Begini Syariat Berbakti pada Orangtua, Baik saat Masih Hidup maupun Telah Wafat

396
Pasang Iklan Murah

PWMU.CO – Berbuat kebajikan pada kedua orangtua adalah kewajiban anak. Berikut ulasan Alquran dan Alhadits tentang hal itu.

عَنْ أُبَيِّ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ – رواه احمد

iklan

Dari Ubay Ibni Malik, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa mendapati kedua orangtuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan mengucilkannya dan membinasakannya” (HR Ahmad No.19027).

Status Hadis

Sanad hadis ini shahih, semua perawinya tsiqah, dan merupakan perawi Shahihain kecuali Ubay Ibni Malik, namun beliau adalah seorang shahabat Nabi, dan sahabat Nabi itu semuanya adil (Musnad Ahmad bin Hanbal, ta’liq Syu’ayb al-Arnout, IV/344). Muhammad Nashiruddin al-Albani juga menyatakan bahwa hadis tersebut shahih (al-Silsilah al-Shahihhah, II/42).

Kandungan Hadis

Hadis tersebut menjelaskan bahwa salah satu penyebab seseorang masuk neraka adalah karena tidak berbakti kepada kedua orangtua. Lebih-lebih saat kedua orangtua sudah tua-renta, kemudian ia masih lalai dan tidak memperhatikan keduanya, maka Allah akan mengancam dengan memasukkannya ke dalam neraka, lalu mengucilkannya, dan membinasakannya.

Untuk menghindarkan diri dari ancaman masuk neraka, seseorang harus berbuat baik kepada kedua orangtua yang disebut dengan istilah “birrul walidain”. Birrul walidain, artinya, berbuat baik kepada keduanya (Mu’jam Lughat al-Fuqaha, I/105). Ali bin Nayif dalam kitabnya al-Mausu’ah mengemukakan bahwa birrul walidaini adalah berbuat baik kepada keduanya (kedua orangtua) dan memenuhi hak-hak mereka, serta mentaatinya. Lawan dari birrul walidain adalah durhaka kepada keduanya, yaitu berbuat jahat kepada keduanya (termasuk melukai hatinya) dan menyia-nyiakan hak-hak keduanya (Mausu’ah al-Khuthab Wa al-Durus, IX/321).

Bagi seorang Muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orangtua bukan sekadar memenuhi norma etika dan kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka mentaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al Isra: 23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada seseorang yang berusaha berbakti kepada kedua orangtuanya dengan jaminan surga, lebih-lebih saat keduanya sudah tua-renta. Beliau bersabda: “Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR Muslim 2551)

Al-Nawawi, dalam Kitab Syarh Shahih Muslim, menjelaskan: “Para ahli bahasa mengatakan bahwa raghima anfun maknanya adalah kehinaan dan kenistaan, kemurkaan baginya dan ia pantas dipermalukan, yaitu dengan huruf ghain di fathah atau di-kasrah, kemudian “al-rughmi” dengan huruf ra di-dhammah atau di-fathah atau di-kasrah. Kata ini makna aslinya: ‘dilempar hidungnya dengan righam’. Righam adalah pasir yang bercampur dengan kerikil. Sebagian ahli bahasa juga mengatakan bahwa al-ragham adalah segala sesuatu yang mengganggu jika mengenai hidung. Lebih lanjut al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis tersebut memberikan anjuran untuk melakukan birrul walidain dan menjelaskan tentang besarnya pahala bagi orang yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Artinya, berbakti kepada kedua orangtua, lebih-lebih ketika mereka sudah tua, dalam bentuk khidmah (bantuan fisik), atau nafkah, atau dalam bentuk lain, merupakan sebab untuk masuk surga. Barangsiapa yang lalai terhadap hal ini maka berarti ia telah melewatkan kesempatan masuk surga dan ia akan mendapat kehinaan di sisi Allah” (Syarh Shahih Muslim, VIII/338).

Berbakti kepada orangtua adalah ladang pahala yang besar dan pintu masuk surga. Bahkan ada keistimewaan pintu di surga bagi orang-orang yang berbakti kepada orang tua. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْه

“Orangtua adalah pintu surga paling pertengahan di antara pintu-pintu surga lainnya. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu (maka kau tidak akan mendapatkan surga) atau jagalah ia (agar kau mendapatkan pintu surga itu)” (HR. Tirmidzi No. 1900, Ibn Majah No. 2089, Ahmad No. 27511). Al-Albani menilai bahwa hadis ini shahih (al-Silsilah al-Shahihah, II/488).

