Kisah Suami-Istri Mualaf, Begini Perjalanan Keduanya Dapat Hidayah dari Agama yang Berbeda

12602
Pasang Iklan Murah
Sugiran, istri, dan anak keduanya. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ada kisah unik yang mencuat saat berlangsung Rihlah Dakwah para aktivis Muhammadiyah Jatim ke Singapura dan Malaysia, 17-20 Agustus 2019.

Adalah Sugiran yang mencuatkan kisah itu, ketika menjadi penceramah kultum alias kuliah tujuh menit di atas bas pesiaran dalam perjalanan dari Bandara Changi ke Hotel 165 Singapura, Sabtu (17/8/19) malam.

Ternyata Sekretaris Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Situbondo itu pernah menjadi pemeluk agama Hindu. ”Assalamualaikum, saya dilahirkan bukan dari keluarga Islam. Ayah dan ibu saya beragama Hindu. Saya kenal dengan Islam saat dimasukkan SD Negeri Sukoreno 1 Jember,” cerita Sugiran saat membuka kultum.

Yang juga mengejutkan dari kultum pria kelahiran Jember 10 Agustus 1973 itu adalah, istrinya: Maria Goretti Heriaty, ternyata beragama Katholik sebelum dia nikahi.

Artinya, ada dua perjuangan penting yang pernah dia lakukan. Pertama, menyakinkan orangtuanya yang beragama Hindu dalam proses menuju masuk Islamnya tahun 1979. Perjuangan kedua saat Sugiran menggunakan segala jurus supaya calon istri bisa mengucapkan dua kalimat shahadat sebelum menikah.

“Kalau masih berbeda (agama) ya kita tidak jadi,” ujarnya menirukan kalimat yang pernahh dia sampaikan pada calon istri yang kelahiran Jember 21 Agustus 1972 itu. Sugiran menyakini bahasa hati tersebut bisa ‘menaklukkan’ wanita pujaannya supaya bisa seiman.

iklan

“Perasaan wanita kan halus, jadi jurusnya juga halus juga,” ujarnya saat diwawancarai PWMU.CO Senin (20/8/19) di sela perjalanan Rihlah Dakwah di Malaka hari ketiga.

Sugiran berkisah, setelah pembicaraan empat mata tersebut, calon istri mulai belajar Islam dari teman di kos-kosan saat kuliah di Juruan Hama dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Setelah kerja di Bondowoso sehabis kuliah, terangnya, calon istri lebih banyak dapat bimbingan ber-Islam dari bapak kosnya: H Lutfi Yasin. Dari situlah keyakinan tentang Islam semakin kuat. Akhirnya dia mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 1999 di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Desa Tangsil Wetan Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso, yang lokasinya tidak jauh dari kosnya.

“Malah saya tidak tahu kapan dan jam berapa dia memeluk Islamnya, tahu-tahu ketika apel (bertemu) di akhir pekan dia cerita kalau sudah memeluk Islam,” paparnya.

Keduanya pun akhirnya menikah tahun 2000 dan kini dikaruniai dua anak. Anak pertamanya, Ars Hafizhah Ramadhanita, kini kuliah semester satu di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Program Beasiswa Kedokteran UMY. Sedangkan Nailah Hafidz Salsabila masih duduk di Kelas V SDMuhammadyah 1 Panji Situbondo.

Lalu bagaimana liku-liku Sugiran memeluk Islam? Pria yang punya usaha penjualan sarana pertanian itu menceritakan bagaimana konflik batin yang dialami ketika berjuang di hadapan orangtuanya yang beragama Hindu.

“Saya belajar Islam secara sembunyi-sembunyi. Ada perasaan takut. Perasaan inilah yang terus berkecamuk,” ungkap pria yang dulu kuliah satu jurusan dengan (calon) istrinya itu.

Orangtua saya, sambungnya, adalah pemuka Hindu tetapi lebih moderat perihal keyakinan agama anak-anaknya. “Ya sempat ada konflik batin dan ide sebentar. Ada perasaan takut ketika mengatakan bahwa saya sudah memeluk Islam,” ujarnya.

“Kalau mau shalat Dhuhur dan Ashar harus keluar rumah. Izinnya mau main ke rumah teman. Kalau Maghrib, Isya, dan Subuh ya shalatnya sembunyi-sembunyi di rumah. Jangan sampai orangtua tahu. Sampai pada akhirnya saya memiliki keberanian mengatakan bahwa saya memeluk Islam,” akunya.

Hal yang tidak bisa dilupakan Sugiran dalam perkenalannya dengan Islam adalah ketika kecil bersama teman sebayanya bersarung ke mushala dan tidur di masjid. “Keinginan untuk memeluk Islam mulai tumbuh saat itu,” ucapnya.

Setelah momen tersebut niatan hati secara terang-terangan untuk berbicara dengan kedua orangtuanya untuk memeluk agama Islam semakin kuat. “Tapi, pikiran kalau nanti orangtuanya protes dan tidak setuju pun muncul. Sampai ada ide untuk keluar dari rumah dan cari kos,” kisahnya. Tapi pikiran itu sirna ketika orangtuanya menerima keyakinannya.

Sekarang, Sugiran sudah 13 tahun aktif di Muhammadiyah. Dua tahun ini dia juga aktif menjadi kontributor PWMU.CO. Salah satu kesan paling mendalam dan menggugah adalah saat mengkirim surat via pos ke AR Fachruddin (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 1968-1990) untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam.

“Luar biasa, surat saya dijawab. Itu adalah penghargaan dan menggerakkan hati untuk aktif di Muhammadiyah,” ceritanya.

Sugiran bersama istri dan anaknya kini hidup bahagia dengan Islam dan menjadi aktivis Muhammadiyah. Tapi dia tak lupa menjalin silaturahmi dengan orangtua dan mertua, meskipun mereka sama-sama masih belum menerima hidayah Islam. “Anak-anak biasanya dapat angpo tiga kali dalam satu tahun, saat Idul Fitir, Nyepi, dan Natal,” tutupnya sambil tersenyum. (*)

Kontributor Ichwan Arif. Editor Mohammad Nurfatoni.