyah sejak sebelum lahir, karena orangtuanya Muhammadiyah. Ada yang bukan keluarga Muhammadiyah bekerja pada Amal Usaha Muhammadiyah lalu menjadi Muhammadiyah. Ada juga yang ber-Muhammadiyah karena sekolah di Muhammadiyah.” (*)

Penulis Arifah Wikansari  Editor Sugeng Purwanto