Nobar Film Laskar Pelangi, Masih Ada Saja yang Menangis

99
Pasang Iklan Murah
Nonton bareng film Laskar Pelangi bersama Lazismu. (Hendra Pornama/PWMU.CO)

PWMU.CO-SD Inovatif Aisyiyah Kedungwaru Tulungagung mengikuti nonton bareng yang diadakan oleh Lazismu, LSBO (Lembaga Seni Budaya dan Olahraga) PDM Tulungagung, dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat IAIN Tulungagung. Acara  bertempat di Laboratorium Film SMAN 1 Kedungwaru, Sabtu (19/10/19).

Film yang ditonton Laskar Pelangi. Bercerita perjuangan anak-anak SD Muhammadiyah Gantong Belitung dalam memperoleh pendidikan dan mengejar cita-citanya.

Acara nonton bareng ini hasil obrolan Hendra Pornama dan Muslih di atas bus pulang dari Surabaya usai mengikuti Pelatihan Penulisan Indepth Reporting.

Manajer Lazismu Tulungagung yaitu Hendra Pornama mengatakan, ingin mengajak anak panti asuhan nonton bareng film Laskar Pelangi.

”Kenapa SD Aisyiyah tidak diikutkan saja sekalian?” usul Muslih yang juga guru agama Islam di sekolah itu. Dia juga pengurus LSBO.

Hendra setuju. Kemudian dia juga menggandeng aktivis HMI Putri Kemalawati.  Diputuskan yang diundang nonton bareng siswa kelas 5 dan 6. Sebab kuota dari Lazismu yang harus berbagi kursi dengan anak Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Tulungagung.

Nonton bareng ini sekaligus mengakrabkan anak SD Aisyiyah dengan teman-temannya dari Panti Asuhan.

Beberapa anak mengaku sudah menonton film ini. Muhammad Raihan Ammar Dzaky Althaf, siswa kelas 5, mengatakan, ”Dulu saya nonton dengan papa. Lintang dalam perjalanan mau lomba ketemu buaya,” katanya menceritakan satu adegan film.

Siswa lainnya seperti Naila Fairuz Salsabila mengaku telah menonton. Namun ketika ditanya apa yang menarik, jawabnya singkat, sudah lupa.

Walaupun sudah pernah menonton, murid-murid itu senang saja diajak menikmati film itu lagi. Bersama-sama mereka pergi ke Laboratorium  SMAN 1. Ruang film ini cukup lebar. Ada 14 kursi panjang untuk penonton menghadap ke layar. Kursi ini kira-kira bisa memuat 100 penonton.

Di tempat itu sudah berkumpul anak panti didampingi pembinanya. Tak lama kemudian film diputar. Tak ayal semua penontonmulai hanyut mengikuti adegan per adegan. Sampai pada adegan kepergian Lintang dari sekolah untuk bekerja menafkahi adik-adiknya. Karena ayahnya meninggal dunia tenggelam saat melaut.

Adegan ini membuat haru biru penonton. Anak-anak perempuan melelehkan air mata. Berkali-kali mengusap pipinya. ”Saya menangis karena nasib Lintang mirip dengan saya yang kehilangan orang tua,” kata Cut Naura Shifa Sugara, siswa kelas 5.

”Bedanya saya kehilangan ibunda sedangkan Lintang kehilangan kedua orang tuanya,” lanjut Naura.

Acara nonton bareng ditutup dengan kuis. Naura mendapat bingkisan dari Lazismu dan uang Rp 50 ribu karena mampu menjawab kuis yang dibawakan Putri Kemalawati.

”Bagaimana cerita tentang film tadi?”

”Cerita tentang anak-anak yang semangat sekolah di SD Muhammadiyah,” jawan Naura.

”Apa hikmah dari film di tadi?” tanya aktivis HMI ini.

”Kejar cita-cita setinggi langit dan tidak boleh menyerah dengan rintangan,” jawab mantap oleh bintang kelas ini. (*)

Penulis Muslih Marju  Editor Sugeng Purwanto