Soal Pengawasan Ceramah di Masjid, Begini Ungkapan Hati Para Ustadz

562
Pasang Iklan Murah
KH Sjar’i Muzammil

PWMU.CO–Pengawasan ceramah mubaligh di masjid-masjid melukai perasaan umat karena dicurigai dan dianggap musuhi oleh negara. Keputusan pemerintah itu menimbulkan ketidaknyamanan.

Demikian disampaikan mubaligh senior Pare KH Sjar’i Muzammil dalam Kajian Senin Malam Selasa di Masjid Al Muhsinin Kampung Inggris Pare Kediri, Senin (9/12/2019).

Komentarnya  itu menanggapi pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang mengirimkan polisi ke masjid yang dicurigai terpapar radikal.

Mantan ketua PCM Pare dua periode 1985-1995 ini menfatakan, walaupun pemerintah berdalih kehadiran polisi masjid bukan untuk melakukan pengawasan, tapi cuma bertugas  untuk memberikan pengertian dan bimbingan agar jangan sampai ada penyampaian khotbah yang menimbulkan permusuhan, sejatinya menyinggung dan melukai perasaan hati umat Islam.

Baca Juga:  Agama Jangan Jadikan Retorika tapi Praktikkan

”Islam itu agama paling benar, kenapa harus diawasi, dicurigai, dikoreksi kebenarannya oleh manusia,” kata ustadz lulusan Ponpes Bangil itu.

Senada dengan itu Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Malang  Ustadz Andri Kurniawan  mengatakan, polisi masjid itu upaya pemerintah mengamankan masuknya investasi aseng.

Menurut dia, tuduhan radikalisme itu fitnah sekaligus propaganda untuk menyerang dan meminggirkan umat Islam agar tidak punya peran di bidang  ekonomi dan politik.

”Propaganda radikalisme saat ini lanjutan dari yang pernah dilakukan oleh Ali Moertopo dan LB Moerdani Cs di zaman Orde Baru,” tuturnya.

Baca Juga:  Hasil Survei: Kampus Ternyata Tahan dari Paparan Radikalisme

Pengiriman polisi masjid ini, sambung dia, upaya melemahkan kekuatan sosial politik umat sebab masjid itu basis umat. ”Ini kebijakan Islamfobia , meresahkan umat, malah meningkatkan kebencian rakyat kepada pemerintah,” ujarnya.

Dalam situasi seperti ini, kata Andri, akan muncul mukmin sejati dan munafik sejati di kalangan tokoh Islam dilihat dari respon mereka atas kebijakan ini.

Bagaimana pun kondisinya, dia meminta umat jangan resah. Terus jalankan dakwah dengan mewujudkan lima program tahunan.  

”Pertama, dakwah tauhid harus terus digerakkan. Kedua, jadikan lembaga pendidikan Islam atau pesantren sebagai sarana strategis untuk membangkitkan semangat kebangkitan Islam,” ujarnya.

Ketiga, sambung dia, gerakkan umat agar melek politik Islam. Keempat, kuatkan ekonomi umat. Kelima, gerakkan  kaderisasi untuk melanjutkan estafet perjuangan ulama. (*)

Penulis Suparlan  Editor Sugeng Purwanto