Muhammadiyah Jangan Abaikan 171 Juta Jamaah Internet

577
Pasang Iklan Murah
Mohammad Nurfatoni (kanan) (Hilman Sueb/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pelatihan Kader Mubaligh Muda dan Cyber Dakwah yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan di SMA Muhammadiyah 1 Babat, Lamongan, Sabtu-Ahad (30/11-1/12/2019) dinilai tepat oleh Pemimpin Redaksi PWMU.CO Mohammad Nurfatoni.

Pelatihan yang diikuti 125 peserta, terdiri dari aktivis pelajar dan mahasiswa Muhamamdiyah se-Kabupaten Lamongan ini penting untuk memperkuat dakwah di internet, mengingat besarnya jumlah jamaah di dunia maya.

“Berdasarkan hasil studi Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2019 sebanyak 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari total populasi 264 juta jiwa penduduk Indonesia,” ungkapnya saat sesi hari kedua, Ahad (1/12/19) pagi.

Menurut dia, dari data di atas menunjukkan luasnya jeruk dakwah di internet. Tetapi sepertinya Muhammadiyah belum begitu tertarik menggarapnya, maka angkatan muda Muhammadiyah harus tampil untuk mengisinya.

“Memang ada beberapa website yang eksis tetapi keberadaannya masih kalah dengan milik para ‘tetangga-tetangga sebelah’,” tambahnya.

Fatoni, sapaannya, lalu meminta peserta mencari beberapa kata kunci di mesin pencarian Google. “Coba tulis kata kunci masalah sehari-hari umat seperti ‘hukum bayi tabung’ atau ‘korupsi berjamaah menurut Islam’,” pintanya pada peserta.

Dari pencarian itu ternyata sulit menemukan jawaban dari web Muhammadiyah. Mayoritas yang muncul adalah web dari kalangan Salafi, Nahdliyin, atau Ikhwani. “Muhammadiyah jauh, kalau tidak mau disebut tenggelam di dasar Google,” begitu ia menyimpulkan.

Baginya, kondisi seperti itu memprihatinkan, karena dakwah Muhammadiyah kalah bersaing dengan lainnya. Jika ada pertanyaan dari umat di Google, paham Muhammadiyah sulit ditemukan.

“Lebih parah lagi, jika ada umat Muhammadiyah sendiri yang mencari suatu penjelasan tentang fikih, misalnya, maka akan ketemu dengan web dengan konten paham lain,” ujarnya.

Maka, sambungnya, Muhammadiyah akan kehilangan pengaruh pada umatnya dalam konteks konten dakwah di dunia internet. Dan bisa jadi hal itu menjadi salah satu penyebab perginya warga Muhammadiyah di ‘hati’ lain.

Alumnus SMA Muhammadiyah 1 Babat tahun 1987 itu lalu mengajak peserta membuka web alexa.com untuk melihat peringkat web Muhammadiyah dibandingkan dengan web tetangga.

Terlihat jika web NU Online peringkat globalnya 4 ribuan dan bertengger di rangking 80-an website paling banyak dibaca di Indonesia. Sementara website muhammadiyah.or.id berada di urutan 190 ribu secara global dan 2.000-an di Indonesia.

“Karena itu cyber dakwah dari kalangan muda ini penting. Anda bisa melakukan gerakan KBB alias klik, baca, dan bagikan link untuk memiralkan tulisan yang sudah diterbitkan oleh web Muhammadiyah atau yang terafliasi dengannya.

Saat itu pula Fatoni, mengajak praktik memiralkan salah satu artikel di PWMU.CO berjudul Tradisi Pre-Wedding Menurut Hukum Islam ke berbagai platform medsos peserta. Mulai dari WhatsApp, Twitter, Instagram, dan Facebook. Terbukti dalam beberapa menit, viewer link itu bertambah 1000-an; dari 13 ribu sekian ke 14 ribu sekian.

Di samping soal pentingnya sedekah jempol dalam memiralkan berita, Fatoni juga meminta pada Majelis Tabligh PDM Muhammadiyah untuk siap berbagi pemikiran, ide, dan gagasan dengan menuliskannya di media online. “Jangan hanya terpaku pada dakwah offline di mimbar-mimbar,” pesannya.

Karya-karya mubaligh yang dipublikasikan di internet itu bisa dikolaborasikan dengan kekuatan jempol para cyber dakwah. “Itu yang bisa mengangkat peringkat web Muhamamdiyah sehingga bisa naik ke permukaan Google dan berkontribusi maksimal bagi dakwah di dunia maya,” tegasnya.

Pria kelahiran Lamongan 22 januari 1969 itu juga mengajak peserta untuk aktif memosting foto kegiatan yang disertai caption dengan unsur apa, kapan, di mana, dan siapa.

Like, komentari, share, atau retweet juga postingan tokoh-tokoh atau web-web Muhammadiyah. Itu penting untuk menaikkan peringkat; agar Muhammadiyah tak tenggelam di dasar Google, di dasar YouTube, dan sejenisnya. (*)

Kontributor Hilman Sueb.