Indonesia Bakal Jadi Negara Besar 2020, Muhammadiyah Harus Kuatkan Pendidikan Generasi Milenial

187
Pasang Iklan Murah
Prof Dr Baedhowi MSi. (Edo/PWMU.CO)

PWMU.CO – Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia punya tugas besar. Pasalnya, Indonesia akan menjadi negara terbesar ke-5 pada 2020 dan ke-4 di dunia pada 2050 versi Waterprice Cooper tahun 2017.

Persiapan ini tentu tak main-main. Bidang pendidikan memegang peranan utama karena menjadi pembentuk sumber daya unggul yang akan mencapai hipotesis tersebut.

iklan

“Siswa harus memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya.”

Paparan tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Baedhowi MSi dalam rangkaian Muhammadiyah Education (ME) Awards 2019.

Pada Seminar on Education and National Conference, Baedhowi menekankan pentingnya penguatan pendidikan Muhammadiyah bagi generasi milenial. Ada empat cara untuk meningkatkan mutu lulusan siswa Muhammadiyah, yakni melalui konsep TIPS.

TIPS merupakan akronim dari trust (kepercayaan), integrity (kemampuan), personality (kepribadian), dan solution (pemecahan masalah). Artinya, siswa di era industri 4.0 ini harus mampu percaya dengan potensi dirinya, memiliki kemampuan dan keterampilan sesuai kebutuhan, kepribadian yang matang, serta memiliki kemampuan memecahkan masalah.

“Oleh karena itu model pendidikan zaman dulu yang terpusat pada guru mesti diubah,” pesannya.

Menurut dia, pendidikan zaman sekarang mesti berpusat pada siswa, bersifat interaktif dan multiarah, pembelajaran aktif dan menyelidiki, sesuai dengan konteks dunia nyata, serta membangun kedekatan dengan lingkungan agar mampu menjalin kerjasama dan jejaring.

“Guru profesional juga perlu memiliki empat kompetensi yang sangat diperlukan saat ini,” kata Baedhowi. Empat kompetensi tersebut yakni kemampuan komunikasi, kolaborasi, melek teknologi, dan evaluasi.

Jika hal ini disiapkan dengan baik dan progresif, maka mimpi Muhammadiyah untuk melahirkan generasi yang siap berkompetisi menuju Indonesia sebagai negara terbesar tentu bukan sekadar utopis. (*)

Kontributor Isnatul Chasanah. Editor Mohammad Nurfatoni.