Krisis Kader dan Kebutuhan Reorientasi Pelajaran Kemuhammadiyahan

219
Pasang Iklan Murah
Ahmad Faizin Karimi. (Dok)

PWMU.CO – Tanyalah kepada para aktivis persyarikatan tentang problem mendasar apa yang mereka galaukan. Maka akan kita jumpai salah satunya adalah tentang krisis kader. Tidak hanya secara kuantitas, tapi juga secara kualitas.

Klaim “minoritas kreatif” ala Toynbee yang kerap disematkan kepada Muhammadiyah bisa jadi sudah tidak berlaku. Siklus mimesis mayoritas pada tajdid Muhammadiyah sudah berhenti sejak lama, karenanya Muhammadiyah sudah bukan minoritas kreatif lagi.

Pertanyaannya, lembaga pendidikan kita banyak, tapi mengapa produksi kader tidak efektif? “Kita kurang kader penggerak,” ucap seorang senior dalam sebuah kesempatan diskusi ringan di warung kopi. “Ya, termasuk mencari kader ulama juga sulit setengah mati. Ke mana perginya lulusan pondok pesantren kita?” timpal yang lain.

iklan

“Ke mana lulusan pendidikan Muhammadiyah menghilang?” Pertanyaan itu mengusik saya yang asyik mengikuti diskusi mereka. Saya lalu ingat tentang perspektif eksistensialis versus fungsional dalam memandang fenomena agama. Mengapa perspektif ini bisa digunakan untuk melihat fenomena krisis kader? Ya tidak lain karena Muhammadiyah sendiri sebagai institusi adalah bagian dari keberagamaan secara operasional.

Bagi kaum fungsional seperti Marx, Freud, Durkheim, sampai Dewey orang beragama karena agama itu memberi manfaat. Inilah yang menjadi motif sebagian pelaksana Muhammadiyah di AUM (amal usaha Muhammadiyah), ber-Muhammadiyah itu fungsional. Makanya, tidak sulit bagi AUM untuk mencari pegawai.

Tapi bagi kaum eksistensialis, beragama itu tidak harus karena ada manfaat materialnya. Kelompok eksistensialis seperti Frazer, Eliade, Otto melihat orang beragama melakukan aktivitasnya bukan atas pertimbangan manfaat material. Mengikuti perspektif ini, mereka yang mau aktif menjadi penggerak Muhammadiyah baik yang bekerja di AUM maupun tidak adalah kelompok eksistensialis Muhammadiyah.

Krisis kader adalah krisis kaum eksistensialis Muhammadiyah. Karenanya penyelesaiannya juga dengan perspektif eksistensialis, bukan fungsional. Salah satunya–seperti kata Otto–adalah dengan membuat calon kader merasakan pengalaman keagamaan (baca: pengalaman ke-Muhammadiyahan) secara personal.

Kembali pada kegalauan soal krisis kader padahal lulusan Muhammadiyah banyak, maka perlu ada perombakan mendasar pada orientasi pelajaran Kemuhammadiyahan.

Pelajaran Kemuhammadiyahan tidak boleh berorientasi fungsional: sekadar pengetahuan tentang Muhammadiyah. Kata Rocky Gerung dalam cuitannya, “Pengetahuan itu cuma data. Ia mati. Pemahaman itu nalar. Ia menghidupkan.” Membentuk pemahaman (serta kesadaran) ber-Muhammadiyah itu lebih penting pada aspek pengalaman daripada pengetahuan.

Ulangan, ujian, dan aneka soal agaknya tidak relevan sebagai ukuran capaian pelajaran ke-Muhammadiyahan. Bagaimana peserta didik bisa “mengalami menjadi Muhammadiyah” agaknya harus diutamakan.

Bagaimana caranya? Banyak. Bisa dengan penugasan lapangan, kader “kinthil”, sampai proyek-proyek sosial keagamaan. Tentu ada banyak faktor lain, mari kita pikirkan bersama.

Bukankah dulu Kiai Haji Ahmad Dahlan juga mengajarkan agama melalui pendekatan eksistensial dalam kisah populernya ngaji al-Maun itu? Bahkan bukankah Allah SWT dulu juga berbeda memperlakukan, kepada malaikat diajari melalui aradha tapi kepada Nabi Adam AS melalui allama?

Kolom oleh Ahmad Faizin Karimi, Guru SMK Muhammadiyah 5 (Mulia) Gresik.