Awas! Yakjuj dan Makjuj di Sekitar Kita (Bagian 3): Dari Mongol, Inggris sampai Bani Israel Ke-13

3668
Pasang Iklan Murah
Anwar Hudijono (M Nurfatoni/PWMU.CO)

PWMU.CO – Bagaimana kehidupan Yakuj dan Makjuj di balik tembok Zulkarnain? Berapa populasinya. Bagaimana sistem ekonominya. Apa yang dimakan. Bagaimana caranya tidur. Bagaimana model pakaiannya. Di mana habitat mereka. Bagaimana bahasanya. Dan banyak lagi pertanyaan lain yang kalau disusun membutuhkan waktu tujuh hari tujuh malam. Itu pun bisa belum beres.

Atas selaksa pertanyaan demikian, saya belum menemukan jawabannya baik berdasar Alquran maupun Alhdits. Belum juga ada bukti-bukti arkelologis dan antropologis yang kuat. Yakjuj dan Makjuj benar-benar sangat misterius.

iklan

Sampai kemudian Rasulullah mengisyaratkan bahwa tembok Zulkarnain sudah terbuka sambil membuat lingkaran yang mempertemukan ujung jari telunjuk dengan jempol. Memang tidak secara harfiah Nabi SAW mengatakan bahwa Yakjuj dan Makjuj sudah keluar. Tapi lingkaran jari merupakan simbolik bahwa Yakjuk dan Makjuj sudah keluar. Dan keluarnya mereka adalah salah satu tanda hari kiamat sudah dekat. Sekaligus bisa jadi merupakan petunjuk agar dalam membahas Yakjuj dan Makjuj menggunakan metode ruhi, semiotik.

Alquran sendiri menegaskan bahwa Allah akan menghancurkan tembok Zulkarnain itu jika sudah tiba saatnya (Alkahfi 98). Persoalannya, apakah sekarang Allah sudah menghancurkan tembok itu apa belum. Apakah masih berlobang seperti simbolik dari Nabi SAW. Lagi-lagi sangat misterius.

Jamaknya ulama dan ilmuwan sepaham bahwa Yakjuj dan Makjuj sudah keluar. Mereka tetap membawa misi membuat kerusakan di atas bumi. Persoalan yang sejak dulu sangat kompleks, penuh emosi, banyak perdebatan, penuh kecurigaan dan bahkan berpotensi hoax dan fitnah adalah siapakah sebenarnya Yakjuj dan Makjuj itu?

Ketika imperium Mongol yang dipimpin Kaisar Jenghis Khan menjarah, merusak peradaban, membunuh puluhan juta jiwa, menjajah lebih separuh dunia pada abad ke-13, mereka distigma Yakjuj dan Makjuj. Tapi stigma ini perlahan kabur layaknya kabut tersingkap sinar matahari, ketika banyak raja dan pemimpin keturunan Jenghis Khan yang memeluk Islam. Bahkan menjadi raja Negara Islam.

Inggris pada saat menguasai dunia sekitar abad ke-19 juga pernah dianggap sebagai Yakjuj dan Makjuj. Pada era Perang Dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet, keduanya dianggap Yakjuj dan Makjuj. Kelihatan mereka bermusuhan tapi sebenarnya main cincai bagi-bagi jatah dunia. Mereka hakikatnya sama-sama perusak, penindas.

Spekulasi zaman now Yakjuj dan Makjuj adalah Amerika dan China. Di permukaan mereka bersaing, terlibat perang dagang, tapi di balik kemasannya mereka satu jiwa. Serakah, merusak, menindas, tidak beradab, hipokrit. Mereka itu layaknya kapak merah bermata dua. Alias dua tapi satu, atau satu tapi dua.

