Dai Mualaf Dennis Lim Setiawan soal Tingkatan Nikmat Allah

277
Dai Mualaf dari Daarut Tauhiid Dennis Lim Setiawan menjelaskan tiga tingkatan nikmat yang diperoleh manusia atas anugerah Allah.
Dennis Lim Setiawan menyampaikan Iman, Ilmu dan Pengetahuan di hadapan siswa SMAMIV (Kiki Cahya Muslimah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Dai Mualaf dari Daarut Tauhiid Dennis Lim Setiawan menjelaskan tiga tingkatan nikmat yang diperoleh manusia atas anugerah Allah.

Hal itu dia sampaikan dalam Kajian Umum SMA Muhammadiyah 4 Surabaya (SMAMIV), di Masjid Dakwah Kemlaten, Jumat (27/1/20).

Dennis Lim Setiawan menyampaikan, Allah menganugerahkan tiga nikmat kepada manusia. Pertama, nikmat hidup. “Tanaman di depan pun hidup tapi ketika hujan dia tidak bisa lain halnya dengan manusia,” ujarnya.

Kedua, nikmat merdeka. “Kita bebas memilih mau condong kepada iman atau kafir,” ucap Dennis Lim Setiawan yang menadi seorang mualaf pada tahun 2009 itu.

Ketiga, nikmat hidayah. Menurut dia alangkah rugi jika hanya sebentar bahagia di dunia bersama orang yang kita cintai namun di kehidupan yang kekal justru terpisah.

“Tidak sembarang orang bisa mendapatkan nikmat hidayah ini. Maka saya bersyukur hari ini bisa berkumpul dengan Antum semua yang insyaallah masuk ke dalam surga-Nya nanti,” ujar pemuda dari Bogor yang pernah sekolah di SMA Katholik itu.

Tiga Tingkatan Belajar

Selain bica soal nikmat, Dennis Lim Setiawan juga membahas tingkatan belajar dalam Islam. Menurutnya ada tiga tingkatan, pertama, aqidah. Yaitu yakin, harap, dan takut hanya kepada Allah. “Jika tauhidnya benar, maka buahnya akan menjadi karim atau mulia,” ujarnya.

Kedua, syariat. Jika akidah atau tauhidnya benar maka akan merelakan seluruh tingkah lakunya diatur oleh syariat agama Islam. “Karena Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi,” terannya.

Pemuda 27 tahun yang berasal dari keluarga besar Tionghoa itu melontarkan pertanyaan kepada para siswa, “Ada orang yang beralasan tidak berhijab dulu yang penting hatinya berhijab. Bolehkan demikian?”

Para siswwa pun menjawab, “Tidak”.

“Itulah (makna) belajar akidah dulu baru akhlak” tuturnya.

Ketiga, ilmu. Menjalaskan soal ini Dennis Lim Setiawan mengajak peserta membayangkan ketika mau naik helikopter.

Pilihannya ada dua pilot. Pilot pertama, orang shaleh yang mempunyai iman tinggi tapi belum pernah membawa helikopter. Pilot kedua, orang yang shalatnya jarang tapi berpengalaman mengendarai pilot.

“Mana yang dipilih? Tentu yang berpengalaman. Makanya ilmu itu sangat penting,” terang dia.

SMA Muhammadiyah 1 Taman

Ajak Teladani Tokoh Islam

Sebelum menutup materi, Dennis Lim Setiawan memotivasi agar para pelajar SMAMIV rajin belajar, berprestasi, dan tidak meninggalkan ibadahnya.

“Juga meneladani tokoh-tokoh Muslim seperti Muhammad Al Fatih yang dalam usia mudanya sudah mencetak prestasi gemilang seperti menaklukkan Konstantinopel dan tidak pernah meninggalkan shalat tahajudnya,” urainya.

Dennis Lim Setiawan belajar di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid sejak 15 Maret 2017. Sampai saat ini aktif menjadi kader dakwah dari Daarut Tauhiid asuhan Aa Gym tersebut.

Dia ke SMAMIV bersama Wildan Yasa Kuswandi (25 tahun), Kepala Bagian Program Pemberdayaan DTPeduli.

Kedatangan tim dari Daarut Tauhiid Bandung merupakan bagian dari program Majelis Manajemen Qolbu (MMQ) Goes to School yang mengadakan road show ke lembaga-lembaga Pendidikan dan sampai 25 Januari di Surabaya.

Baca Juga:  Oleh-Oleh dari Bandung: Ternyata Ada Hubungan Erat antara Lillah dengan Lelah

Ceramah Dennis Lim Setiawan bertema ‘Urgensi Iman dan Ilmu Pengetahuan’ menancap di hati para siswa. Seperti diakui Mufidah Widjan Awinas, siswa kelas XI IPS 2. Dia sangat terkesan dengan kajian umum hari ini.

“Selain ustadz Dennis tampan dan masih muda, penyampaian bahasanya lugas juga mudah dipahami. Menyitir banyak kisah para tokoh Muslim dan keutamaan shalat itu sangat menarik dan tidak membosankan,” katanya.

Kepala SMAMIV Zainal Arifin MPdI bersyukur karena kajian tersebut dapat menambah saudara seiman. Dia mengimbau agar siswa belajar dari materi yang disampaikan. (*)

Baca Juga:  MKKSM SD-MI Gresik Studi tentang Simuntakiucidu, TSP, dan 3M ke Bandung

Penulis Kiki Cahya Muslimah. Editor Mohammad Nurfatoni.