Pemimpin yang Baik dan Dinamis, Ini Syaratnya

225
Pemimpin yang baik dan dinamis itu ada syarat tertentu. Pemimpin yang dinamis menurut Diana Mufidati bermuara dari pengkaderan yang siap menjadi penerus berlangsungnya organisasi.
Diana Mufidati di Perguruan Muhammadiyah Payaman Solokuro Lamongan (Umi Hanik/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pemimpin yang baik dan dinamis itu ada syarat tertentu. Pemimpin yang dinamis bermuara dari pengkaderan yang siap menjadi penerus berlangsungnya organisasi.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Lamongan Hj Diana Mufidati SAg saat menjadi pemateri pada Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Berkemajuan II di Perguruan Muhammadiyah Payaman, Solokuro, Lamongan, Sabtu (25/1/2020).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Pembinaan Kader (MPK) PDA Lamongan dan diikuti 14 Cabang dengan 140 peserta selama dua hari, Sabtu-Ahad (25-26/1/2020).

Dia mengatakan, pemimpin adalah motivator atau penggerak bagi bawahannya. “Dan sebelum menjadi pemimpin maka harus mengerti apa dan bagaimana kriteria pemimpin itu,” ujarnya.

SMA Muhammadiyah 1 Taman

Syarat Pemimpin yang Baik

Dalam sebuah kepemimpinan, sambungnya, paling tidak kita mempunyai syarat tertentu. Untuk menjadi pemimpin yang baik dan dinamis tentu melalui sebuah proses pengkaderan.

“Wujudkan kader yang memiliki ghirah solidaritas, ukhuwah, daya juang, wawasan serta berbasis idiologi. Gerakan ini yang harus dimiliki oleh pimpinan,” ungkapnya.

Menurut Diana Mufidati persyaratan tersebut harus dimiliki oleh kader dimulai dari IPM, IMM, NA, PM, HW dan TS putra-putri Muhammadiyah atau semua ortom.

“Baru kemudian dibina sebagai aktivis Aisyiyah. Insyaallah pengkaderan dari level bawah diikuti terus dan ketika kita menjadi pimpinan maka seluruh persyaratan itu akan ada pada kita,” jelasnya.

Baca Juga:  Bupati Puji Kontribusi Muhammadiyah Memajukan Lamongan

Jadi kalau nanti menjadi pimpinan Aisyiyah, lanjutnya, tidak akan merasa cangggung lagi dan tidak ada tekanan batin.

“Semuanya akan dilakukan dengan lapang dada karena menghadapi kader yang berbeda-beda karakter dan jabatannya,” imbuhnya.

Diana Mufidati menjelaskan ada kader-kader yang lebih pintar dari pimpinannya. “Dan kalau ibu-ibu sudah melewati pengkaderan seperti ini, mulai dari IPM sampai IMM alias ditempuh dari nol, maka akan mudah melaksanakan karena sudah mengerti dari awal,” paparnya.

Dia memberikan contoh dirinya sendiri ketika mengikuti IPM di Brondong. Waktu itu dibina oleh Fatkhur Rohim Syuhadi yang sekarang menjabat Ketua Majelis Penddikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan.

“Anak-anak IPM dibina luar biasa disiplinnya. Kalau sampai telat waktu itu wes dredek atau grogi karena menghadapi kakak-kakak kelasnya yang serba cepat. Pakai sepatu sampai terbalik tidak terasa karena dikejar waktu,” kisahnya disambut tawa peserta.

“Tetapi ketika kita bisa menjalani semua itu maka kita mampu membuktikan bahwa kita mampu menjadi kader yang baik. Situasi apapun tidak panik dan semua bisa diatasi,” lanjutnya.

Kader Itu Penggerak Organisasi

Dia menegaskan, kader memiliki peran penting untuk kelangsungan Aisyiyah. Karena kader adalah penggerak berlangsungnya sebuah organisasi.

Menurut Diana Mufidati, ada empat persoalan kaderisasi dalam Aisyiyah. Pertama adanya anggapan bahwa kader Aisyiyah harus punya keahlian tertentu.

Baca Juga:  Kader Muhammadiyah Wajib Memahami Teknologi Informasi

“Hal ini membatasi kesempatan terutama di tingkat komunitas untuk melakukan penguatan dan kapasitasnya sebagai kader penggerak masyarakat,” ungkapnya.

“Kedua tranformasi kader. Secara vertikal ranting, cabang, daerah, wilayah dan pusat serta secara horisontal dari majelis harusnya berjalan secara sistemik dengan pengalaman kualitas idiologi,” urainya.

Ketiga, lanjutnya, potensi kader yang dimiliki Aisyiyah cukup beragam. “Tetapi masih banyak keluhan di seluruh jenjang kepemimpinan bahwa mereka kekurangan kader,” sergahnya.

Keempat adanya perangkapan jabatan anggota. “Itu yang sering ditemui pada berbagai jenjang kepemimpinan yang sedikit,” tuturnya.

Pimpinan Harus Bisa Ngemong

Dia menyatakan kepemimpinan yang dinamis itu kadernya bertambah. “Menjadi pimpinan harus betul-betul pandai ngemong. Kadernya harus diberi kepercayaan atau tugas supaya belajar yang semula tidak bisa menjadi bisa,” paparnya.

Pimpinan itu, lanjutnya, harus memiliki intuisi, yakni kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektual.

“Dengan daya yang kreatif dan imajinatif yang dilakukan untuk kemajuan organisasi. Mencari solusi memecahkan kebutuhan serta refresing organisasi,” jelasnya.

Sekarang ada pimpinan, menurutnya, karena ada organisasi. Maka bekal seorang organisatoris yaitu kuasailah maksud dan tujuan organisasi.

“Jika aktif di organisasi berarti harus siap mewakafkan diri serta menguasai manajeman SDM dan waktu. Juga harus bisa menguasai keterampilan memimpin dan memperbanyak membaca untuk mempertajam wawasan,” pesannya. (*)

Penulis Umi Hanik. Co-Editor Sugiran. Editor Mohammad Nurfatoni.