Larangan Mencela Ciptaan Allah, seperti Turunnya Hujan atau Datangnya Malam

62
Pasang Iklan Murah
Ustadz Anas Thohir saat menyampaikan Kultum Jumat Pag. (M Ali Syafaat /PWMU.CO)

PWMU.CO – Larangan mencela ciptaan Allah disampaikan Anas Thohir SAg MPdI dalam Kutum Jumat Pagi di ruang guru SMA Muhammadiyah 1 Gresik Jalan KH Kholil, (13/9/19).

Jumat tepat pukul 06.30 WIB, seluruh dewan guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu) sudah siap menerima materi kultum yang sebenarnya disampaikan oleh Choirul Isak MPd. Namun karena berhalangan hadir, maka Anas Thohir menggantikan tugasnya.

Melanjutkan materi Jumat lalu Ustadz Anas, sapaan akrabnyam melanjutkan tafsir surat Fussilat 37: “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah adalah malam, siang, matahari dan bulan. Dan janganlah bersujud kepada matahari dan bulan tetapi bersujud lah kepada Allah Yang menciptakan nya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

“Ayat ini mengajarkan untuk bertauhid di mana ayat ini sering dibaca ketika shalat gerhana,” ujar Ketua Majelis Tabligh Pimpian Daerah Muhammadiyah Gresik itu.

Dia menyampaikan, dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, jangan menyekutukan yang terkait dengan sesembahan, karena Allah tidak memberi ampunan. Ibadah kalian kepada mereka tidak memberi manfaat sama sekali. “Ini maksud dari ayat itu,” ucap Anas.

Dia lalu membacakan ayat 38, “Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang disisi Tuhanmu bertasbih kepada Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak bosan.”

Menurut Anas, yang dimaksud orang yang sombong di sini adalah jika mencaci atau memberi kata-kata buruk pada siang, malam, matahari, bulan, dan angin, karena semua itu diutus oleh Allah memberi rahmat pada suatu kaum dan memberi adzab pada suatu kaum.

“Ada sebuah syair di pesantren, Yatamannal maru fishai fisshifa gaidza syitaan karahu. Manusia itu berangan-angan hujan, kapan hujan, lalu mengingkari,” kata Anas.

Maksudnya, setelah Allah turunkan hujan, manusia sambat. Waduh kok hujan. Cucian tidak kering, jalan jadi becek, keluar rumah susah dan seterusnya. “Ini yang dimaksud mencaci itu tadi,” jelas dia.

Dia melanjutkan, “Nabi berkata, diutus Allah menjadi rahmat atau adzab bahwa sebenarnya mereka bertasbih kepada Allah siang dan malam.”

Makhluk Allah itu, sambungnya, semuanya tunduk kepada hukum Allah seperti dalam Fussilat 39. “Waktunya hujan ya hujan, waktunya kering ya kering. Tidak pernah membantah perintah Allah,’ ungkapnya.

And lalu melanjutkan dengan membaca Fussilat 40, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Dari ayat itu Anas berpesan, “Jangan sampai bapak ibu sudah diperlihatkan kekuasaan Allah lalu menutupi atau mengingkari kekuasaan atau anugerah Allah. Di akhirat nanti yang jadi saksi adalah pendengaran, penglihatan, dan kulit. Yang kedua, janganlah kufur sebagaimana orang kafir.”

Kultum Jumat Pagi yang diawali dengan absensi oleh Waka Ismuba A Mudhofar Basuni MPdI diakhiri dengan doa dan yel-yel: Smamsatu, Be The First! sambil mengacungkan dua jempol tangan. (*)

Kontributor Estu Rahayu. Editor Mohammad Nurfatoni.