Doa untuk Habibie Terus Mengalir, Kali Ini dari SD Mugeb

60
Pasang Iklan Murah
Suasana shalat ghaib siswa SD Mugeb (Viki Safitri/PWMU.CO)

PWMU.CO – Duka atas wafatnya Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie turut dirasakan SD Muhammadiyah 1 GKB (SD Mugeb).

Pada Kamis (12/9/19), yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Berkabung Nasional, SD Mugeb menggelar shalat ghaib untuk menghormati tokoh yang dikenal sebagai Bapak Teknologi itu.

iklan

Tak hanya untuk BJ Habibie. Shalat ghaib juga ditujukan untuk Praja Hermawan, ayah Puri Sakinah siswa kelas II-Marwah dan H Abdul Mukhlis, ayah Slamet Hariadi, salah satu pengrus Lazismu GKB. Keduanya juga telah berpulang.

Shalat ghaib berjamaah ini diikuti siswa kelas V dan VI dan dilaksanakan setelah shalat Dhuhur.

Kelas V melaksanakan shalat ghaib di selasar gedung baru sekolah dengan Ustadz Aditama SPdI bertindak sebagai imam. Sedangkan siswa Kelas VI melaksanakan shalat ghaib di aula diimami oleh Ustadz M. Taufiq SAg.

Taufiq mengatakan, shalat ghaib ini juga bertujuan untuk membentuk karakter sisw, agar peduli pada lingkungan, khususnya pada sesama (Muslim).

“Dengan melaksanakan shalat ghaib, berarti anak-anak telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim terhadap sesamanya,” ujarnya.

Praktik shalat ghaib ini menjadi bentuk aplikasi dari pembelajaran Al Islam. “Sebagai sarana pembelajaran langsung pada anak-anak, khususnya terkait materi shalat jenazah,” tambah Wakil Kepala Sekolah Bidang Umum SD Mugeb itu.

Taufiq juga menjelaskan dengan melakukan shalat ghaib dapat mengingatkan kita pada kehidupan yang sebenarnya. “Sebagai pengingat kita juga kalau hidup di dunia hanya sementara, ada kehidupan yang hakiki, sebenarnya di akhirat,” imbuhnya.

Bagi siswa kelas V, sambungnya, shalat ghaib ini merupakan pengalaman pertama. Namun bagi kelas VI bukan lagi hal yang baru karena sebelumnya mereka sudah pernah berpraktik shalat ghaib.

“Kalau kelas VI sudah pernah, dulu waktu mereka masih kelas V. Tapi untuk yang kelas V, sekarang ini baru pertama kali praktik bersama di sekolah,” terangnya.

Karina Athandini, siswa kelas VI-Abu Bakar, mengaku lebih khusyuk ketika mengikuti shalat ghaib dari pada saat kelas V dulu. “Alhamdulillah tadi shalatnya lebih khusyuk,” ujarnya.

Anak yang akrab disapa Karin ini juga menyelipkan doa bagi ketiga almarhum yang dishalatkan. “Sedih ya Pak Habibie wafat, kan banyak berkontribusi ya untuk Indonesia, tapi untuk ketiga almarhum semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah, dosanya dihapus, dan diringankan jalannya (menuju surga),” ungkapnya. (*)

Kontributor Mar’atus Sholichah. Editor Mohammad Nurfatoni.