Di Smamsatu, Konselor Parenting Nasional Ini Berbagi Tujuh Kiat Menjadi Orangtua Sahabat Anak

837
Pasang Iklan Murah
Raudlatul Aniq ketika memberikan materi dalam Koordinasi Wali Peserta Didik Kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Gresik. (M. Ali Safa’at/PWMU.CO)

PWMU.CO – Trainer dan konselor parenting nasional Raudlatul Aniq SPSi CH CHt menyampaikan, ada tujuh tindakan yang bisa dilakukan untuk menjadi orangtua sahabat anak.

Hal itu dia sampaikan di hadapan 200 wali wali murid kelas XI SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik yang mengikuti kegiatan Koordinasi Wali Peserta Didik, di Aula Matahari 2 Smamsatu, Sabtu (19/10/19).

Mengawali materinya, Bunda Aniq, panggilan Raudlatul Aniq, menanyakan pada paa orangtua, apakah semua anaknya punya gadget?

Semua menjawab, “Punya.”

“Maaf, pasti putra-putri Bapak-Ibu sudah punya gadget atau HP ya? Dan pasti mereka akan bisa membuka password HP Bapak-Ibu semuanya. Tapi sebaliknya Bapak-Ibu tidak bisa membuka hp mereka?” tanyanya.

“Iya,” jawab para orangtua serentak.

Setelah itu, Bunda Aniqq mulai menyampaikan materi tentang bagaimana menjadi orangtua sahabat anak.

Pertama berebut hati anak dari para sahabat dan gadget. Orangtua harus hadir dalam kehidupan anak lebih besar porsinya dari pada para sahabat dan gadget. “Jangan sampai, anak-anak kita lebih percaya dan dekat dengan orang lain, dari pada dengan orangtuanya,” katanya.

Yang kedua, menerima apa adanya potensi anak. Menurutnya, orangtua tidak boleh memaksakan untuk menuruti kemauan mereka. Juga menguasai semua hal. Karena mereka punya potensi yang berbeda. “Allah memberikan perangkat lengkap kepada anak-anak kita, bahkan dengan jalan yang berbeda,” tuturnya.

Beberapa peserta tak bisa menahan tangis ketika pemberian materi. (M. Ali Safa’at/PWMU.CO)

Ketiga, fokus pada potensi baik anak, karena akan timbul persepsi positif pada dirinya. “Bapak-Ibu, saya mau tanya, nilai apakah yang pertama kali Bapak-Ibu lihat, ketika pertama kali menerima rapor anak? Nilai yang terbesar atau yang terkecil?” tanya Bunda Aniq.

“Terkecil,” jawab para peserta serentak.

Terapis anak berkebutuhan khusus ini menyampaikan, kita tidak boleh melihat anak dari kejelekannya, tapi lihatlah dari potensi baiknya. “Jangan sampai kita menyalahkannya ketika nilainya jelek, tapi sebaliknya kita lihat nilai tertingginya di bidang apa, dan kita dukung potensi baik anak kita tersebut,” katanya.

Keempat, menjadikan anak kita bermanfaat. Trainer Pola Pertolongan Allah (PPA) for Kids ini bercerita, ia pernah punya klien seorang siswa yang diminta ibunya untuk menghafalkan Alquran, karena kalau ingin menjadi anak mamanya, harus hafal Alquran.

“Klien saya ini sudah berusaha sangat keras untuk menghafalkan Alquran, tapi kadang tidak sesuai target orangtuanya. Akhirnya orang tuanya marah-marah. ‘Koq hafalannya tidak nambah-nambah sih nak’,” katanya menirukan kliennya.

Dengan kejadian tersebut, anak akan tertekan. “Lebih baik, kita membantu apa yang disukai anak-anak kita, pastinya dengan pendampingan, agar mereka menjadi anak yang bermanfaat,” kata praktisi traumatic healing ini.

Kelima, memberikan ruang dan tanggung jawab kepada anak. Bunda Aniq menyampaikan, orangtua harus membiasakan anaknya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. “Contohnya, membereskan kamar setelah bangun tidur atau menyiapkan makan sendiri,” ujarnya.

Kepala SMA Muhammadiyah 1 Gresik Ainul Muttaqin SP MPd memberikan kenang-kenangan kepada Raudlatul Aniq. (M. Ali Safa’at/PWMU.CO)

Keenam, menciptakan imun atau pertahanan diri terhadap virus negatif zaman. Menurut trainer sekaligus entrepreneur ini, jika ingin menjadi sahabat terbaik dan membuat anak bahagia, orangtua harus menciptakan imun buat anak mereka. “Seperti memahami bahasa cinta anak, memeluknya, mengecup keningnya, dan mengucapkan kalimat positif,” ujarnya.

Ketujuh, menurunkan standar kebahagiaan. Kepada audiensi, Bunda Aniq mengatakan, standar kebahagiaan itu harus di orientasikan kepada Allah SWT dan diciptakan dari rumah.

“Buat bahagia itu tidak harus dengan materi, karena kebahagiaan itu 50 persen genetik, 10 persen lingkungan, dan 40 persen memainkan pikiran,” katanya.

Sebelum mengakhiri materi, trainer yang juga hypnotherapis ini meminta semua wali murid menulis surat cinta untuk anak mereka masing-masing yang paling mewakili perasaan mereka.

Mereka pun segera menulis surat cinta tersebut. Tampak beberapa yang menahan tangis karena terharu. (*)

Kontributor M. Ali Safa’at. Editor Muhammad Nurfatoni.