Berkebaya Jawa, Gadis Portugal Ini bersama Warga SDMM Berpakaian Nusantara di Hari Pahlawan

167
Pasang Iklan Murah
Warga sekolah mengikuti upacara Hari Pahlawan dengan mengenakan pakaian Nusantara. (Muhammad Fais Alfafa/PWMU.CO)

PWMU.COHari Pahlawan di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Jalan Amuntai Gresik Kota Baru (GKB) diperingati dengan upacara dan pementasan drama kolosal “Rengasdengklok”, Senin (11/11/19).

Yang unik, semua warga sekolah mengenakan pakaian Nusantara saat mengikuti kegiatan. Tak terkecuali petugas upacara.

Menurut pembina upacara Askiyatin SPd dengan berpakaian Nusantara mengingatkan keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia. ‘Namun meski beragam, semua bersatu memperjuangkan Indonesia. Berbeda-beda tapi tetap satu jua,” ujarnya.

Aski—panggilan akrabnya—mengaku bangga dengan keragaman yang ditampilkan oleh siswa dan guru. “Pada hari ini semua tampil ganteng dan cantik. Ada yang berpakaian Aceh, Kalimantan, bahkan sampai Papua,” ucapnya mengapresiasi penampilan anak-anak dan para guru.

Sementara itu drama kolosal “Rengasdengklok” yang diperankan siswa SDMM memberi kesan tersendiri bagi gadis Portugal Renata Machado Krakhofer Marnoco e Sousa.

Renata mengenakan pakaian kebaya Jawa dan rok batik. (Ana Istikhomah/PWMU.CO)

Mengenakan rok batik, baju kebaya Jawa merah dan mahkota, Renata tampil anggun. Exchange participant (peserta pertukaran) yang beberapa hari lagi akan merampungkan pangabdiannya di SDMM itu mengaku senang dan terharu saat menyaksikan drama kolosal di halaman sekolah.

Menurutnya, drama yang mengisahkan peristiwa perjuangan para pahlawan ini sangat penting untuk anak-anak tentang masa lalu negara mereka.

“I think it’s even better that SDMM prepare activities that join all the kids and teach them in ways that makes them want to pay attention and be interested. Because sometimes that’s difficult with children,” ujar Renata mengapresiasi SDMM yang menyiapkan kegiatan yang bergabung dengan semua anak dan mengajar mereka dengan cara yang membuat mereka ingin memperhatikan dan tertarik. Karena terkadang itu sulit bagi anak-anak.

Perempuan 24 tahun itu menjelaskan, warga Portugal tidak merayakan kegiatan semacam ini. Mereka memiliki hari libur untuk hari-hari penting dan juga hari kemerdekaan seperti di Indonesia, tetapi tidak pernah melakukan upacara atau acara besar untuk merayakannya.

Actually in Portugal we don’t celebrate that must. We have holiday for important days, we also have Independence day like you but we don’t have do ceremony or big event to celebrate it,” jelasnya.

Bergabung bersama siswa dan guru yang juga mengenakan pakaian tradisional, Renata mengaku sangat suka memakai kebaya jawa dengan paduan rok batik. “I really liked it, made me feel like a part of your culture,” ungkapnya merasa seperti telah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

Kepada anak-anak Indonesia, Renata berharap mereka harus selalu berterima kasih kepada leluhur, karena berkat pengorbanannya, anak-anak Indonesia memiliki kehidupan yang seperti hari ini. “I think they should always be grateful for ancestors, because that’s thanks to them, they have the life they have today thanks to all the sacrifices other people had to make in the past,” tuturnya. (*)

Kontributor Zaki Abdul Wahid dan Siti Mariyanti. Editor Mohammad Nurfatoni.

Renata bersama guru dan karyawan mengenakan pakaian nusantara. (Nur Aini Ochtafiya/PWMU.CO)