Yahudi ke-13
Analisis (spekulasi) terakhir yang sangat menarik adalah ikhtiar pemikiran (tajdid) Syekh Imran Nazar Hossein, pakar eskatologi Islam internasional, dosen Universitas Karachi Pakistan asal Trinidad dan Tobago. Dia menggunakan Alquran dan Alhadits sebagai pijakan pembahasan, diperkuat dengan multidisiplin ilmu seperti fisika, antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, dan lain-lain. Ini boleh dibilang analisis yang tidak bisa diremehkan bobotnya.

Imran Hossein terang-terangan berkesimpulan bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah golongan Yahudi ke-13. Mereka adalah bangsa yang memeluk agama Yudaisme (Yahudi) tetapi bukan keturunan Israel atau Nabi Ya’kub. Nabi Ya’kub punya anak 12 orang, termasuk Nabi Yusuf.

Cikal bakalnya adalah bangsa Kazzar di kawasan Pegunungan Kaukasus. Berdasarkan telaah fisika dan geografis, di pegunungan inilah tembok Zulkarnain berada. Bangsa Kazzar memeluk Yudaisme bersifat politis, bukan untuk mengamalkan ajarannya.

Kerajaan Kazzaria dihancurkan Kaisar Tsar dari Rusia. Mereka mengalami diaspora ke pelbagai penjuru dunia. Mereka membentuk organisasi, paguyuban, komunitas. Mereka balas dendam kepada Tsar berupa Revolusi Bolshevik yang berakhir dengan kehacuran kekaisaran Tsar dan berdirinya Uni Soviet.

Sebagian dari mereka tetap mempertahankan Yudaisme sebagian lagi masuk Kristen untuk tujuan politik. Tokoh-tokohnya di tingkat dunia membangun Zionisme. Misi mereka adalah menguasai Israel Raya dengan ibukota di Yerussalem atau Alquds.

Misi mereka mulai berhasil atas bantuan Inggris yang mendirikan Negara Israel 14 Mei 1948 dengan cara menganeksasi tanah bangsa Palestina. Yahudi ke-13 ini secara bergelombang mengalir dari pelbagai belahan dunia ke Israel. Menurut penelitian, 90 persen bangsa Yahudi yang kini bermukim di Israel adalah Yahudi keturunan Eropa atau diaspora bangsa Kazzar. Hanya 10 persen Yahudi ber-DNA Smit atau keturunan Nabi Ya’kub.

Perlahan tapi pasti arealnya terus bertambah dengan cara menganeksasi wilayah Arab seperti Dataran Tinggi Golan milik Syuriah, Sinai milik Mesir, Tepi Barat milik Yordania, dan sebagian wilayah Lebanon.

Pada tahun 2018 Israel didukung Amerika mengumumkan bahwa Ibukota negara pindah dari Tel Aviv ke Al Quds. Berdasar petunjuk nubuwat memang pusat kerajaan akhir zaman itu di Alquds atau Yerussalem. Rajanya adalah Mesias atau menurut Yudaisme adalah sang Juru Selamat. Tapi bagi umat Islam, Mesias yang diklaim Yahudi itu adalah Dajjal atau lengkapnya Masih al Dajjal alias Mesias Palsu.

Dengan demikian ada kaitan yang jelas antara Yakjuj dan Makjuj dengan Dajjal. Bahkan Dajjal mengatakan bahwa air Danau Tiberias di Palestina (sekarang wilayah Israel) akan mengering. Sementara kata Hadits, saat gelombang Yakjuk dan Makjuj terakhir lewat di danau itu akan bilang bahwa dulu danau ini pernah ada airnya.

Sehingga kesimpulannya bahwa tanda kiamat adalah danau Tiberias mengering. Ketika dalam beberapa tahun terakhir, air danau itu terus menyusut banyak yang bilang kiamat sebentar lagi. Tapi kini permukaan airnya naik lagi. Yang perlu direnungkan, air danau Tiberias dalam Hadits itu empirik apa simbolik. Juga harus direnungkan pula makna dibalik Hadits bahwa Yakjuj dan Majuj dari bukit Al Quds memanah ke langit dan ketika anak panahnya kembali ke bumi berlumuran darah. (*)

Oleh Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo