Guru TK Aisyiyah Se-Gresik Belajar Mendongeng yang Menarik, Begini Caranya

177
Pasang Iklan Murah
Sri Wahyuni saat menyampaikan materi (Heppy/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketrampilan mendongeng itu penting di tengah kurangnya media yang mengajarkan nilai-nilai dan tata krama.

Hal ini disampaikan Kepala Urusan Humas SD Muhammadiyah 2 Gresik Sri Wahyuni SPd MPd dalam Pembinaan Guru dan Kepala Taman Kanak-Kanak (TK) serta Kelompok Bermain (KB) se-Kabupaten Gresik yang digelar Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Gresik, di Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Sabtu (9/11/19).

Di depan 200 peserta Bu Uyun—sapaan akrabnya—mengatakan seorang pendongeng adalah orang yang menyampaikan kisah di depan publik dengan cara yang menarik.

Menurut dia, modal dasar seorang pendongeng harus selalu ditingkatkan, agar kualitas pendongeng bisa dipertanggungjawabkan. “Modal dasar menjadi seorang pendongeng antara lain tubuh yang lentur (tidak kaku), suara seperti amplifier (bisa diatur), imajinasi yang berkembang, intelektual yang terus diasah dan daya konsentrasi yang kuat,” paparnya.

Ada tiga syarat menjadi seorang pendongeng yaitu pertama, bebas. “Tidak terpaksa, tidak ragu-ragu, tidak tertekan dan percaya diri,” tutur ibu dua anak ini.

Kedua, kreatif. “Tidak monoton, berkembang, kaya ide dan ada-ada saja,” tambah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Gresik ini.

Ketiga, komunikatif. “Mampu melibatkan orang lain kedalam cerita,” kata dia.

Latihan memilih bahasa tubuh, sambungnya, juga sangat penting. “Ada beberapa macam bahasa tubuh yang digunakan dalam mendongeng, yaitu ekspresi (gerak kecil), gesture (gerak besar), movement (pindah tempat) dan gait (berjalan),” tambah istri almarhum Lenon Machali ini.

Di akhir materinya dia menyampaikan dari keseluruhan teknik mendongeng yang paling mendasar adalah dalam hal pembuatan naskah dongeng atau cerita.

“Naskah harus diedit dengan memperhitungkan waktu, logika bahasa sesuai usia, struktur dramatik, dialog tokoh dan terakhir musikalitas agar tidak membosankan, selamat mencoba,” paparnya. (*)

Penulis Musyrifah. Editor Mohammad Nurfatoni.