Qunut dan Beduk Tak Zamannya Lagi Diperdebatkan

1434
Qunut dan beduk tak zamannya lagi diperdebatkan. Demikian Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur Dikky Syadqomullah.
Dikky Syadqomullah saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan PDPM Kabupaten Jember. (Humaiyah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Qunut dan beduk tak zamannya lagi diperdebatkan. Demikian kata Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur Dikky Syadqomullah SHI MHes saat Pelantikan PDPM Kabupaten Jember periode 2019-2023, Sabtu (25/1/20).

Ia juga menegaskan, tak ada kapling surga untuk NU ataupun Muhammadiyah. “Surga untuk umat Islam,” ujarnya. Dan perdebatan soal qunut dan beduk, menurutnya sudah tak relevan lagi.

Mengusung tema “Gerakan Dakwah Islam Memajukan Jember”, pelantikan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Jember digelar di Pondok Tahfid Bambu Kuning Tanggul, Jember.

Turut hadir dalam kegiatan itu Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jember dan seluruh ortom tingkat daerah, perwakilan Pemuda Anshor, serta jajaran Muspika Kecamatan Tanggul, Jember.

Dalam sambutannya, Dikky Syadqomullah mengatakan, Surat al-Ashr yang hanya terdiri dari tiga ayat dan sudah dihafal, namun kurang maksimal dalam penerapannya. Menurutnya, Surat al-Ashr bisa menjadi landasan dalam perjalanan Pemuda Muhammadiyah dalam menjalankan program–programnya.

“Ber-Pemuda Muhammadiyah bergantung pada niatnya. Jika niatnya salah, maka akan salah dalam penerapan dan hasilnya,” ujar Dikky Syadqomullah.

SMA Muhammadiyah 1 Taman

Ia menuturkan, teman-teman di Pemuda Muhammadiyah tidak berharap selain ridha Allah dalam berkegiatan. Jika niat yang benar sudah ditancapkan, kata dia, maka selanjutnya harus diiringi dengan amal salih.

Baca Juga:  Ketua PWPM Jatim: Politisi Muslim Itu Harus Berpihak pada Kepentingan Islam, Bukan Malah Ikut Arus

Pentingnya Sinergi dengan Berbagai Lembaga

Amal salih tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, lanjut Dikky Syadqomullah, Pemuda Muhammadiyah harus bersinergi dengan pemerintah, Muspika dan organisasi kepemudaan lain. “Perjuangan yang dilakukan bersama–sama akan lebih mudah. Seperti kasus dolly,” ujarnya mencontohkan.

Ia menjelaskan, dalam kasus penutupan Dolly, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil karena bersinergi dengan Muhammadiyah, NU, dan organisasi masyarakat lainnya.

“Tapi yang menjadi PR besar kita setelah penutupan itu adalah ‘kupu-kupu malam’ malah bertebaran di mana–mana. Ini menjadi tugas besar lagi,” tandas Dikky Syadqomullah yang disambut tawa kecil para hadirin.

Bagi Dikky, saling memberi nasihat dalam kebenaran bisa dilakukan dengan beberapa langkah. Kepada Pemuda Muhammadiyah Jember yang baru dilantik, Dikky Syadqomullah menyarankan harus lebih sering bersinergi dengan Pemuda Anshor dan pemerintah. Mengadakan kajian bersama di pendopo menjadi salah satu alternatif kebersamaan.

“Jika diibaratkan sepasang kaki, Pemuda Muhammadiyah itu kaki kanan dan Pemuda Anshor kaki kiri. Maka kedua kaki itu akan berjalan seirama dan saling beriringan,” ungkapnya.

Baca Juga:  PDPM Tulungagung Dilantik, Program Ini yang Harus Diwujudkan

Ia juga menegaskan, tak ada kapling surga untuk NU ataupun Muhammadiyah. Surga untuk ummat Islam. Menurutnya, sudah tidak zaman lagi membahas ‘bedug’ dan ‘qunut’. “Persoalan besar kita adalah persoalan keummatan,” tegasnya.

Dikky menambahkan, pimpinan yang baru harus segera melakukan audiensi dengan pemerintah. Membicarakan program-program Pemuda Muhammadiyah yang bisa disinergikan dengan pemerintah. “Dakwah juga harus lebih tingkatkan,” tuturnya.

Di akhir sambutannya, Dikky Syadqomullah menjelaskan penerapan watawa shaubil shabri dengan istiqomah dalam ber-Pemuda Muhammadiyah. Istiqamah semangat, kata dia, harus selalu menyala mulai pelantikan hingga bertemu dengan Musyawarah Daerah kembali. “Jangan ada yang mrotol (tidak aktif) di tengah jalan,” harapnya. (*)

Penulis Humaiyah Co-Editor Ria Pusvita Sari. Editor Mohammad Nurfatoni.