Prof Haedar Nashir: Lebih Suka Cangkruan, Budaya Literasi Indonesia Sangat Rendah

356
Pasang Iklan Murah
Haedar Nashir di Umsida. (Miftahul Ilmi/PWMU.CO)

PWMU. CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi mengatakan, budaya literasi masyarakat Indonesia sangat rendah. Karena, Indonesia lebih nyaman dengan budaya oral (ngobrol).

Haedar memaparkan, berdasar indeks internasional literasi, dari 70 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat 68. Sedangkan peringkat pertama diduduki oleh Finlandia.

“Bayangkan, kita hanya terpaut delapan tingkat saja dengan peringkat yang terbawah. Kalau ini tidak diperbaiki, maka kita akan semakin terpuruk,” kata Haedar dalam acara Perayaan Milad Ke-107 Muhammadiyah yang digelar PWM Jatim di Umsida, Sabtu (23/11/19).

Berdasarkan survei tersebut, lanjut Haedar, kemampuan baca di Indonesia hanya mencapai 30 -59 menit per jam. Itu pun hanya tiga kali dalam sepekan.

“Dan, jika dipersentase, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang saja yang membaca. Tentu ini sangat miris,” tutur Haedar.

Haedar Nashir (kelima dari kiri) bersama Menko PMK Muhadjir Effendy dan uandangna lainnya melakukan salam literasi. (Darul Setiawan?PWMU.CO)

Dia menjelaskan, bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang erat dengan budaya komunal. Budaya ini identik dengan kebiasaan mengobrol.

“Orang Indonesia itu suka ngobrol. Apalagi kalau ada suguhan wedang dan makanan. Itu ngobrolnya bisa sampai berjam-jam,” katanya.

Tetapi, lanjut Haedar, jika diminta membaca, tidak sampai lima menit sudah capek. “Baru baca sebentar, matanya sudah jadi 10 watt,” ujarnya disambut tawa para hadirin.

Padahal, kata Haedar, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seharusnya lebih gemar dalam membaca. Karena sejak turunnya wahyu pertama, Islam telah mengajarkan pentingnya membaca.

“Iqra’ menjadi wahyu pertama yang disampaikan. Ini membuktikan begitu pentingnya membaca. Namun dalam konteks ini tidak hanya membaca secara verbal dan instrumental. Tetapi juga membaca secara lebih substantif. Membaca kehidupan,” terangnya. (*)

Komtributor Miftahul Ilmi. Editor Mohammad Nurfatoni.