Begini Cara SD Muri Berduka Cita atas Wafatnya Habibie

80
Pasang Iklan Murah
Pengibaran bendera setengah tiang di SD Muri. (Moh. Mualif Zarkasyi/PWMU.CO)

PWMU.CO – Duka cita mendalam dirasakan keluarga besar Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Giri (SD Muri), Kebomas Gresik, atas wafatnya Presiden Ke-3 Republik Indonesia Baharuddin Jusuf Habibie, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9/19).

Setelah pengibaran bendera setengah tiang di halaman sekolah Kamis (12/9/19) pagi, 35 siswa kelas VI diajak walikelasnya menuju ruang khusus untuk menyaksikan prosesi pemakaman Habibie secara live di salah satu televisi nasional.

Wali kelas VI Saidah Yuliana Wahyuni SPd atau yang akrab disapa Ustadzah Yun mengatakan, kegiatan ini bertujuan mengajak siswa untuk mengenang sosok Habibie yang begitu besar jasa-jasanya bagi kemajuan bangsa Indonesia.

“Mengenal lebih dekat seorang inspirator bangsa di momen hari ini diharapkan memberikan kesan mendalam untuk siswa, dan juga sebagai bentuk penghormatan terakhir sebagai bagian dari warga negara Indonesia,” ujarnya.

Suasana nonton bareng pemakaman Habibie. (Moh. Mualif Zarkasyi/PWMU.CO)

Menurutnya, kepergian Habibie adalah duka yang mendalam bagi Indonesia karena kehilangan putra terbaiknya. “Kami berharap anak anak negeri termasuk semua siswa kami bisa menjadi penerus semangat Pak Habibie untuk terus giat belajar, menjadi cerdas dan berakhlak mulia,” harapnya.

Dia menambahkan, anak-anak juga harus mengambil teladan jiwa patriotisme dan cinta tanah air yang mendalam dari sosok Habibie. “Yang dalam keadaan sakit hingga akhir hanyatnya selalu memikirkan masa depan bangsa,” tuturnya.

Setelah kegiatan, siswa diajak untuk mendoakan Habibie. Sebelumnya siswa mendapatkan tugas rumah untuk mecari tahu tentang Habibie dari berbagai sumber, lalu menuliskannya dalam sebuah esai sederhana bertema Tentang Habibie yang Kutahu.

“Tugas ini akan menjadi salah satu penilaian portofolio siswa, agar anak-anak lebih mendapatkan manfaat dari kegiatan hari ini,“ kata Ustadzah Yun.

Kontributor Moh. Mualif Zarkasyi. Editor Mohammad Nurfatoni.