Doa untuk BJ Habibie Disampaikan Rakyat di Mana-Mana

116
Pasang Iklan Murah
Shalat gaib di SMK Mutu Gondanglegi. (Amsori/pwmu.co)

PWMU.CO– Meninggalnya Presiden ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie meninggalkan duka bagi semua rakyat. Mereka yang berada di seluruh pelosok negeri mendoakannya.

Seperti warga SMK Muhammadiyah 7 (SMK Mutu) Gondanglegi Malang dan SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) Sidoarjo yang berdoa dan shalat gaib, Kamis (12/9/2019).

iklan

Di SMK Mutu shalat diikuti seluruh siswa, guru, dan karyawan bertempat di lapangan The Titanium Building. Dipimpin guru Al Islam Ustadz Zuchdi SAg seusai sholat Duha. ”Kita mendoakan keselamatan almarhum yang banyak berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” tutur Zuchdi.

Hafis Nashirudin, siswa kelas XI TAB 2, mengatakan, merasa kehilangan tokoh inspiratif dalam perkembangan pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Shalat gaib di Smamita. (Wahyu/pwmu.co)

Sementara di Smamita shalat gaib diiikuti semua guru karyawan dan 745 siswa sebelum shalat Ashar.  Seorang siswa Maulana Yoga Rakhmadi merasa sedih  meninggalnya BJ Habibie karena sosok yang membuat indonesia menjadi maju. Belum muncul lagi tokoh sekaliber dia.

SMK Muhammadiyah 1 Gresik juga  mengadakan salat gaib dan doa untu BJ Habibie, Kamis (12/9/2019). Salat gaib dilaksanakan di lapangan sekolah pukul 07.00 dengan imam Drs Nur Ali.

Shalatgaib di SMK Mutu Gresik. (Prayoga/pwmu.co)

Seusai shalat gaib dilanjutkan dengan ceramah agama. Nur Ali menjelaskan, sejatinya yang hidup akan kembali kepada Sang Pencipta. Kita tidak tahu kapan kita dipanggil.  Bisa saja sekarang, bisa saja nanti, dan hanya Allah yang tahu. Kelak di akhirat semua derajat kita sama, meskipun di dunia kita memiliki jabatan tinggi, namun di akhirat semua derajat kita sama.

Sesi berikutnya ulasan kisah perjalanan hidup BJ Habibie dan doa oleh Eko Prasetyo Hidayat SPd. Dia menjelaskan, BJ Habibie adalah sosok Bapak Teknologi yang banyak menyumbangkan ide, tenaga, serta pikirannya untuk mengabdi pada negeri. (*)

Penulis Amsori, Wahyu Murti, Prayoga Cahya Editor Sugeng Purwanto