Jalan Pintas Menuju Surga, Lewat Mana?

496
Jalan Pintas Menuju Surga adalah tema yang disampaikan Dr H AZ Fanani MAg dalam Pengajian Bulanan Pimpinan Ranting Aisyiah (PRA) Sidokumpul Gresik.
Dr H AZ Fanani MAg, saatmenyampaiakan materi (Ian Ianah/ PWMU.CO).

PWMU.CO – Jalan Pintas Menuju Surga adalah tema yang disampaikan Dr H AZ Fanani MAg dalam Pengajian Bulanan Pimpinan Ranting Aisyiah (PRA) Sidokumpul Gresik.

Pengajian digelar di rumah Hj Nurfadillah SPd, Jalan Ikan Kerapu Timur Raya No 1 BP Kulon Gresik, Jumat (24/1/20).

Ustadz Fanani, sapaannya, mengawali pengajian dengan menjelaskan pengertian surga. “Orang Jawa bilangnya suwarga dan orang Arab menyebutnya jannah,” ucapnya.

Secara umum, jelas Ustadz Fanani, orang mengartikan surga sebagai tempat di akhirat nanti yang dijanjikan untuk orang yang bertakwa dan beramal shaleh. Sebagai tempat balasan yang penuh dengan kenikmatan.

“Kenikmatan itu yang belum pernah kita temukan di dunia. Jika kita melihat bangunan yang indah di dunia ini, maka lebih indah lagi yang ada di surga. Jika kita merasakan makanan yang lezat di dunia ini maka akan ditemukan makanan yang lebih lezat di surga,” terang dia.

Ustad kelahiran Lamongan ini lalu melontarkan kepada para jamaah pertanyaan, “Kira-kira ada tidak yang ingin tidak masuk surga?”

Sontak jamaah menjawab, “Tidak ada.”

Masuk Surga Lewat Pintu Kematian

Ustadz Fanani menyampaikan, semua orang menginginkan masuk surga. Tetapi orang akan sampai masuk surga—jika surga itu dianggap sebuah bangunan—kira-kira apa yang lebih dahulu dimasuki? Adalah pintu dan pagar jika bangunan itu terdapat pagarnya.

“Maka kira-kira apa pagar itu?” tanyanya.

Menurut Ustadz Fanani pagar adalah sebuah kematian. Seperti dijelaskan dalam Surat Ali Imran Ayat 185.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya atau kesenangan yang menipu.”

Tipuan Dunia

Ustadz Fanani mengatakan, kesenangan dunia ini hanyalah menipu, karena banyak kesenangan di dunia ini yang bisa membuat orang tidak bisa masuk surga.

Dia menegaskan, di antara kesenangan yang menipu itu bisa kita konsultasi dengan Surat Ali Imran Ayat 14. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk, dalam bentuk emas atau perak, kuda pilihan, hewan ternak, dam sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.”

Misalnya, jelas dia, kesenangan menipu laki-laki itu adalah wanita. Suatu yang disenangi itu bisa menipu. Kemudian banin, anak, bisa menipu.

Ada orangtua tidak terselamatkan karena anak. Seperti kisah Nabi Hindir ada anak yang ganteng dan shaleh dibunuh, karena anak ini nantinya bisa mendorong orangtuanya berbuat maksiat karena terlalu cintanya kepada anak.

“Dan itu beberapa contoh kesenangan yang menipu, yang bisa jadi menghalangi atau menghambat untuk masuk surga,” ungkapnya.

Dosen Universitas Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu menjelaskan jalan pintas menuju surga seperti apa yang bisa mengantarkan kita?

Ada Jalan Pintas Menuju Surga

Kita memahami untuk ke surga itu jalannya berliku dan sulit. Maka perlu ada jalan pintas. “Jika kita katakan sulit ya sulit maka kembalilah kepada Allah yang akan mempermudah,” jelas Ustadz Fanan sambil membacakan Surat al-Baqarah Ayat 214.

“Ataukan kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rosul dan orang-orang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

SMA Muhammadiyah 1 Taman

Ujian Masuk Surga

Ustadz Fanani melanjutkan, kembali pada sejarah awal Islam, Nabi datang mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ada di masyarakat yang mempunyai 360 tuhan. Tetapi Nabi mengatakan ‘Qul huwallahu ahad.’ Tuhan hanya satu. Jika Tuhan satu bagaimana dengan Tuhan lainnya.

Menurut dia, kemajuan Islam selalu dihalangai. Orang Islam untuk menyelamatkan akidahnya perlu hijrah ke kota Abasa. Setelah kembali semua kegiatan ekonomi diboikot dan terjadi hijrah di Madinah. Inilah mataa nashrullsh, alaa inna nasrallahi qarib. Kapankah pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Ustadz Fanani lalu mengutip Surat Ali Imran Ayat 142. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

Menurut Ustadz Fanani, surga itu tidak mudah. Jika surga mudah bisa jadi tidak menarik, yang mungkin lebih enak di rumah. Maka itulah sudah ada satu penjelasan misalkan pada Surat Ali Imran Ayat 133.

“Dan bersegerahlah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Baca Juga:  35 Guru Ikuti Wisuda Tahfidh, Begini Kiat Menghafalnya

Surga itu disiapkan dan tidak mungkin penuh. Luasnya seperti langit dan bumi. Sebagai gambaran ada cara untuk mencapai surga. Siapa yang akhir hidupnya mengucapkan Laa ilaaha illallah maka akan masuk surga.

