Tiba di SDMM, Gadis Portugal Ini Langsung Tertarik Pelajari Islam

569
Pasang Iklan Murah
Renata disambut siswa SDMM dengan lambaian bendera Indonesia dan Portugal. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Halaman SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Jalan Amuntai No 01 GKB Gresik, terlihat berbeda, Senin (7/10/19). Bendera dua negara: Indonesia dan Portugal, tampak dilambaikan oleh para siswa.

Ternyata pagi itu ada tamu istimewa: Renata. Cewek bernama panjang Renata Machado Krakhofer Marnoco e Sousa itu satu negara dengan pemain sepak bola kesohor: Cristiano Ronaldo.

Datang didampingi hostfamily-nya Rudi Setyawan dan Winda Hendriyani—orangtua Alma Malaeka Az Zahra, siswa kelas III Zaitun—Renata disambut tampilan Tari Nusantara yang dimainkan 24 siswa dengan kostum batik khas Indonesia.

Tak hanya siswa dan guru, beberapa wali murid juga hadir menyambut kedatangan Renata. Bahkan, Ikatan Wali Murid (Ikwam) SDMM telah menyiapkan hidangan khas Gresik dan buah lokal untuknya.

Really good, thank you so much. This is the first time I ever see something like this, so I’m really nervous,” ujarnya saat acara penyambutan. Ia mengaku senang dan sangat berterima kasih atas sambutan ini. Ia juga merasa gugup karena baru pertama melihat penyambutan seperti ini.

Renata disambut Tari Nusantara. (Istimewa/PWMU.CO)

Gadis 24 tahun itu mengaku belum tahu banyak tentang Indonesia dan Muslim. Tetapi ia berharap semua yang ada di SDMM dapat mengajarkan kepadanya karena ia sangat tertarik dengan Indonesia, khususnya masyarakat Islam.

“I don’t know that much about Indonesia and moslem. But I hope you can also teach me because I’m so interested and if you need anything I will always help you. So thank you very much,” ujarnya akan berusaha membantu apa yang dibutuhkan siswa dan guru.

Baca Juga:  Pesan Penting dari Kisah Keteladanan Ali bin Abi Thalib

Lulusan Master Human Resources Universidade Catolica Portuguesa do Porto, Portugal, itu tiba di Djuanda International Airport, Ahad (6/10/19) pukul 09.00 WIB. Perjalanan yang ia tempuh kurang lebih 27 jam dengan dua kali transit, yaitu di Amsterdam dan Singapura.

Sebelum tiba di Indonesia, ia mengaku sempat merasa takut bercampur penasaran, khususnya tinggal di lingkungan Muslim. Namun setelah melihat sambutan yang hangat, ia mengaku nyaman dan senang berada di Indonesia.

Renata SAAT disambut oleh kepala sekolah, guru, hostfamily, dan Ikwam, di Bandara Internasional Juanda. (Istimewa/PWMU.CO)

Ketertarikannya dengan Islam dia perlihatkan di hari pertama berada di SDMM. Renata mengamati siswa kelas kecil yang sedang shalat secara tertib di aula. Ia pun mengajukan beberapa pertanyaan seputar shalat kepada guru yang mendampinginya.

Bahkan, ia mencoba menghitung sendiri jumlah rakaat sambil mengamati anak-anak shalat Dhuhur berjamaah, mulai awal hingga usai berdzikir.

Baca Juga:  Berbekal Dua Strategi, Pasukan Toska Sukses Bawa Pulang Tujuh Tropi Juara

Keinginannya yang kuat untuk tahu lebih banyak tentang budaya Islam dan masyarakatnya membuatnya lebih berhati-hati dan selalu bertanya. Ia misalnya menanyakan apa itu halal serta bagaimana cara orang Islam menyapa antara satu dengan lainnya, termasuk berbeda jenis kelamin.

Renata juga mengungkapkan keinginannya berkunjung ke masjid. “Can non-muslim people enter inside a mosque? I’ve never saw one,” ujarnya.

Renata sedang mencicipi kue lupis, kelanting, dan klepon. (Istimewa/PWMU.CO)

Di luar soal Islam, Renata pun tertarik mencicipi beberapa macam makanan khas Surabaya dan Gresik, di antaranya rawon, bubur mutiara, bubur sagu, bubur madura, jubung, pudak, kelanting, klepon, lupis, salak, dan sawo.

Tastes good. I have never felt anything like this in Portugal,” ujarnya enak setelah mencoba beberapa menu. Ia mengaku tidak pernah merasakan yang seperti ini di Portugal.

Di sekolah yang punya julukan Kampus Biru ini Renata akan menjalani pengabdiannya sebagai exchange participant (peserta partisipasi) selama enam pekan dalam program Association for the International Exchange of Students in Economics and Commerce (AIESEC). (*)

Kontributor Ria Pusvita Sari. Editor Mohammad Nurfatoni.