Begini Cerita Wong Ndeso Jadi Aktivis Datangi Kota Besar

222
Pasang Iklan Murah
Timur Aji saat kultum. (Ichwan Arif/pwmu.co)

PWMU.CO – Sekretaris Majelis Pendidikan Kader (PMK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo Timur Aji Hantoro dalam kultum Rihlah Dakwah IV,  Senin (19/8/19) mengatakan, ber-Muhammadiyah itu harus totalitas,  jangan setengah-setengah.

”Itu pesan ayah saya saat mulai aktif di Muhammadiyah,” ujarnya saat kultum subuh di Hotel FaithView Malaka.

iklan

Timur bercerita, dulu membutuhkan lima jam dari kotanya ke PWM Jatim yang kantornya masih di Jalan Gembili untuk urusi IRM. Malah pernah juga dia kesasar. Naik bus dari Terminal Bungurasih turun Perak karena keliru pilih bus yang lewat jalan tol.

Dia pun harus balik ke terminal dan naik bus jurusan Rumah Sakit Islam (RSI). ”Saat turun di RSI saya takut menyeberang Jl. A. Yani menuju Jl. Gembili. Akhirnya naik becak biar tukang becaknya yang nyeberangkan,” tuturnya disambut tawa hadirin.

Dia menuturkan, orang ndeso butuh perjuangan hanya masalah menyeberang jalan. Ber-Muhammadiyah pun butuh perjuangan yang lebih. Maka pesan ayahnya selalu terngiang dan terus dipegang.

”Ngurusi Muhammadiyah harus total.  Kalau separo-separo, pasti hasilnya juga separo. Kalau hasilnya separo, pasti dipaido,” katanya dalam logat Jawa kulonan.

Timur menegaskan mengurus Muhammadiyah butuh energi lebih. Totalitas dalam mengurusnya pasti dapatnya juga maksimal.

Bapak empat anak ini bersyukur karena ber-Muhammadiyah mendapatkan istri kader IRM, pengalaman hidup, dan rezeki.

”Ya berkomunikasi dengan orang dan rasa tanggung jawab saat menangani organisasi adalah karakter hidup yang sangat berharga yang saya dapat setelah ber-Muhammadiyah,” tutupnya. (*)

Penulis Ichwan Arif  Editor Sugeng Purwanto