Beda Indonesia dan Singapura, Begini Pendidikan Agama Diberikan di Negeri Singa

147
Pasang Iklan Murah
Abdullah dan Farah sedang menyiapkan wafle untuk para siswa yang antri dengan tertib (Darul Setiawan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pagi itu suasana halaman Masjid Siglap di Marine Parade Road Singapura cukup ramai. Para siswa berbaju putih tampak antre dengan teratur dan rapi. Seperti kebanyakan siswa di Indonesia, pada saat jam istirahat, kantin menjadi jujukan utama mereka.

Bedanya di Kantin Masjid Siglap Singapura ini, para siswa tidak tampak uyel-uyelan. Mereka tetap berdiri tenang menunggu giliran. Ada dua penjual makanan di Kantin Masjid Siglap, yang menjual wafle dan minuman.

iklan

Farah dan Abdullah, pasangan suami-istri penjual wafle di Kantin Masjid Siglap mengatakan, para siswa memang selalu antre saat membeli makanan di kantin. Padahal, cukup lama keduanya mengaduk adonan, memanggang, hingga menyajikan wafle pada mereka. “Iya, bisa dilihat mereka tampak santai,” ungkap Abdullah yang berharap anaknya bisa mondok di Indonesia tersebut, Ahad (18/8/19).

Masjid Siglap merupakan satu dari 70 masjid di Singapura yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam tiap Sabtu-Ahad. Para siswa yang beragama Islam mendapatkan pelajaran tentang tauhid, fikih, tilawah, hingga tahfidh Alquran di akhir pekan.

Dr Muhammad Amin berfoto bersama peserta Rihlah Dakwah di depan Masjid Siglap lama (Darul Setiawan/PWMU.CO)

Hal tersebut dibenarkan pengurus Masjid Siglap Dr Muhammad Amin. Menurutnya, sekolah-sekolah di Singapura memang tidak menyertakan pendidikan agama saat jam efektif sekolah, atau dari Senin-Jumat. Sebagai gantinya, pelajaran agama diberikan di masjid-masjid yang ada pada tiap kluster yang telah ditunjuk. Para siswa boleh memilih masjid di kluster dekat tempat tinggalnya ataupun tidak.

“Para siswa yang beragama Islam memang diberi pilihan, tidak diwajibkan untuk mengambil kursus agama tiap pekan. Mereka boleh memilih boleh juga tidak. Tak ada paksaan,” ungkap Amin.

Amin lalu melanjutkan, dalam kursus agama tiap pekan tersebut menggunakan bahasa Inggris. “Karena yang mengikuti kegiatan ini cukup banyak, tidak hanya dari kalangan Melayu. Namun juga ada dari Timur Tengah, India, dan kawasan Asia lainnya,” ujar Amin. Penggunaan Bahasa Inggris dianggap lebih memudahkan, universal, serta bisa diterima seluruh siswa. (*)

Kontributor Darul Setiawan. Editor Mohammad Nurfatoni.