Perkembangan Menggembirakan Universitas-Universitas Islam di Lebanon

290
Pasang Iklan Murah
Hajriyanto Y. Thohari (kiri) bersama Grand Syeikh Dr Mohammad Abdul Latif Faiz Derian (Mufti Lebanon) dan Syeikh Dr Mohammad Amin Qurdi, Sekjen Darul Fatwa, Pendiri dan Pimpinan Universitas Islam Beirut yang memiliki kampus cabang di tiga kota: Beirut, Beeka, dan Akkar. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Dalam beberapa dekade terakhir ini ada perkembangan yang menarik dalam dunia pendidikan tinggi di Lebanon. Jika pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 prakarsa pendirian Pendidikan Tinggi dilakukan oleh gereja, organisasi-organisasi misionaris, dan kalangan umat Katolik atau Kristen, kini sejak beberapa dasawarsa terakhir banyak bermunculan universitas-universitas baru yang dirintis oleh kalangan umat Islam, baik oleh pribadi-pribadi, yayasan-yayasan mapun organisasi-organisasi Islam.

Organisasi-organisasi Kristen/Katolik yang ditulangpunggungi oleh para misionaris dan gereja sejak satu atau dua abad lalu telah berhasil mendirikan American University of Beirut (AUB), University of Saint Joseph (USJ), Lebanese American University (LAU), dan lain-lainnya, sehingga berperan secara sentral dan signifikan dalam memajukan dan mengembangkan keunggulan sumber daya manusia Lebanon.

Tidak berlebihan kalau penulis menyatakan bahwa kemajuan Lebanon sehingga menjadi seperti sekarang ini adalah berkat universitas-universitas yang didirikan oleh gereja dan para misionaris tersebut.

Tapi juga sebaliknya perkembangan sosial politik Lebanon yang penuh ketegangan atau konflik sekarang ini juga sepenuhnya tanggung jawab universitas-universitas tersebut. Bukankah selama ini yang mengendalikan negara ini adalah alumni-alumni universitas-universitas itu?

Betapa banyak pemimpin negara Lebanon, baik di kabinet atau pemerintahan, parlemen, ilmuwan, pemikir, aktivis NGO, dan profesi-profesi moderen lainnya adalah lulusan universitas-universitas tersebut. Bahkan kalau kita rajin membaca biografi dari banyak pemimpin dan tokoh-tokoh negara Arab seperti Syria, Yordania, Palestina, dan Irak, betapa banyak yang alumni universitas-universitas di Lebanon yang sudah malang melintang sejak satu dua abad yang lalu tersebut.

Hajriyanto Y. Thohari (ketiga dari kanan), diapit oleh Ketua Yayasan Uniaversitas Jinan Dr Salim Yakan (putra Dr fathi Yakan) dan Dr Habib Ketua Lembaga Bahasa Arab di depan kampus Jinan. (Istimewa/PWMU.CO)

Perkembangan Baru
Mirip dengan pengalaman Indonesia, umat Islam baru memikirkan secara serius pendirian universitas-universitas pada tiga atau empat dasawarsa lalu, demikianlah umat Islam di Lebanon.

Setelah pada 1951 lahir The Lebanese University, satu-satunya uiniversitas negeri di Lebanon, kemudian lahir Beirut Arab University (BAU) yang didirikan oleh The Lebanese Al-Bir and Ikhsan Society yang konon banyak diprakarsai oleh orang-orang dari negara Mesir. Cikal bakal universitas ini memang mulai muncul tahun 1960-an.

Kemudian lahir pula Universitad Jinan (1988) yang diprakarsai Dr Fathi Yakan, tokoh dakwah dan gerakan Islam yang terkenal dan penulis buku yang prolifik yang buku-buku tulisannya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu. Universitas yang berada di kota Tripoli ini perkembangannya sangat pesat. Saya beberapa kali menghadiri undangan dari univeritas Jinan ini. Sekarang univeritas Jinan dipimpin oleh Dr Hasan Yakan dan Dr Salim Yakan, putra dari Dr Fathi Yakan.

Baca Juga:  Fasih Nembang Jawa Eneng-Eneng, Ketua PP Muhammadiyah Ini Bikin Warganya Terpesona

Ada juga Universitas Tripoli dan Lebanese International University (LIU) yang sekarang sudah memiliki enam cabang, termasuk dua di antaranya di luar negeri. Ada juga Global University, Universitas Islam Lebanon, Maarif University, dan beberapa universitas yang berada di bawah naungan Darul Fatwa Lebanon.

Darul Fatwa dipimpin oleh, antara lain, Grand Mufti Lebanon Syeikh Mohammad Abdul Chalik Faiz Derian, Syeikh Mohammad Amin Kurdi, seorang hafidh yang juga menjadi Imam dan khatib tetap Masjid Raya Al-Amin, masjid terbesar di Lebanon yang berada di downtown Beirut.

