107 Tahun Muhammadiyah, Tak Silau dengan Politik Partisan

415
Pasang Iklan Murah
Pengibaran bendera Muhammadiyah di puncak gunung. (dokumentasi)

PWMU.CO-Andai 100 tahun adalah finish, maka lomba kebajikan itu dimenangkan Muhammadiyah. Tak berlebihan jika Carl Whiterington, peneliti senior asal Amerika Serikat itu menyebut Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati.

Bukan hanya diberkati. Muhammadiyah juga telah banyak menginspirasi pergerakan Islam. Baik karena bersetuju atau dalam perlawanan dialektik. Inilah menariknya. Kiai Ahmad Dahlan adalah seorang pragmatis agama yang brilian. Tapi saya bilang punya banyak pikiran nakal.

Prof Mitsuo Nakamura cukup sederhana menggambarkan Muhammadiyah dalam buku monumentalnya Matahari Terbit di Atas Pohon Beringin: Studi tentang Pergerakan Muhamamdiyah di Kota Gedhe Sekitar 1910-2010.

Nakamura seperti hendak mengatakan, inilah model pergerakan sempurna. Tak ada cacat politik apalagi cacat moral. Dari rahim Muhammadiyah lahir berbagai pikiran maju yang terbarukan. Pikiran dan ide yang melampaui dan menerabas zaman.

Tak perlu disebut berapa jumlah amal usaha telah dibangun dan tak perlu pula menakar jasanya untuk negeri. Sejak awal didirikan persyarikatan Islam ini memang spesial. Seakan sebuah antitesis dari kaumnya. Islam yang semula identik dengan jumud, kolot, beku, eksklusif, stagnan, seperti tesis Syaikh Muhammad Abduh al Islamu mahjubun bil muslimin diubah menjadi terbuka dan mencerahkan.

Kiai Dahlan identik dengan pikiran maju. Pikiran cemerlang yang melampaui.  Gagasan-gagasannya ditiru dan dibenarkan ramai meski awalnya ditolak dan dibantah. Gus Dur menyebutnya kemenangan dialektik.

Muhammadiyah adalah organisasi maju. Menghapus kelas dan sekat beragama.  Kolektif kolegial adalah jawaban jitu untuk meredam cluster-cluster dalam beragama. Semua berkesempatan sama dan inklusif terhadap perubahan dan partisipasi jamaah.

Sikapnya yang moderat justru memosisikan sebagai penegak amar makruf dan nahi mungkar yang kokoh tidak bergantung pada rezim dan kekuatan politik partisan. Tapi konsisten di tengah sebagai pengadil.

Peneliti LIPI almarhum Dr Alfian menyebutkan dalam Islamic Modernism in Indonesian Politics, the Muhammadiyah Movement During the Dutch Colonial Period 1912-1942 (1989), menyebut karena Muhammadiyah merupakan gerakan nonpolitik, keterlibatannya berbeda dengan organisasi lain yang menjadikan politik sebagai titik tuju. Tapi di situlah menjadi kelebihannya.

Kelahirannya selalu menampilkan kisah dramatik dan eksotik. Ghirahnya juga heroik. Dan semangat berebut bajik. 107 tahun berdiri bukan waktu yang pendek ketika organisasi sejenis malah kerdil dan tak mampu bersaing dengan perubahan. Muhammadiyah malah sebaliknya tampil semakin seksi dan menggoda.

Bersyukur ada pergerakan Islam progresif bernama Muhammadiyah yang dihuni banyak orang ikhlas. Tidak kepikiran membawa pulang aset di persyarikatan. Semua berkhidmad dalam kapal besar. Buya Syafi’i Maarif menyebutnya tenda besar buat semua. Prof Din Syamsuddin mengilustrasikan sebagai federasi dari banyak pemikiran.

Apa pun Muhammadiyah telah melahirkan banyak ragam karakter seperti Soekarno yang heroik, Soeharto yang cerdik, Jenderal Soedirman yang tawadhu, Ki Bagus Hadikoesoemo yang futuristik alias weruh sak durunge winarah dan masih banyak lagi tokoh besar yang inspiratif lainnya.

Aku cinta mati dengan Persyarikatan ini.

Selepas Subuh di Giri Kedaton Gresik, 18 November 2019

Opini oleh Nurbani Yusuf. Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu dan pengasuh Komunitas Padhang Mahsyar

Editor Sugeng Purwanto