Penculikan Rengasdengklok Gantikan Penyobekan Bendera dalam Drama Kolosal SDMM

116
Pasang Iklan Murah
Panggung satu, suasana di rumah Soekarno. (Siti Mariyanti/PWMU.CO)

PWMU.CO – Halaman SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik Jalan Amuntai No 1 GKB berubah menjadi tiga ‘panggung’ dengan latar berbeda, Senin (11/11/19). Panggung satu spot perang antara tentara Sekutu dengan Jepang, panggung dua rumah Soekarno di Jakarta, panggung tiga sebuah rumah di Rengasdengklok.

Panggung satu. Tampak pertempuran sengit antara tentara Jepang dengan Sekutu. Terdengar desingan peluru dan suara ledakan. Terlihat asap api memenuhi udara. Pertempuran itu menjadi simbol kekalahan Jepang setelah pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat.

Panggung dua. Beberapa siswa dengan berpakaian ala pejuang tempo dulu memerankan kaum muda di masa perjuangan kemerdekaan. Mereka tampak berunding. Hasilnya, agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, setelah kekalahan Jepang dari Sekutu.

Tampak beberapa pemuda mendatangi rumah Soekarno untuk menyampaikan maksud itu. Tapi Soekarno menolak. “Memproklamirkan kemerdekaan tak bisa dilakukan secara gegabah. Harus menunggu Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI) yang telah terbentuk,” kata Soekarno, yang diperankan Lukman Nur Hidayatullah, siswa kelas VI Ahmad Badawi.

Para pemuda lalu berunding lagi. Kesimpulannya, Soekarno-Hata harus dijauhkan dari pengaruh Jepang.

Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, mereka ‘menculik’ Soekarno, juga Hatta. Keduanya dibawa ke luar kota, yaitu di Rengasdengklok, Kerawang, Jawa Barat, tepatnya di rumah milik Djiauw Kie Siong, seorang petani keturunan Tionghoa.

Panggung tiga. Sehari penuh Soekarno-Hatta berada di Rengasdengklok. Para kaum muda itu kembali menyampaikan desakan yang sama: proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Desakan itu berhasil. Soekarno-Hatta diajak kembali ke kota Jakarta. Di Jakarta, mereka merumuskan teks proklamasi kemerdekaan, yang akhirnya diproklamasikan pada tanggal 17 Agusus 1945.

Tampak panggung dua dan tiga. (Siti Mariyanti/PWMU.CO)

Episode penculikan Soekarno-Hatta di atas ditampilkan SDMM untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November. Koordinator Ekstrakurikuler Teater Ida Poerwaningrum SPd punya alasan mengapa peristiwa Rengasdengklok yang dipilih. “Kalau tentang perang 10 November-nya kita sudah sering yaitu penyobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit),” ungkapnya, Selasa (12/11/19).

Sementara itu sutradara drama kolosal Ahmad Muzaki SHum mengatakan, anak-anak perlu dikenalkan peristiwa Rengasdengklok. “Peristiwa ini penting diketahui anak-anak, bagaimana Soekarno-Hatta bersama beberapa pemuda merumuskan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya. Dia berjanji dalam peringatan Hari Pahlawan selanjutnya akan menampilkan episode lain perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam drama kolosal itu juga diceritakan Fatmawati yang diperankan Nasywa Tsabita, siswa kelas VI AR Fachrudin menanyakan hasil perumusan kemerdekaan Indonesia kepada Soekarno, setelah kepulangannya dari Rengasdengklok.

“Bu Fatmawati menghubungkan merdeka dengan bendera. Jika resmi merdeka dan ingin diakui bangsa lain maka bendera itu penting adanya,” kata Ida.

Pembina upacara peringatan Hari Pahlawan Askiyatin SPd mengatakan, drama kolosal ini mengandung sejarah bendera Indonesia. Menurutnya, anak-anak mendapat ilmu baru bagi yang belum tahu jika bendera merah putih itu yang menjahit atau membuatnya pertama kali adalah Fatmawati, istri dari Soekarno. “Semoga kita bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan orang lain,” harapnya. (*)

Kontributor Siti Mariyanti. Editor Mohammad Nurfatoni.