Hadiri Konferensi Toleransi di Abu Dhabi, Din Syamsuddin: Jangan Mudah Klaim Paling Toleran

3336
Pasang Iklan Murah
Din Syamsuddin berjabat tangan dengan Syaikh Abdullah Bin Bayyah, Ketua Forum for Promoting Peace in Muslim Societies, Abu Dhabi. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2005-2010 Prof Dr Din Syamsuddin MA menghadiri Konferensi tentang Toleransi, dari Kemungkinan kepada Keniscayaan (At-Tasamuh minal Imkan ilal Ilzam atau Tolerance from Possibility to Necessity), di Abu Dhabi, sejak Senin (9/12/19).

Dakam keterangan yang diterima PWMU.CO Selasa (10/12/19) siang, Din menjelaskan kegiatan ini merupakan konferensi keenam yang diselenggarakan oleh Forum Promosi Perdamaian dalam Masyarakat Islam (Muntadat Ta’zis Silmi fil Mujtama’at al-Islamiyah/Forum for Promoting Peace in Muslim Societies), yang dipimpin okeh Syaikh Abdullah Bin Bayyah, seorang ulama terkemuka di dunia dewasa ini.

Konferensi dihadiri oleh sekitar 300 tokoh berbagai agama dari berbagai negara. Dari Indonesia, selain Din Syamsuddin, hadiri Rektor UIN Jakarta Prof Amany Lubis, Rektor Unida Gontor Prof Amal Fathullah Zarkasyi, Rektor IIQ Prof Khuzaimah Y Tanggo. Hadir juga Ketua MUI KH Abdullah, Ketua MUI yang juga Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Luar Negeri PP Muhammadiyah KH Muhyidin Junaidi, serta Dosen UIN Jakarta Dr Zaitunah.

Dalam konperensi dibahas beberapa aspek dari pengembangan budaya toleransi dalam kehidupan masyarakat majemuk, seperti formulasi baru toleransi, etika toleransi, peluang bagi perdamaian, dan Aliansi Keutamaan (Alliance of Virtous). Yang terakhir merupakan tajuk dari Deklarasi Washington yang disepakati pada konperensi 2018.

Aliansi Keutamaan merupakan upaya mengangkat nilai-nilai keutamaan dari berbagai agama untuk ditampilkan sebagai lingkaran kebenaran. Lingkaran Keutamaan (Virtous Circle) diharapkan dapat menggantikan Lingkaran Setan (Vicious Circle) yang melilit peradaban dunia dewasa ini.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Resmikan Ponpes An Nur Karanggeneng, Ini Harapannya

Din Syamsuddin menyambut baik percakapan tentang toleransi ini dan menganggapnya sebagai pilar kehidupan dunia yg majemuk. Menurut Din Syamsuddin, pengembangan kemajemukan menuntut beberapa prasyarat, antara lain: pengakuan akan kemajemukan; kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai; toleransi; dan kerja sama.

Toleransi, lanjut Din, adalah sikap dan pandangan mengakui bahwa di antara anasir masyarakat majemuk ada persamaan dan ada perbedaan. “Toleransi adalah menghargai perbedaan disertai tenggang rasa terhadap perbedaan itu,” ujarnya.

Para peserta dari Indonesia. (Istimewa/PWMU.CO)

Konperensi tentang toleransi di Abu Dhabi, menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini membawa pesan kuat dan relevan dengan bangsa Indonesia yang memiliki kemajemukan. “Untuk menjaga keutuhan, kerukunan, dan persatuan maka toleransi merupakan prasyarat mutlak. Dengan demikian, toleransi bukan sekadar kemungkinan tapi adalah keniscayaan,” terang dia.

Namun, Din Syamsuddin mengingatkan agar tidak ada satu kelompok yang mudah mengklaim paling toleran dan kelompok lain intoleran. Klaim sepihak yang bersifat subjektif seperti itu justru akan merusak iklim toleransi yang ada.

“Tuduhan sepihak seperti itu sering muncul sebagai bermotif politik, dan dengan demikian sikap itu sejatinya merupakan bentuk intoleransi,” kata Din.

Menurut dia, dari pada mengembangkan pendekatan bernada fobia demikian, sebaiknya bangsa mengembangkan budaya toleransi sejati. “Jika ada masalah di antara kelompok-kelompok, sebaiknya dikembangkan budaya dialog. Dialog adalah cara bermartabat untuk mengatasi yang ada,” pesannya.

Baca Juga:  Pak BE dan Mimpi Terwujudnya Universitas Islam Internasional Indonesia

Dari Abu Dhabi, Din Syamsuddin sebagai Presiden Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) melanjutkan perjalanan ke New York untuk menghadiri Pertemuan Para Tokoh Agama-Agama Dunia yang diselenggarakan oleh Religions for Peace.

Pada pertemuan itu Din Syamsuddin menjadi moderator pada sesi tentang peran agama dalam menanggulangi krisis lingkungan hidup. (*)

Penulis/Editor Mohammad Nurfatoni.