Cuman orang bisa mengucapkan itu di akhir hayat bukan suatau yang mudah. Jika sehari-hari tidak mengenal Allah, tidak bisa menjaga kemusyikan maka tidak mudah mengucapkan di akhir hayatnya,” terang dia.

Keutamaan Menuntut Ilmu

Menurut Ustadz Fanani, surga ada yang bisa ditempati dengan berliku dan ada yang mudah, yakni dengan ‘berjalan untuk mencari ilmu’.

“Bapak dan Ibu berjalan dari rumah menuju kemari untuk mencari ilmu, adalah salah satu poin untuk mempermudah mendapatkan surga, seperti hadits riwayat Muslim No 2699.

Waman salaka thariiqan yaltamisu fiihi ilman sahalallahu lahu bihi thariiqan ilal jannah. Siapa yangg menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalam menuju surga surga.”

Ustadz Fanani menelaskan, sekelompok atau kaum yang berkumpul di satu rumah untuk membaca ayat-ayat Allah dan mempelajarinya, kepada mereka akan diturunkan satu kedamain.

“Mereka akan dilindungi rahmah kasih sayang Allah juga dilindungi malakikat. Allah menyebut-nyebut orang itu yang masuk surga. Dan siapa yang terlambat melaksanakan maka keturunannya tidak akan menggatikan,” terang dia.

Selanjutnya dari Abu Darda RA berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda ‘Bagi siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (memayungkan sayapnya) kepada penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut’.” (HR Ibnu Majah).

Mencari ilmu Allah akan memudahkan jalan pintas menuju surga. Malaikat ada yang mempunyai sayap 600 ada yang lebih maka malaikat itu akan membeber sayapnya dan melindungi orang-orang yang mencari ilmu. Orang mencari ilmu akan dimintakan ampun dari langit dan bumi, ikan di air pun akan memintakan ampun orang yang mencari ilmu.

Orang Berilmu dan Ahli Ibadah

Keutamaan orang berilmu terhadap ahli ibadah, kata ustadz Fanani, seperti kelebihan matahari dibandingkan dengan seluruh bintang. “Karena itu ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham. Para Nabi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil ilmu itu, maka ia telah mengambil bagian yang amat baik,” kata dia.

Timbul pertanyaan, lanjutnya, kenapa menuntut ilmu sangat penting sampai malaikat melindungi? Kita bisa melihat pada Ali Imran Ayat 18. “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu menegakkan keadilan, tidak ada Tuhan selain Dia, yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

Orang berilmu kedudukannya setara dengan malaikat. Atau kembali ke sejarah awal menguasai, ketika Allah berfirman dalam al-Baqarah 30.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi’ mereka berkata ‘Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan mensucikan nama-Mu? Dia berfirman sungguh aku mengetahui apa yang kamu ketahui.”

Baca Juga:  Islam Wasathiyah Muhammadiyah Miliki 8 Kriteria

Khalifah dan Ilmu Pengetahuan

Khalifah itu adalah manusia, dan Allah menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi ini. Sebelum ke bumi diberi pembekalan pengetahuan tentang ilmu. Di surga diberi ilmu seluruh nama-nama yang ada dilangit dan di bumi (sehingga Adam paling mengetahui) kemudian disodorkan ke malaikat (malaikat tidak mengetahui karena hanya beribadah) (al- Baqarah 31).

Kemudian malaikat menyerah dan menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha bijaksana (al-Baqarah 32).

Karena Adam mempunyai ilmu maka malaikat bersujud kepada Adam. “Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada malaikat. Sujudlah kamu kepada Adam! Maka merekapun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.” (al-Baqarah 34).

“Sujud penghormatan bukan sujud ibadah. Kelebihan orang berilmu, Allah memberi penghargaan kepada orang-orang yang berusaha mencaeri ilmu, dan menggunakan potensi ilmunya untuk dimanfaatkan dan disampaikan,” ungkap Ustadz Fanani.

Jika ilmu tidak disampaikan maka kekhalifaan akan berhenti sampai di sini. Pentingnya mencari ilmu sering kita dengan dalam syair “Carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.”

Bekal Indra Manusia

Itu, sambung dia, karena Allah menciptakan indra mata untuk melihat, menganalisis. Indra pendengaran untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Untuk menambah potensi-potensi ilmu.

Dan hanya manusia yang bisa mencari dan mendapatkan ilmu. Hanya manusia yang mempunyai kemampuan membuat konsep, mendalami, mengevaluasi, dan bisa mengambil yang lebih baik.

Jika ada manusia yang tidak menggunakan potensi ilmunya dengan benar maka seperti yang dijelaskan didalam al-Araf 179. “Dan sungguh akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunya telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah atau lalai.”

“Pentingnya orang selalu menambah ilmu, orang selalu mempunyai daya bertanya, kritis. Karena kita mempunyai kemampuan untuk berfikir. Belajar tidak hanya membaca. Berdialog dengan santun bisa menambah potensi ilmu, menambah ilmu baru dan mempermudah menuju masuk surga,” kata dia. (*)

Penulis Ian Ianah. Editor Mohammad Nurfatoni.