Busyro Muqoddas: Watak Muhammadiyah Itu Nyumbang

660
Pasang Iklan Murah
Busyro Muqoddas mengatakan, watak Muhammadiyah itu nyumbang (memberi) bukan meminta. "Watak Muhammadiyah itu yadul ulya khairu min yadi sufla (tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah)."
Busyro Muqoddas sampaikan watak Muhammadiyah di Tabligh Akbar PCM Sepanjang. (Emil Mukhtar/PWMU.CO)

PWMU.COBusyro Muqoddas mengatakan, watak Muhammadiyah itu nyumbang (memberi) bukan meminta. “Watak Muhammadiyah itu yadul ulya khairu min yadi sufla (tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah).”

“Memberi lebih baik, lebih mulia. Dari pada meminta, apalagi nyolong. Nyolong itu korupsi,” ujarnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah HM Busyro Muqoddas SH MHum menyatakan hal itu dalam Tabligh Akbar yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, di Masjid Al Manar, Sepanjang, Taman, Sidoarjo, Ahad (12/1/20).

Memulai ceramahnya, Busyro Muqoddas membacakan Alquran Surat Almukminun Ayat 78, “Dan Dialah (Allah) yang telah menciptakan bagimu, pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

Dia menegaskan, selain pendengaran dan penglihatan, ada hati nurani. Hati nurani yang ketika di-rontgen tidak kelihatan. Namun hati nurani itu ada, dan itu ghaib.

“Ini tidak mengikat antara hati nurani itu dengan (partai politik) Hanura. Beda banget itu. Ojok dipadak-padakno, bedo buanget,” katanya yang disambut geerrrr hadirin.

Dengan hati nurani itu, kata Busyro Muqoddas, kita bisa memahmi bahwa kemerdekaan ini tak bisa dilepaskan dari peran Tuhan, seperti tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Baca Juga:  Kisah Pak Prapto yang Rindu Bersujud

“Mengapa atas rahmat Allah? Karena yang dulu Indonesia dijajah Belanda 350 tahun itu, dijajah ekonominya, lingkungannya, sumber-sumber ekonomi lainnya, hingga dijajah agamanya,” terangnya.

Itu, sambungnya, yang melakukan perlawanan mayoritas adalah umat Islam. “Umat Islam ini di bawah komando. Komandannya adalah ulama-ulama yang berjuang,” katanya.

Kalau di Surabaya itu, tambahnya, dikenal dengan Bung Tomo dengan pekiknya Allahu Akbar. “Luar biasa itu (Bung Tomo),” terangnya.

Kekayaan Indonesia Luar Biasa

Menurut Busyro Muqoddas, dengan kemerdekaan itu, Indonesia hadir dengan diberi rezeki yang panjang oleh Allah. Dia bercerita, saat di KPK, ia pernah menerima hasil penelitin berapa banyak Indonesia ini diberi kenikmatan oleh-Nya.

Ternyata kekayaan Indonesia luar biasa. Kekayaan batu bara, nikel, emas, bauksit, timah. Kekayaan-kekayaan laut, kekayaan hutan, kekayaan tambang-tambang yang belum bisa dieksplointasi, gas dan sebagainya. Luar biasa!

“Sampai kami merinding melihat. Inilah hadha min fadli rabbi. Inilah negeri yang diberi rezeki oleh Allah,” katanya.

Baca Juga:  Aisyiyah Jangan Sering Menoleh ke Belakang, tapi Harus Fokus ke Depan

Kapal Cina Masuk Natuna

Busyro mengatakan, tanda-tanda kekayaan Indonesia itu dilihat oleh negara lain, termasuk Cina. Seperti terlihat dari kasus terakhir kehadiran kapal-kapal Cina di wilayah Indonesia, di Kepulauan Natuna.

Menghadapi kasus itu, kenapa pemerinah lambat? Menurut Busyro Muqoddas, jawabannya sudah bisa dibaca. “Walaupun akhirnya pemerintah mulai tegas. Bagus kita pemerintah. Pemerintah itu kalau baik, kita senang. Kalau jujur, lebih jujur kita juga senang. Kalau tidak baik jangan kita lawan,” katanya.

Taawun Muhammadiyah

Pria kelahiran Yogyakarta 1952 itu berpesan, Muhammadiyah itu tidak punya tradisi melawan, apalagi oposisi. Tetapi bekerja sama.

“Muhammadiyah itu taawun. Taawanu alal birri wat-taqwa. Kerja sama dengan siapa pun juga,” katannya.

Ia mencontohkan, dua tahun yang lalu (2018), tercatat ada 150 perguruan tinggi negeri di Indonesia. Sedangkan Muhammadiyah, punya 168 perguruan tinggi pada tahun yang sama.

“Andaikan universitas-universitas Muhammadiyah seluruh Indonesia tutup, ke mana anak-anak Indonesia sekolahnya. Apa bisa ditampung oleh negeri? Tidak,” jelasnya.

Nah sambungnya, Muhammadiyah itu nyumbang (memberi), tidak hanya perguruan tinggi, tapi juga PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA, MA, SMK, Diniyah, dan sebaginya. (*)

Penulis Emil Mukhtar. Editor Mohammad Nurfatoni.