Tujuh Strategi Membangun Sekolah Bermutu, Ini Paparannya

500
Pasang Iklan Murah
Edi Susanto menyampaikan strategis membangun sekolah bermutu di Majelis Dikdasmen PCM Bubutan. (Dzanur/ PWMU.CO)

PWMU.CO– Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bubutan Surabaya mengadakan pengajian yang dikemas dalam Recharging dengan tema strategi dan implementasi membangun sekolah bermutu, berkarakter, dan berpresatasi , Sabtu (12/10/2019).

Pembicara pengajian ini Ustadz Edi Susanto MPd, Ketua Lembaga Penjamin Mutu Akademik SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.

Kegiatan ini dihadiri para guru dari SD Muhammadiyah 12 (SDM Dubes),  Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 dan SMP Muhammadiyah 7 (SMP Mutu) sebagai tuan rumah.

Edi Susanto dalam ceramahnya mengungkap tujuh strategi dalam membangun sekolah yang bermutu, karakter dan berprestasi.

Pertama, kata dia, diferensiasi yaitu pembeda. ”Sekolah kita dengan sekolah lain harus punya pembeda. Baik itu kegiatan di sekolah atau cara mengontrol anak-anak didik di rumah,” ujar Edi yang meraih Kepala Sekolah Teladan Kota Surabaya 2017.  

Ustadz Edi mengambil contoh antara SDM Dubes dan SD Kreatif harus ada pembeda yang menjadi ciri khas dua sekolah itu.

Kedua, mutu. Baik itu mutu akademik maupun non akademik. Prestasi siswa harus yang terbaik. Tidak ada anak yang bodoh. Setiap siswa itu punya kecerdasan masing-masing.

”Di situlah anak-anak harus saling berkompetisi baik lewat ekstra kurikuler maupun intra kurikuler. Ciri sekolah yang bermutu juga bisa dilihat dari cara melayani murid dan wali murid. Karena mereka itulah pelanggan kita,” tuturnya.

Disampaikan, usahakan jangan sampai ada masalah yang timbul. Kalaupun ada selesaikan dengan cepat dan tepat.

Ketiga, inovasi. Selalu memberikan cara-cara yang terbaru dalam pengajaran maupun metodenya agar tidak membosankan. ”Di situlah guru dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas diri lewat pelatihan-pelatihan,” kata Edi yang pernah menjabat kepala SD Mudipat ini.

Keempat, literasi. Budaya membaca harus sudah ditanamkan pada anak-anak didik sejak dini. Perpustakaan harus menjadi tempat yang nyaman dan penuh dengan buku-buku bacaan tentang sains dan fiksi.

”Jangan hanya berisi buku-buku pelajaran. Anak yang suka membaca di waktu kecil kelak ketika dewasa akan menjadi pemikir,” ujar Ustadz Edi.

Kelima, branding. Brand itu merek sedangkan branding adalah yang menguatkan merek tersebut. Dengan branding sekolah maka itu sebagai pembeda sekolah kita dan sekolah lain juga sebagai ajang promosi sekolah kita.

Keenam, lewat marketing inilah cara jual sekolah. Kita manfaatkan media-media sosial.  Ketujuh, teamwork. Kerja sama semua elemem sekolah. Kepala sekolah maupun guru-guru dan karyawan sekolah.

Sementara Ketua Majelis Dikdasmen PCM Bubutan Sugianto SH MH mengatakan, kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi antar guru di lingkungan amal usaha Muhammadiyah. Juga sarana sharing dan belajar bersama untuk meningkatkan mutu dan kualitas kita sebagai pendidik. (*)

Penulis Dzanur Roin  Editor Sugeng Purwanto