Remaja Bisa Terpapar Syirik Modern ketika Idap Gejala seperti Ini

331
Pasang Iklan Murah
Ketua Tim motivator Pashmina Jawa Timur Hanif Muallifah menyampaikan materi mewujudkan generasi hebat. (Yunia/pwmu.co)

PWMU.CO-Remaja bisa terpapar perilaku syirik modern ketika kecanduan gadget. Benda ini dianggap paling penting dalam hidupnya hingga seolah seperti Tuhan.

Hal itu disampaikan Tim Pashmina Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Hanif Muallifah dalam Training of Trainer Kesehatan Reproduksi yang diadakan PDNA Trenggalek di Aula Kantor Sekkab, Jumat-Sabtu (6-7/12/2019).

“Permasalahan remaja dimulai dari syirik modern. Syirik ini berbeda dengan memberi sesajen ke pohon, minta pesugihan ke gunung,” kata lulusan pendidikan BK (Bimbingan dan Konseling) Universitas Negeri Malang ini.

Baca Juga:  Nasyiah Trenggalek Latih Guru Cegah Kekerasan pada Anak

“Syirik modern itu kecanduan remaja atas gadget dan terabaikannya hal yang urgen. Contoh saat mendengar adzan tidak segera melaksanakan shalat. Tapi saat HP berdering langsung  merespon,” katanya.

Sebagaimana termaktub dalam Alquran surat An Nisa ayat 9 tentang larangan meninggalkan generasi yang lemah, sambung dia, kita berdosa membiarkan generasi lemah. Lemah akhlak, pendidikan, moral, dan ekonomi.

Tim Pashmina (Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah), kata dia, hadir memberi solusi sebagai gerakan advokasi remaja.

Baca Juga:  PDNA Trenggalek Bahas Sekolah Ramah Anak, Ini Kriterianya

Menurut dia, sebetulnya solusi awal permasalahan remaja ada di rumah. Langkah pertama yang dilakukan orang tua adalah hancurkan penghalang dalam diri dan jadilah orang tua yang selalu memberi aura positif ke anak.

“Selanjutnya orang tua dituntut menjadi guide yang saleh. Artinya, menjadi teladan yang baik bagi anak dengan mengantarkan mereka mencapai puncak impiannya,” kataHanif yang menjabat wakil sekretaris PWNA Jatim.

Acara diakhiri dengan muhasabah dan doa. Alunan musik yang syahdu mengantarkan semua peserta merenungkan semua sikapnya dan memantapkan komitmen berdakwah. (*)

Penulis Yunia Zahrotin Nisa’  Editor Sugeng Purwanto