Tertinggal Bus Rihlah Dakwah, Untung Ada Gadis Aceh Menyapa

134
Pasang Iklan Murah
Taufiq Burhan dan Asmawatie Rosyidah saat di Singapura.

PWMU.CO – Taufiq Burhan dan Asmawatie Rosyidah As’ad suami istri kelahiran Blitar dan Lamongan, peserta Rihlah Dakwah ini sempat tertinggal dengan rombongan saat berada di parkiran Pacific Express Hotel Kuala Lumpur (KL), Selasa (20/8/19).

Asmawatie dan suami pun sebenarnya bersama-sama keluar hotel dan sempat foto bareng. Lantas dia dan suami mencari tas di samping parkiran bus. Saat asyik mencari itu, tahu-tahu bus rombongan sudah tidah tidak ada.

iklan

”Sempat muncul pikiran, ini kami ditinggal atau tertinggal,” ujar Asmawatie pendek saat diwawancarai via aplikasi WhatsApp, Rabu (21/8/19).

Keduanya lalu berinisiatif mencari transportasi ke  Tower Petronas KL, tujuan perjalanan rombongan hari itu yang dia tahu. Asma, sapaan akrabnya, menuju ke halte bus dekat dengan hotel. Paketan roamingnya habis sehingga dia tidak bisa berkomunikasi di WA grup.

Sempat tanya pada orang pakai bahasa Indonesia bus yang ke Petronas, orang itu malah bingung tidak paham istilah bahasa Indonesia. Lantas dia coba pakai bahasa Inggris. Setelah beberapa saat bus datang,  Asma dan suami langsung naik. ”Free bus go to KL,” kata orang itu.

Setelah sampai di Tower Petronas,  masalah baru muncul. Asma tidak melihat rombongan  di lokasi tersebut. Dia tidak paham ternyata rombongan mengunjungi Istana Negara sebelum menuju ke Tower Petronas.

Suami istri ini jadi degdegan sebab itu hari terakhir di Malaysia. Khawatir ditinggal rombongan langsung pulang ke Surabaya. Sempat terpikir juga menuju ke Bandara Kuala Lumpur. Mencegat di sana saja.

”Untung ada Dinda, warga Aceh yang membantu me-WA-kan ke grup Rihlah bahwa dia dan suami sudah sampai di Petronas,” tuturnya.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, Asmawatie dan suami merasa lega begitu melihat bas pesiaran yang ditumpangi rombongan datang. Hatinya jadi plong bertemu kembali dengan rombongan.   

Meskipun sudah pernah ikut Rihlah Dakwah dua kali jalur mandiri, Asmawatie menyadari harus selalu memberitahu ketua rombongan saat pergi meskipun sebentar agartidak tertinggal.

”Ke depan Rihlah Dakwah harus ada organizing committe sebagai koordinator yang bertanggung jawab terhadap kelengkapan rombongan di dalam bus sebelum melanjutkan perjalanan. Sampai hal paketan roaming pun harus ada yang mengoordinasikan sehingga komunikasi di grup WA lancar,” usulnya. (*)

Penulis  Ichwan Arif Editor Sugeng Purwanto