Mesra sampai Akhir Hayat Itu Mudah, Kuncinya: Jadilah Arkeolog

19409
Pasang Iklan Murah
Ustadz Nur Cholis Huda. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Jika ada sorga di dunia maka itu keluarga yang bahagia. Jika ada neraka di dunia maka itu keluarga yang gagal. Demikian kata orang bijak.

Dalam Alquran soal ibadah dijelaskan hanya garis besar. Tetapi soal keluarga seperti perkawinan dan waris diterangkan sangat detail. Itu menunjukkan bahwa Allah ingin secara detail memberi petunjuk agar terbangun keluarga yang penuh kasih sayang penuh barakah.

Kisah di bawah ini sangat menarik kita baca agar kita bisa merawat cinta kasih sampai hari tua.

Seorang laki-laki berkata kepada gurunya. “Ajarkan kepada kami cara menjaga sakinah. Sekarang angka perceraian meningkat.”

“Apa yang kamu harapkan dari aku, orang tua renta ini?”

“Saya lihat guru hidup sangat damai. Makin sepuh makin mesra dengan nyai. Beri kami resepnya guru!”

“Tidak ada resep khusus. Sudah berapa tahun kamu menikah?”

“Sudah 25 lima tahun. Usia sekarang lima puluh. Jika nanti usia saya lanjut seperti guru, masih bisakah menikmati kemesraan bersama?”

“Pasti bisa! Caranya gampang. Sebagai suami jadilah kamu seperti arkeolog (ahli purbakala). Bagi arkeolog semakin barang itu tua semakin tinggi harganya. Mudah bukan? Ha-ha-ha …”

“Itu tidak mudah guru. Perlu belajar. Itu melawan hukum kebiasaan. Biasanya semakin muda semakin dicinta. Tetapi semakin tua? Kulit sudah kendor. Tubuh makin gembrot. Rambut beruban. Tenaga loyo. Badan tidak lagi tegap. Punggung sudah bengkok ke depan. Dan nanti mungkin uang juga makin bokek. Bagaimana bisa makin tinggi harganya?”

“Karena kamu melihat hidup ini hanya dengan mata kepala. Tidak dengan mata hati. Maka yang tampak olehmu hanya soal gembrot, uban, bongkok, loyo dan sejenisnya. Tetapi kalau melihat dengan mata hati akan jauh berbeda.”

“Ajarkan kami hidup dengan mata hati guru, bukan hanya mata kepala!”

“Kamu dengan istri pasti sudah melalui berbagai peristiwa berdua. Suka duka, pahit getir, dan manis. Senyum dan tangis. Itu semua modal untuk melihat hidup dengan hati. Jika kamu menikmati semua peristiwa itu, mencatat dalam hati dengan penuh kesyukuran, maka kamu bisa melihat hidup ini dengan mata hati.”

“Oh ya, saya teringat cerita Nyai. Beliau mengaku pernah tidak bisa menahan tangis karena perlakuan guru.”

“Karena perlakuanku sampai menangis?” tanya guru heran.

Lelaki itu lalu berkisah. Nyai pernah bercerita, suatu hari kehilangan sandal di masjid, usai berjamaah. Lama dia mencari sandalnya tapi tidak ketemu. Guru mendekati. “Cari apa Bu?”

“Sandal kok tidak ada,” kata Nyai.

“Sudah, pakai saja sandalku ini.”

Guru lalu melepas sandal. Semula Nyai enggan tapi akhirnya dipakai juga. Guru mengalah pulang dari masjid tanpa sandal.

“Mengapa Bapak lakukan itu?” tanya Nyai setelah tiba di rumah.

“Ah, pengorbanan kakiku tanpa sandal tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan kaki Ibu padaku. Setiap hari kaki Ibu sering tergopoh-gopoh menyambut kedatanganku di depan pintu. Itu luar biasa dan sangat menyejukkan hatiku,” kata guru.

“Nyai juga bercerita, pernah tangan Nyai digenggam erat, dituntun guru ketika menuruni tangga dari gedung lantai lima yang mati listrik. Lift tidak berfungsi. Guru yang biasa berjalan cepat dengan sabar menyertai Nyai yang berjalan pelan,” kata lelaki itu mengkonfirmasi.

“Ah, genggaman tanganku tidak ada artinya dibandingkan tangan Ibu yang tiap pagi dengan senyum menyiapkan teh hangat dan sarapan untukku dan anak-anak. Tangan Ibu membuat hidup ini indah,” begitu cerita Nyai.

“Sikap guru itu membuat Nyai sering tidak bisa menahan tangis, haru, dan bangga. Guru romantis dan sangat memanjakan Nyai,” kata laki-laki itu.

Guru hanya tartawa.

“Aku juga bisa menangis karena dia,” kata guru. Ketika ulang tahun pernikahan ke-50, dia memberi bungkusan kecil. Semacam kado. Pesannya, buka nanti di tempat kerja. Aku penasaran ingin tahu isinya. Setelah kubuka dari bungkus yang berlapis-lapis, ternyata tidak ada apa-apanya. Hanya ada satu lembar kertas kecil berisi tulisan.”

Bunyi tulisan itu yang membuat aku menangis: “Ya Allah terima kasih. Engkau berikan kepadaku suami luar biasa. Sudah 50 tahun kami bersama tapi sikap suami kepadaku tidak berubah. Hatiku selalu damai dan tenteram bersamanya. Terima kasih ya Allah.”

“Tulisan itu membuatku menangis. Aku merasa tidak gagal menjadi suami. Kado sangat indah yang tak akan pernah kulupakan”.

“Ternyata jalan hidup mesra sampai Akhir hayat itu murah dan sederhana ya Guru?”

“Ya, asal kita bisa menjadi arkeolog. Makin lanjut usia pasangan kita, makin tinggi harganya. Itulah yang dikerjakan arkeolog, menemukan dan merawat benda-benda tua yang bernilai tinggi. Maka, bangun keindahan dengan kemesraan kecil yang tulus.”

Kisah di atas menggambarkan betapa indahnya cinta yang didasari oleh kasih sayang (rahmah).

Menurut para ulama, kita berproses dari mawaddah ke rahmah. Mawaddah artinya cinta disertai kebutuhan biologis. Makin hari kebutuhan itu berkurang. Maka yang terus bertambah adalah rahmah, kasih sayang. (*)

Kolom oleh Ustadz Nur Cholis Huda, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Baca Juga:  Inilah Hidup dan Muhammadiyah: Semakin Digeluti Semakin Banyak Tantangan