Ternyata Haedar Nashir Pernah Bercita-cita Jadi Camat, Ini Biografinya yang Dibaca saat Pengukuhan Guru Besar

900
Pasang Iklan Murah
Haedar Nashir saat membacakan pidato pengukhan guru besar. (Nadjib Hamid/PWMU.CO)

PWMU.CO – Siapakah Haedar Nashir ? Dalam pengukuhan guru besar-nya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (12/12/19), biografi singkat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu dibacakan: Dr Haedar Nashir, sang Moderat Autentik dari Muhammadiyah. Redaksi.

Haedar Nashir, lahir pada tanggal 25 Februari 1958 di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan dari pasangan Haji Bahrudin dan ibu Hajah Endah binti Tahim.

Haedar lahir dari keluara santri. Ayahnya seorang kiai (ajengan). Sejak kecil dia mengenyam pendidikan agama sampai mengantarkannya ke Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya.

Selepas dari pesantren, Haedar melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 3 Bandung dan SMAN 10 Bandung. Setamat dari SMA, Haedar merantau ke kota pelajar Yogyakarta, melanjutkan studi di STPMD APMD Yogyakarta.

Haedar masuk APMD karena ingin pulang ke Ciparay menjadi camat memajukan daerahnya yang sering terisolasi secara politik dampak buruk dari DI/TII di wilayahnya Jawa Barat selatan.

Tahun 1984 lulus sarjana muda, kemudian kerja tahun 1987, lalu menyelesaikan S1 di APMD tahun 1991 sebagai lulusan terbaik.

Haedar tidak jadi pulang kampung dan menjadi camat karena menikah dengan Siti Noordjannah Djohantini, aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) asli kelahiran Yogyakarta, yang membuat dirinya betah menetap di kota ini sampai sekarang.

Dari pernikahan dengan Siti Noordjannah lahir Hilma Nadhifa Mujahidah dan Nuha Aulia Rahman. Keduanya dokter lulusan UMY dan UGM.

Minatnya pada ilmu pengetahuan bidang sosial mendorong untuk melanjutkan studi hingga meraih gelar Master tahun 1998 dan gelar Doktor tahun 2006 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang juga dengan predikat cumlaude.

Disertasi Haedar di UGM diterbitkan menjadi buku yang telah dua kali terbit, yakni Islam Syariat. Buku ini sulit disanggah. “Referensinya sangat kaya dan metodologinya pun sangat kuat,” kata Prof Dr Mahfud MD yang sampai menulis kolom khusus di majalah ternama tentang disertasi Haedar itu.

Sejak usia belia, Haedar adalah sosok pemuda yang gemar berorganisasi. IPM yang merupakan sayap organisasi otonom Muhammadiyah adalah organisasi pelajar yang ditekuninya semenjak dari ranting sampai pimpinan pusat.

Selain aktif di organisasi, Haedar adalah sosok yang rajin membaca dan menulis. Ketekunannya dalam dunia literasi telah mengantarkannya menjadi seorang penulis prolific. Tebaran goresan penanya, banyak menghiasai rubrik-rubrik koran baik lokal maupun nasional.

Kepiawaian Haedar dalam menulis, sebagai buah dari kegemarannya membaca. Semakin teraktualisasi ketika Haedar aktif di Majalah Suara Muhammadiyah, sebuah majalah terbitan Muhammadiyah yang dirintis oleh KH Ahmad Dahlan sejak tahun 1915 yang keberadaannya masih eksis melampaui kurun satu abad.

Karir Haedar di Majalah Suara Muhammadiyah mulai dari menjadi juru ketik, wartawan, editor, dan puncaknya menjadi pemimpin redaksi sampai sekarang.

Karir akademik Haedar dimulai ketika menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tahun 1992 pada Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tahun 1992.

Di samping menjadi dosen, Haedar juga seorang intellectual cum activist penggerak Muhammadiyah. Jiwa kekaderan dan kepemimpinan Haedar semakin terpupuk ketika pada tahun 1985 mulai aktif di Badan Pembina Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertugas merancang, mendesain, dan menyiapkan pengaderan pemimpin Muhammadiyah.

Pada Muktamar ke-45 tahun 2000 di Jakarta, Haedar terpilih menjadi anggota pimpinan pusat (PP) dan diberi amanah menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mendampingi Prof Dr Ahmad Syafii Maarif. Ketika menjadi sekretaris umum, Haedar yang sudah sangat terlatih, piawai mengelola laju gerak Muhammadiyah sekaligus menjadi ideolog Muhammadiyah dengan karakter inklusifisme islam.

Duet Syafii Maarif dan Haedar Nashir saling melengkapi dalam menjaga kapal besar Muhammadiyah ditengah situasi bangsa yang berubah dan penuh gejolak saat Reformasi 1998.

Baca Juga:  Prof Haedar Nashir Contoh bagi Warga Muhammadiyah untuk Gigih Menuntut Ilmu

Ketika Buya Syafii Ma’arif mengakhiri masa tugasnya, Haedar Nashir masih terus melanjutkan kiprahnya di Muhammadiyah pada masa kepemimpinan Prof Dr Din Syamsudin menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah tahun 2005-2015.

Pada Muktamar Ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015, Haedar diamanahi menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah sampai sekarang.

Kesibukan Haedar Nashir dalam mengurus Muhammadiyah, tidak menjadikan Haedar lupa dan melupakan tanggung jawab akademiknya sebagai dosen. Haedar tetap melaksanakan tugas catur dharma perguruan tinggi, Mengajar, memberi kuliah kepada mahasiswa, membimbing, menguji, melakukan riset, menulis jurnal internasional bereputasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Hal ini terasa cukup istimewa di tengah kesibukan dalam menakhodai organisasi Islam modern terbesar di dunia saat ini.

Tugas melayani masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk kunjungan ke pelosok-pelosok tanah air menyapa penggerak perubahan di grass root, bahkan sampai ke panggung internasional ditunaikan penuh dedikasi bersamaan dengan tugas dan perannya sebagai seorang cendekiawan kampus tanpa kehilangan karakter intelektual organik.

Baca Juga:  Begini Jawaban Haedar Nashir ketika Ditanya Capres Representasi Islam 2019

Sebagai akademisi, Haedar Nashir terbilang sebagai penulis yang produktif, banyak karya tulisan yang diterbitkan baik berupa artikel lepas, buku utuh dan paper hasil penelitian. Hingga pada puncaknya, Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bdang Sosiologi.

Dari deretan panjang karya dan sepak terjang Haedar, tergambar dengan jelas betapa kuat perhatian, komitmennya pada Islam dan keindonesiaan, yang semuanya bermuara pada moderasi yang autentik.

Paham keislaman yang moderat, tengahan, damai, dan toleran yang ditopang dengan kondisi sosial bangsa yang majemuk menjadikan Haedar mempunyai pemikiran, sikap dan tindakan yang meletakkan moderasi sebagai sebuah jalan menuju kedamaian dan kemajuan berbangsa. Moderasi politik Haedar adalah menjaga bangsa dan merawat keberagaman bersama.

Dalam konteks moderasi, Haedar adalah sosok yang antikekerasan. Dirinya sangat sensitif jika menyaksikan kekerasan dalam bentuk apapun.

Dari karya-karyanya tercermin pandangan keislaman dan keindonesiannya yang merefleksikan pemikiran, sikap, dan posisi Haedar sebagai seorang tokoh dan simbol dari Moderatisme Islam yang Berkemajuan.

Selamat Prof Haedar Nashir! (*)

Editor Mohammad Nurfatoni.