Kemenangan Islam Kapan Datang, Khutbah Jumat Terbaru

Ilustrasi freepik.com

PWMU.CO – Kemenangan Islam kapan datang? Pertanyaan itu mungkin muncul dari rasa pesimisme. Tapi janji Allah pasti. Orang-orang beriman pasti diberi kemenangan.

Hanya saja kita tidak sadar bahwa kemenangan itu nyata. Khutbah Jumat terbaru oleh Ustadz Abdullah Nasir ini menjelaskan tiga bentuk kemenangan Islam.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ، فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. قال تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ. ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ

Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

Setiap Muslim tentunya menginginkan Islam meraih kemenangan. Gambaran yang sempurna tentang kemenangan Islam digambarkan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.“ (Ash-Shaf: 9)

Gambaran ini kita dapati pada dakwah dan jihad Rasulullah SAW. Sebelum beliau wafat, Islam sudah menyebar ke seantero Arab. Berhala-berhala disingkirkan dari kota Makkah. Syariat Allah hadir dalam kehidupan nyata. Sebuah potret kemenangan ideal yang sangat didambakan umat Islam hari ini.

Akan tetapi potret di atas bukan satu-satunya bentuk kemenangan yang disebutkan di dalam al-Quran. Banyak potret-potret kemenangan yang digambarkan di dalam al-Quran. Apabila kita salah memahaminya akan berakibat kepada rusaknya dakwah dan perjuangan Islam.

Sebuah ilustrasi sederhana, ketika seorang dai berdakwah: memahamkan kepada umat hakikat Islam, menjelaskan kepada umat tauhid, menerangkan halal haram di tengah masyarakat, mengajak umat untuk berjuang dan berjihad menegakkan Islam.

Namun seiring berjalannya waktu, dakwahnya tidak kunjung diterima. Masyarakat tidak ada yang mengikutinya. Pengikutnya juga tidak banyak sehingga tanpa sadar dia berpikir dakwahnya gagal. Dia tidak diberi kemenangan.

Allah Akan Menangkan Kaum Beriman

Suatu hal yang harus kita yakini adalah Allah SWT pasti akan memenangkan orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami memenangkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Ghafir: 51)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah akan menolong dan memenangkan orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat.

Akan tetapi jika kita melihat perjalanan dakah para Nabi dan orang-orang yang diceritakan di dalam al-Quran, kita mendapati bahwa ada di antara mereka yang dikejar dan dibunuh oleh kaumnya seperti nabi Yahya.

Lantas seperti apa kita memahami kemenangan dan bantuan di dunia yang Allah janjikan kepada Nabi Yahya? Bukankah ayat di atas bersifat umum kepada seluruh Nabi?

Ada pula Nabi Ibrahim yang harus terusir dari kaumnya karena beliau mendakwahkan tauhid dan menentang kesyirikan yang dilakukan oleh kaumnya. Ada Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun namun hanya sedikit yang beriman kepadanya.

Bisakah bisa kita katakan bahwa dakwah para Nabi di atas tidak mendapatkan kemenangan dalam dakwah dan perjuangannya?

Apakah para nabi tersebut kurang paham tentang kondisi mad’u sehingga tidak bisa menarik kaumnya untuk beriman? Tentunya tidak. Karena mereka adalah manusia-manusia yang dibimbing oleh wahyu. Manusia-manusia yang dituntun oleh Allah SWT. BACA sambungan di halaman 2: “Pelajaran Dakwah Ashabul Kahfi” …

Ilustrasi freepik.com

Pelajaran dari Dakwah Ashabul Kahfi

Terkadang kemenangan dakwah itu tidak hanya diukur dengan banyaknya pengikut. Atau seringnya seorang diundang ke tabligh-tabligh. Diundang dari satu majelis taklim ke majelis taklim yang lain.

Kita mungkin ingat kisah Ashhabul Kahfi. Jumlah mereka tidak sampai sepuluh orang. Mereka mengasingkan diri ke gua dan akhirnya mereka ditidurkan oleh Allah SWT 309 tahun.

Di dalam al-Quran Allah SWT menyifati Ashahabul Kahfi dengan sebutan “Fityatun amanu birabbihim”, sekelompok pemuda yang beriman kepada Rabbnya.

