Menyoal Parameter Pimpinan Sekolah Muhammadiyah di Tengah Persaingan Dunia Pendidikan

322
Pasang Iklan Murah
Ahmad Faizin Karimi. (Dok Pribadi)

PWMU.CO – Muhammadiyah memiliki lembaga pendidikan swasta dengan jumlah paling besar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Lebih dari 4.500 sekolah dasar dan menengah, serta lebih dari 170 perguruan tinggi. Secara kuantitatif itu adalah capaian prestisius. Namun secara kualitatif, kita agaknya perlu dengan terbuka mengakui bahwa lembaga pendidikan kita perlu akselerasi.

Akselerasi kinerja lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah keniscayaan, jika kita tidak mau satu persatu lembaga pendidikan kita tutup karena kekurangan siswa. Mengapa sampai kekurangan siswa? Karena tidak mampu bersaing. Mengapa tidak mampu bersaing? Faktor utamanya karena program-programnya tidak menarik minat masyarakat.

iklan

Bagi sekolah Muhammadiyah di perkotaan, tantangannya datang dari sekolah non-Muhammadiyah yang makin berkualitas. Bagi sekolah Muhammadiyah di perdesaan (dengan preferensi ideologi sebagai faktor penentu pemilihan sekolah) tantangannya adalah jumlah warga Muhammadiyah yang sedikit. Karena itu, mau tidak mau harus meraih “pasar umum”, dan siap bersaing dengan sekolah umum lainnya.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi akselerasi kinerja itu. Tapi ujung-ujungnya tetap pada faktor leadership (kepemimpinan) kepala sekolah. Dalam konteks inilah saya ingin menyoal parameter yang selama ini digunakan dalam menentukan kepala sekolah. Jika selama ini hal-hal utama yang dipertimbangkan adalah: tes psikologi, visi, dan pengalaman organisasi. Hal-hal yang lain agaknya dianggap kurang penting oleh tim seleksi.

“Kegilaan adalah melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang, tapi mengharapkan hasil yang berbeda,” demikian para bijak. Termasuk dalam menentukan kepala sekolah Muhammadiyah. Jika kita ingin akselerasi, maka parameter seleksi harus diubah. Disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Saya mengusulkan tiga parameter baru yang harus diprioritaskan, yakni:

Pertama, alih-alih menyampaikan “visi”, calon kepala sekolah justru lebih dibutuhkan yang mampu menguraikan “misi”. Bagaimana cara mem-breakdown visi menjadi misi dan menurunkannya secara sistematis-gradual dalam program kerja, saya rasa lebih penting dari pada sekedar membual soal visi. Visi adalah hal abstrak yang bisa di-omong-kosong-kan siapa saja.

Kedua, tradisi literasi. Seorang pemimpin yang tidak punya tradisi membaca—juga menulis—tidak mungkin dia punya pandangan dan referensi memadai untuk memajukan lembaganya. Kalau ia sendiri tidak memperbarui kesadaran serta pengetahuannya terus-menerus, bagaimana mungkin kita berharap ia bisa membawa lembaganya menuju masa depan?

Ketiga, kreativitas. Di dunia yang makin kompetitif ini mutlak seorang pemimpin yang kreatif dibutuhkan untuk bisa memberikan terobosan, menawarkan ide alternatif pemecahan masalah. Dari mana melihat kreativitasnya? Bisa dari tes kreativitas juga bisa dilihat dari rekam jejak karyanya.

Lalu bagaimana dengan hal-hal mainstream seperti: ideologi, keislaman, dan perilaku? Ya tentu itu otomatis, tidak perlu dijadikan parameter utama. Kalau ada kekurangannya dalam soal-soal seperti itu, tugas pimpinan persyarikatan melakukan pembinaan.

Pembinaan terhadap soal ideologi, keislaman, dan perilaku itu jauh lebih mudah daripada membentuk tiga parameter baru yang saya uraikan di atas.

Bagaimana? Berani berubah atau masih melakukan hal-hal yang sama berulang? Kalau masih tetap melakukan seperti sebelumnya maka jangan harap mendapatkan hasil yang berbeda. Itu mimpi di siang bolong. (*)

Kolom oleh Ahmad Faizin Karimi, Guru SMK Muhammadiyah 5 (SMK Mulia) Gresik.