Darul Fatwa adalah sebuah organisasi sosial keagamaan yang berada di bawah naungan Mufti Lebanon. Darul Fatwa memiliki beberapa perguruan tinggi seperti Jamiah Azhar di Beeka, Jamiah Azhar di Akkar, dan Jamiah Azhar di Beirut. Di samping itu juga Pendidikan tinggi Kulliyatu Da’wah di Beirut. Kebanyakan masih merupakan fakultas-fakultas agama.

Mahasiswa Indonesia di sana kebanyakan belajar agama di perguruan tinggi di bawah Darul Fatwa tersebut dengan mendapatkan beasiswa secara terbatas. Beasiswa secara terbatas itu artinya misalnya para mahasiswa bebas uang kuliah saja, atau bebas uang kuliah plus uang asrama saja, atau ada juga yang bebas uang kuliah dan mendapatkan uang saku tetapi mesti mencari dan membayar asrama sendiri. Maklum lembaga ini swasta dan mengandalkan sumber pembeayaan dari zakat atau infak atau bantuan dari orang-orang kaya dari negara-negara Arab Teluk yang kaya itu.

Universitas Azhar Beeka (جامعة ازر بقاع) yang dipimpin oleh Syeikh Halil Al-Mais kini mengelola pendidikan menengah dan tinggi agama Islam. Kampusnya dilengkapi dengan asrama yang cukup representatif. Jamiah Azar Beeka kini malah sedang mempersiapkan pembukaan fakultas-fakultas umum seperti Fakultas Kedokteran, Teknik, dan Ekonomi.

Saya tiga kali dalam lima bulan pertama di Beirut mengunjungi kampus ini dan berbincang-bincang dengan Syeikh dan para pengajarnya. Beberapa kali mereka meminta saya dan isteri sesekali mau menginap di kampus yang berasrama ini.

Baca Juga:  Hajriyanto Y. Thohari: Ketika yang Lain Kenes Ngomong Kebhinekaan, Muhammadiyah Sudah Memberikan Teladan

Meskipun sudah agak terlambat tetapi bagaimanapun juga perkembangan baru tumbuhnya universitas-universitas Islam ini patut disambut gembira. Tumbuhnya kesadaran di kalangan umat Islam Lebanon untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang pendidikan tinggi dengan membangun universitas ini sangatlah penting dan strategis dalam konteks perkembangan masa depan yang berat itu.

Hariyanto Y. Thohari berpose di Lebanese American University (LAU). (Istimewa/PWMU.CO)

Golongan Kristiani di Lebanon telah begitu lama, malah sejak dua abad yang lalu, mulai mendirikan universitas-universitasnya. Tak heran jika Trio AUB (American University of Beirut), LAU (Lebanese American University), dan USJ (University of Saint Josept) kini telah menjadi universitas-universitas terkemuka di Lebanon, bahkan termasuk terkemuka di dunia internasional.

Setiap ketemu orang yang berkecimpung di perguruan tinggi di mana pun juga di dunia pastilah orang itu bertanya tentang ketiga perguruan tinggi yang didirikan oleh para misionaris tersebut. Itu semua adalah karena sudah saking tua dan terkenalnya ketiga universitas tersebut, sehingga kini sudah memiliki reputasi tinggi di dunia internasional berkat pembangunan jaringan kerjasama internasionalnya yang bagus.

Kini telah tiba waktunya bagi kalangan Islam di Lebanon untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh bidang pendidikan tinggi ini. Pasalnya, pendidikan adalah investasi masa depan yang sangat strategis.

Melihat perkembangan di Lebanon ini sungguh saya bersyukur dengan gerakan Muhammadiyah kita. Kalau tidak salah universitas Muhammadiyah yang pertama dan tertua di Indonesia adalah Universitas Muhammadiyah Jakarta. Itu pun baru berusia 64 tahun.

Setelah itu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memang telah mulai berkembang sejak tahun 1964, tetapi menjadi universitas dalam pengertian yang sebenarnya barulah pada tahun 1980-an. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) baru benar-benar menjadi universitas juga tahun 1981. Demikian juga halnya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Sementara Universitas Sultan Agung (Semarang, 1962), Unisba (Bandung, 1958), Uninus (Bandung, 1959). Dan lain-lainnya demikian juga. Bandingkan misalnya dengan universitas Katolik Parahyangan (1955), Universitas Katolik Atmadjaja (1960), Universitas Kristen Satyawacana (1956), dan lain-lainnya.

Dalam konteks dan perspektif ini, Muhammadiyah sudah benar dengan fokus pada pendirian dan pemajuan sekolah-sekolah, dan terutama universitas-universitasnya. Kita harus bersungguh-sungguh menekuni bidang ini, tanpa harus mengabaikan bidang-bidang yang lainnya. Semoga! (*)

Kolom oleh Hajriyanto Y. Thohari, Duta Besar Republik Indonesia di Lebanon.