Allah SWT berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Artinya: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

Ketika dakwah mereka tidak disukai penguasa, mereka tidak mundur dan mengatur siasat atau bermanuver agar mereka tetap bisa berdakwah dengan aman dan tidak dimusuhi penguasa.

Tidak, mereka tidak melakukan itu. Mereka tidak bergeser dari mendakwahkan iman, yang berakibat nyawa mereka menjadi taruhannya. Yang kemudian perjalanan iman mereka berakhir di gua.

Jika melihat dalam kacamata yang sempit kita mungkin akan mengatakan bahwa perjuangan Ashhabul Kahfi gagal, karena tidak ada yang mengikuti mereka. Secara jumlah pun mereka kalah jauh.

Akan tetapi kisah mereka diceritakan di dalam al-Quran, mereka bukan Nabi, mereka hanyalah segelintir orang yang berusaha memperjuangkan iman ketika kesyirikan merajalela. Itulah kemenangan mereka. BACA sambungan di halaman 3: “Tiga Bentuk Kemenangan Islam” …

Ilustrasi freepik.com

Tiga Bentuk Kemenangan Islam

Syaikh Nashir Al-Umar menjelaskan bahwa di dalam al-Quran ada berbagai macam bentuk kemenangan. Di antaranya:

Berkuasa dan Mampu Mengalahkan Musuh Islam

Ini adalah potret pertama kememnangan Islam. Kemenangan seperti ini Allah anugerahkan kepada Nabi Daud dan Sulaiman.

Allah SWT berfirman:

وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ

Artinya: “Dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah.” (al-Baqarah: 251)

Begitu pula Nabi Musa. Allah berikan kemenangan jenis ini. Kemenangan risalah dan kemenangan pengusung risalah.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

Artinya” “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikutpengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (Al-Baqarah: 50)

Allah Binasakan Musuh-musuh Dakwah

Tidak seperti kondisi di atas yang Allah berikan kekuasaan dan kemenangan nyata atas musuh-musuh Islam. Kemenangan Islam jenis ini Allah berikan kepada beberapa Nabi yaitu dengan Allah azab kaumnya.

Sebagaimana Nabi Nuh yang Allah timpakan banjir bah kepada kaumnya.

Ada Nabi Luth yang Allah hujani kaumnya dengan batu panas lantaran prilaku homoseks yang mereka lakukan. Sedangkan Nabi Luth diselematkan oleh Allah SWT dari Azab tersebut.

Ada kaum Tsamud yang Allah binasakan karena ingkar kepada Nabi Sholih. Mereka kufur dan menyemblih unta terlarang. Maka Allah turunkan kepada mereka Guntur keras yang membinasakan mereka.

Kemenangan yang Terlihat seperti Kekalahan

Terbunuh, terusir, terzalimi dan terus mendapat intimidasi nampak seperti sebuah kekalahan. Akan tetapi bisa jadi hal-hal tersebut adalah kemenangan Islam.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (Ali Imran: 169)

Dan di dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa para mujahid itu menunggu salah satu dari dua kebaikan. Baik itu kemenangan ataupun mati syahid di jalan Allah.

Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

Dengan beberapa potret kemenangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemenangan Islam itu tidak diukur dari capaian-capaian fisik. Akan tetapi kemenangan itu diukur dengan kesabaran dalam menapaki manhaj rabbani. Tidak terpengaruh oleh godaan-godaan syahat dan tidak terkotori oleh syubhat yang dapat mengeluarkan kita dari manhaj rabbani.

أَقُوْلُ قَوْلِىْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِىْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَأَسَتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

BACA sambungan di halaman 4: “Khutbah Kedua” …

Ilustrasi freepik.com

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ .وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَٓائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَٓا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالّميْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَناَ هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً وَاجْعَلْ تَفَـرُّقَناَ مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُـوْمًا وَلاَ تَدَعْ فِيْناَ وَلاَ مَعَنَا شَقِيًّا وَلاَ مَحْرُوْمًا. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.  اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ. رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Editor Mohammad Nurfatoni. Naskah ini pernah dimuat Majalah Matan.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.