Kegelisahan Buya AR Sutan Mansur Jangan Terulang Lagi

122
Pasang Iklan Murah
Buya AR Sutan Mansur. (Wikipedia)

PWMU.CO– Kegelisahan Ahmad Rasyid Sutan Mansur—populer dengan Buya AR Sutan Mansur—menjadi tema Kultum Jumat Pagi yang disampaikan Ustadzah Dra Uswatun Hasanah di ruang guru SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Jalan KH Khalil 90 Gresik (18/10/19).

Menurut Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik itu, Buya AR Sutan Mansur galau melihat kondisi warga Muhammadiyah yang mulai pudar akhlak dan tauhidnya.

“Kegalauan itu terjadi pada kepemimpinan Muhammadiyah yang ke-6 atau sekitar tahun 1953,” ujarnya. AR Sutan Mansur adalah Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah—kini Ketua Umum Pimpinan Pusat—periode 1953-1956 dan 1956-1959.

Waktu itu, kata Bu Us, sapaannya, warga Muhammadiyah menjalankan ibadah hanya sebagai rutinitas. Tidak ada unsur khasyiya rabbah (takut kepada Tuhannya). “Shalat, sedekah, dan pengajian, masih sebatas rutinitas, belum menunjukkan khairul bariyya (sebaik baik makhluk),” ujar mengambarkan kondisi waktu itu.

Agar kegelisahan Buya AR Sutan Mansur itu tak terulang, Bu Us memberikan dua pesan. Pertama, jamaah yang sudah ‘lolita’ (lolos lima puluh tahun) dan ‘jelita’ (jelang lima puluh tahun) harus galau positif dengan kondisi ketauhidan dan akhlaknya.

“Sudahkah ketakutan terhadap kemurkaan Allah ada pada diri kita? Maka perhatikan aktivitas harian kita, sehingga apa yang kita lakukan tidak sekadar masuk surga tipe 21 tapi surga yang firdaus,” pesannya.

Menurutnya, tidak hanya waktunya ngajar ya ngajar, waktunya shalat ya shalat, tapi melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Ustadzah Uswatun Hasanah sedang menyampaikan kultum. (M Ali Syafaat/PWMU.CO)

Bu Us lalu mengajak jamaah membaca surat Albayyinah 8, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut terhadap Tuhannya.”

“Pesan kedua, sudahkah kita bercinta-cita untuk berbagi ketika mendapatkan rezeki per triwulan (tunjangan sertifikasi guru) kepada orang yang membutuhkan?” tanyanya.

Maka, sambungnya, kita perlu saling mengingatkan dan menasihati ketika Kultum Jumat Pagi di sini. “Semua dalam rangka watawa shaubil haq watawa shaubishabr,” pesannya. (*)

Kontributor Estu Rahayu. Editor Mohammad Nurfatoni.