Sekolah Muhammadiyah Harus Jadikan Tahfidh Alquran sebagai Program Unggulan

349
Pasang Iklan Murah
Para nara sumber serasehan. (M. Zuhdi Mukromin/PWMU.CO)

PWMU.CO – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pucuk menggelar Sarasehan Penguatan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di Aula TK ABA Kesambi, Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan, Kamis (17/10/19).

Acara ini mengundang seluruh kepala sekolah yaitu MIM, SDM, SMPM, dan MTsM se-PCM Pucuk. Juga melibatkan seluruh pengurus perguruan Muhammadiyah: ketua, sekretaris, dan bendahara.

Ketua Majelis Dikdasmen PCM Pucuk Amari SAg menjelaskan, sarasehan ini diadakan dengan tujuan untuk lebih meningkatkan peran serta seluruh stakeholder perguruan Muhammadiyah di PCM Pucuk.

“Di samping itu juga dimaksudkan agar pengurus perguruan bersama kepala sekolah dan guru bisa saling berkoordinasi untuk menghadapi persaingan lembaga pendidikan yang semakin kompetitif,” ujar Amari yang pernah menjadi Kepala Sekolah Teladan Kecamatan Pucuk.

Ketua PCM Pucuk Sanusi SPd mengingatkan lembaga pendidikan Muhammadiyah harus benar-benar menerapkan standar kompetensi lulusan siswa di bidang Ismuba (Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) yang dikeluarkan oleh Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2017.

“Di antaranya adalah memiliki dasar akidah yang kuat dan konsisten, memahami tata cara ibadah yang benar, dan taat beribadah. Serta mampu membaca Alquran dengan baik,” ujarnya.

Selain itu, sambung dia, menghafal minimal satu juz Alquran dan minimal 10 hadits pilihan untuk tingkat SD/MI dan 20 hadits pilihan untuk tingkat SMP/MTs.

“Di samping itu juga memiliki akhlak karimah dan menghindari perilaku tercela, memahami kisah nabi dan sahabat serta meneladaninya. Mampu membaca dan menulis kalimat bahasa Arab, serta memahami dan mencintai Muhammadiyah,” urainya.

Sementara itu Wakil Ketua PCM Pucuk yang membidangi pendidikan, Ahmad Ridlwan SAg, menjadi nara sumber pertama dengan tema Tantangan dan Strategi Menjadikan Sekolah Unggul.

Pemerhati, konsultan, dan motivator pendidikan itu mengatakan saat ini, sekolah yang menjadi pilihan atau favorit masyarakat adalah lembaga pendidikan yang memiliki nilai religiusitas tinggi. “Baik itu sekolah negeri maupun swasta. Banyak sekolah negeri yang membuat program tahfidh Alquran di sekolahnya, maka tentu sekolah swasta, apalagi Muhammadiyah, harus lebih dari itu,” terangnya.

Hal senada disampaikan oleh narasumber kedua Drs H Shodikin MPd. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang juga Sekretaris Diknas Kabupaten Lamongan itu menyampaikan salah satu program unggulan yang seharusnya dimiliki sekolah Muhammadiyah adalah tahfidz Alquran.

Shodikin menjelaskan, ada dua doktrin bagi anak yang menghafal Alquran. “Dan itu sangat berpengaruh positif bagi anak tersebut,” ucapnya.

Doktrin yang pertama adalah tiada hari tanpa tambahan hafalan. Doktrin yang kedua adalah akhlak penghafal harus sesuai dengan nilai-nilai Alquran. “Sehingga dengan dua doktrin ini, penghafal Alquran akan tersibukkan dengan hal-hal yang baik dan positif saja,” ujarnya.

Dia menambahkan, kunci penguatan pendidikan Muhammadiyah sebagai mesin pengkaderan Persyarikatan adalah sadar, terencana dan sistematis. “Pembiasaan juga termasuk bagian dari pengkaderan. Membiasakan anak-anak untuk shalat berjamaah di masjid, shalat Tahajud, berbakti kepada orangtua dan guru, atau membiasakan berkhlak mulia, itu juga termasuk bagian dari pengkaderan,” terangnya. (*)

Kontributor M. Zuhdi Mukromin Editor Mohammad Nurfatoni.