Tentang cara berbakti kepada kedua orangtua, Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid dalam kitabnya (Iqadz al-Afham Syarh ‘Umdat al-Ahkam, II/6) mengemukakan bahwa berbuat baik kepada kedua orangtua itu ada dua macam:

Pertama, berbuat baik kepada orangtua saat mereka masih hidup. Dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara (1) berbicara kepada keduanya dengan cara yang santun, lembut dan penuh hormat. Selain itu (2) menunjukkan sikap rendah diri (tawadhu’) di hadapan orangtua, kemudian (3) memberikan nafkah kepada mereka terutama saat-saat mereka sudah tidak sanggup lagi bekerja mencari nafkah, lalu (4) melayani keduanya dengan tulus, dan (5) berusaha untuk mendapatkan ridha dari kedua orangtua. (Al-Isra, 17: 23-24)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Keridhaan Tuhan ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Tuhan ada pada kemurkaan orang tua” (HR Tirmidzi). Al-Albani menilai hadis ini shahih (Shahih Wa Dha’if al-Jami’ al-Shaghir, XIII/192).

Kedua, berbakti kepada orangtua setelah wafatnya. Dalam hal ini bisa dilakukan dengan (1) selalu mendoakan kepada kedua orangtua agar mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah SWT: (2) melaksanakan wasiat atau pesan-pesan mereka sebelum wafatnya, sepanjang wasiat itu dapat dilakukan dan tidak bertentangan dengan syariat; dan (3) menghormati orang-orang dekatnya serta teman-teman kedua orangtua pada masa hidupnya.

Diriwayatkan dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata: “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orangtuaku ketika mereka telah meninggal dunia?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya (yaitu dengan) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orangtua yang tidak pernah terjalin kecuali dengannya dan memuliakan teman dekat keduanya.’” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain).

Status hadis tersebut diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama melemahkannya (al-Albani, Shahih Wa Dha’if Sunan Abi Dawud, I/2). Namun sebagian ulama yang lain meng-hasan-kan bahkan ada yang menshahihkannya (al-Hakim, al-Mustadrak, IV/154; Ibn Hibban, Shahih Ibn Hibban No. 418, Vol. II/162; dan al-Askanadari, al-Ta’aqqub al-Mutawani ‘Ala al-Silsilah al-Dha’ifah Li al-Bani, I/8).

Salah satu contoh menarik tentang birrul walidain adalah kisah Usamah bin Zaid. Muhammad bin Sirin berkata: “Pada zaman Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu harga pohon kurma pada saat itu mencapai 1.000 dirham. Saat itu Usamah bin Zaid melubangi pohon kurma dan mengeluarkan jantung pohon kurma-nya (jawa, empol) dan diberikan kepada ibunya sebagai makanan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Usamah apa yang membuatmu melakukan hal ini? Sedangkan engkau tahu bahwa harga kurma ini senilai 1.000 dirham? Usamah bin Zaid berkata: “Sesungguhnya ibuku meminta jantung pohon kurma kepadaku. Dan tidaklah ibuku meminta sesuatu yang aku kuat untuk membelinya kecuali aku akan memberikannya”(Ibn Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra, IV/71).

Kisih masa kini terjadi pada Xu Da Hui, seorang mahasiswi jurusan Tekno Elektrik dan Mekanik di Institut Bioengineering Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok. Ia selalu membawa sang ayah masuk ke dalam kelas, karena sang ayah mengalami pendarahan otak akut. Tak ada rasa malu ketika ia mengajak ayahnya yang tengah lumpuh ini ke dalam kelas, bahkan teman-teman sekampusnya pun salut atas apa yang dilakukan Xu Da Hui. Meskipun sibuk membagi waktu mengurus orang tua dan belajar, secara mengagumkan Xu Da Hui terus berada di peringkat teratas dalam hampir seluruh mata kuliahnya.

Ia memutuskan untuk membawa ayahnya ke kampus karena sang ibu sudah tak lagi mampu merawatnya. Xu Da Hui memiliki jadwal kuliah yang sangat padat, namun hal itu tidak membuatnya lelah untuk merawat sang ayah. Karena terharu melihat perjuangan Xu Da Hui yang begitu kuat, akhirnya pihak universitas membantu Xu Da Hui dengan memberikan apartemen secara gratis. (https://www.yukepo.com). (*)

Oleh Dr H Achmad Zuhdi SH MFil I, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian hadits ini kali pertama dimuat di Majalah MATAN.